
Setelah Leon mengantar Sora kembali ke kediaman Rassam dia kembali ke kantor atas perintah Aaron.
Leon berdiri menunggu Aaron yang sedang sibuk menandatangani dokumen yang di bawa oleh Fredy.
"Kau tetap di sini." Ucap Aaron pada Fredy.
Setelah selesai menandatangani dokumen Aaron bertanya pada Leon.
"Apa ada yang terjadi?
"Tidak ada tuan,tapi ada hal lain yang akan saya sampaikan."
"Tadi saat saya menemani nyonya berbelanja,saya bertemu dengan Calista Alves."
Mendengar hal itu wajah Aaron terlihat serius,ada pertanyaan yang tersirat di wajahnya,namun Leon mengerti arti sorot mata Aaron.
"Tuan tenang saja,dia tidak mengenali saya dan nyonya."
"Saya yakin jika Calista Alves berada di kota ini,pasti dia akan melakukan sesuatu." Terang Leon.
"Aku mengerti." Jawab Aaron.
"Fredy kau awasi proyek Phelps,apa Calista ada hubungannya dengan proyek ini."
"Leon." Panggil Aaron.
"Ya tuan Aaron."
"Apa kau mengetahui keberadaan kakak mu?" Tanya Aaron.
"Kakak saya?"
Aaron hanya mengangguk sambil mengetuk ketuk meja kerjanya dengan pena.
"Maaf saya tidak mengetahui keberadaannya,dia..."
Aaron menunggu ucapan Leon yang terhenti dengan menatapnya penuh tanya.
"Terakhir dia menghubungi saya sekitar tiga minggu yang lalu,dia berkata pada saya sedang
berada di kota Portland." Terang Leon.
"Jika kau mendengar keberadaan Kakak mu,kau hubungi dan bawa dia padaku."
"Baik tuan Aaron."
Setelah itu Leon pergi meninggalkan Aaron dan Fredy.
"Tuan muda apa kita perlu mengatakan pada Leon tentang kakaknya." Tanya fredy.
"Temukan kakaknya dulu,aku ingin memastikan siapa yang menyewa dia untuk menculik Sora."
"Kau tau semua keluarga Alves bekerja dengan cara kotor untuk melakukan keinginan mereka."
"Itu benar tuan muda."
"Tapi bukankah sudah jelas dan pasti penculikan Nyonya semua mengarah pada keluarga Alves."
"Tak usah terburu buru,kita bisa memanfaatkan kakak beradik ini." Jelas Aaron.
"Dret dret dret."
Ponsel Fredy yang di tangannya bergetar,segera dia melihat isi pesan yang baru saja masuk dan memperlihatkan pesan itu pada Aaron.
"Kau masukan orang ini ke tim 1,ambil dua orang agar dia tak curiga."
"Awasi setiap gerak geriknya."
Perintah Aaron.
"Baik tuan muda."
"Kau beritahu pak Davin dan Jean untuk datang ke ruanganku sekarang."
Fredy mengangguk,mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pak Davin dan Jean.
Setelah di telpon oleh Fredy,pak Davin dan Jean bergegas melangkah menuju ruangan Aaron.
"Ceklek."
Pintu ruangan Aaron terbuka,pak Davin dan Jean memasuki ruangan Aaron.
Mereka di persilakan untuk duduk di sofa.
Fredy memberikan data pegawai melalui chat ponsel.
"Bella Garcia."
"Lucy Louvan."
"Ini siapa ya pak?" Tanya Jean.
"Inikan anak tim dua." Jawab pak Davin.
"Apa dia berhubungan dengan kebocoran proyek Phelps?"
"Benar."
"Lucy Louvan adalah anak dari pengasuh keluarga Alves."
"Beberapa hari selama proyek Phelps di kerjakan,dia menemui salah satu keluarga Alves."
"Masukan anak ini ke tim satu."
"Dan satu orang lagi yang lainnya agar dia tak curiga."
Jawab Aaron.
"Baik pak." Jawab Davin dan Jean.
Setelah mengetahui informasi itu pak Davin dan Jean juga Fredy keluar ruangan dan segera melaksanakan perintah Aaron.
Fredy memberikan dua formulir yang berisi data diri pegawai yang akan di masukkan ke tim satu.
"Kalian sampaikan saja,alasan perpindahan ini karna tim satu membutuhkan bantuan tenaga dari tim lain,maka dari itu perusahan meminta dua orang untuk membantu tim satu." Terang Fredy
Pak Davin dan Jean menganggukkan kepalanya tanda bahwa mereka mengerti.
Pak Davin berjalan ke arah ruangan tim dua untuk menyampaikan perintah dari Fredy,memanggil dua orang dan menyuruh mereka ke ruangannya, Fredy kembali melakukan pekerjaannya,sedangkan Jean menunggu di ruangan pak Davin.
Di ruangan pak Davin...
"Kalian berdua di perbantukan ke dalam tim satu,Jean yang akan memberi tugas pada kalian." Terang pak Davin.
"Baik pak." Mereka menjawab secara bersamaan.
Setelah itu mereka berdua mengikuti Jean menuju ruangan tim satu.
"Lucy selama di tim satu kau yang akan membantuku,sedangkan Bella membantu Vivi." Ucap Jean.
"Baik kak." Jawab mereka berdua.
***
Di Negara M..
Zander yang saat ini berjalan menuju pesawat untuk meninggalkan kota Mville,terbang menuju negara A dengan tujuan ke kota Oregon.
Dengan berpenampilan elegan bak foto model Zander mengubah penampilan dan identitasnya, agar keluarga Alves tak dapat menemukannya,sebelumnya dia selalu berpakaian seperti seorang mata mata yang selalu berpakaian serba hitam.
Zander duduk di dekat jendela pesawat,dalam kediamannya dia memikirkan sesuatu,yaitu mencari tahu tentang kematian Smith,adiknya.
Setelah terlepas dari incaran anak buah Eric Alves,Zander bersembunyi sementara waktu dan dirasa sudah aman dia segera meninggalkan kota M.
Zander tak mengetahui jika Smith masih hidup dan mengganti namanya menjadi Leon.
Setelah beberapa jam akhirnya Zander sampai di kota Oregon.
Beberapa hari sebelumnya Zander mengirim email untuk melamar pekerjaan di M grup,sebagai kepala perencanaan dan pengembangan.
Zander memilih perusahaan M karna Aaron Markle adalah satu satunya orang yang secara jelas tidak mau berhubungan dengan keluarga Alves.
Dengan begitu keluarga Alves takkan bisa menyentuhnya,hal itu yang di pikirkan Zander.
"Walau aku berada di kota A aku harus tetap berhati hati." Batin Zander.
Zander adalah mantan prajurit,karna ketidak adilan dia di pecat secara tidak terhormat,saat melakukan misi dia telah di jebak oleh kaptennya sendiri.
Karna dendam dan kebenciannya dia menjadi seorang pembunuh bayaran.
Misi yang dia terima adalah membunuh orang jahat,namun aksi yang terakhir dia lakukan karna ancaman dari nona muda keluarga Alves untuk menculik wanita yang bersama dengan Aaron Markle,jika tidak dia lakukan maka Smith akan mati.
***
"Tuan muda, ini adalah biodata dari Zain Ernest,besok dia akan mulai bekerja di sini." Ucap Fredy.
"Letakkan di situ." Pinta Aaron.
"Tuan muda ini sudah hampir larut malam,sebaiknya ada pulang."
"Mungkin Nyonya menunggu anda di rumah."
Aaron menghentikan penanya dan menatap Fredy.
"Astaga aku seharian lupa menghubungi istriku."
"Fredy tolong kau rapikan dokumen di atas meja."
Fredy tersenyum melihat Aaron yang terlihat cemas,sudah beberapa kalinya dia melihat Aaron yang seperti itu jika berhubungan dengan Nyonya Sora.
Aaron bergegas berdiri dari kursinya,dan terburu buru keluar sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jas nya.
Di dalam lift menuju lantai bawah,Aaron membuka layar ponselnya.
"Dua belas panggilan tak terjawab."
"S**l napa aku bisa lupa sih.
"Gara gara tadi siang ada rapat ponsel aku matikan."
"Sora marah gak ya?"
Batin Aaron.
"Huft." Aaron menghela nafasnya.
Sesampai di basement Aaron berlari kecil menekan tombol kunci mobilnya,dan segera masuk ke dalam mobil.
Terlihat Aaron mengemudikan mobilnya dengan terburu buru.
"Apa aku telpon aja ya?"
"Tapi inikan udah larut malam,juga aku kan perjalanan pulang ke rumah."
"Ah mungkin juga dia udah tidur."
Batin Aaron yang ada sedikit kekhawatiran jika Sora marah dan akan mempengaruhi perkembangan janinnya.