
Zalina pikir dengan menghilangkan jejak umi Rosita tidak akan marah. Namun, semua usahanya bersama Sean tadi malam seakan sia-sia karena pagi buta yang umi Rosita bahas pertama kali adalah panci kesayangan itu.
Padahal mereka sudah menyimpannya amat rapi, Zalina bahkan menyembunyikan panci itu di bawah kolong tempat tidur. Anehnya, umi Rosita tahu kejadian semalam. Sudah jelas abinya yang angkat bicara, benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Itu mahal loh, Na ... kamu tahu, 'kan umi harus rayu abimu dulu agar dapat panci merk itu, malah gosong."
"Tidak sengaja, Umi, besok mas Sean beli yang baru ya."
Biasanya umi Rosita cukup mudah dirayu, tapi anehnya untuk kali ini dia berbeda dan seolah kebal dengan penawaran Zalina. Mungkin yang menjadi penyebab suasana hatinya berubah bukan hanya karena panci, tapi yang lain juga.
"Kamu tu ya, sudah punya suami masak air masih gosong ... itu lagi buat apa alpukat dijadiin bubur mana ditinggal begitu saja? Susu dimana, sendoknya dimana kulitnya juga dimana!! Umi tu sudah lelah dari rumah Abrizam dan kamu makin buat kerjaan umi nambah, Astaghfirullah ini anak-anak hamba pada kenapa ya Allah."
Sepertinya kemarahan umi Rosita tidak hanya tertuju pada Zalina. Terdengar jelas jika dia juga kesal sepulang dari rumah Abrizam. Ya, wajar saja jika umi Rosita marah, terlebih lagi meja makan memang belum Zalina bereskan semalam.
Uminya bukan lagi hanya perkara panci, tapi sepertinya sudah bicara soal hati. Zalina tidak berani lagi bicara macam-macam, dia hanya bisa menunduk dan memotong bawang merah seperti yang umi Rosita perintahkan.
Permintaan maaf sudah dia utarakan, sudah Zalina janjikan pula untuk mengganti panci yang dia rusak dalam waktu dekat. Namun, hal itu tidak membuat omelannya berkurang sedikit saja. "Hayo bawangnya dikupas dulu, Zalina!! Astaghfirullah kenapa lagi anak umi yang satu ini? Apa karena terbiasa di rumah mertua tidak diizinkan ke dapur? Hm?"
"Ma-maaf, Umi."
Umi Rosita menggeleng pelan, entah apa yang terjadi dengan putrinya hingga seolah kehilangan arah seperti ini. Kepalanya sudah cukup sakit karena melihat pertikaian Ayunda dan Abrizam semalam, jelas saja melihat Zalina kepalanya kembali dibuat nyut-nyutan.
"Zalina, umi boleh bilang sesuatu, Nak?"
"Iya, boleh, Umi."
Setelah cukup lama terdiam, umi Rosita kini membuka pembicaraan dengan suara yang sedikit lebih lembut. Zalina bingung dan kini menoleh ke arah uminya, terlihat sangat serius dan bisa dipastikan akan penting.
"Kakakmu terlilit hutang," tutur umi Zalina seraya menghela napas panjang, jika hanya perkara panci kepalanya mungkin tidak akan sesakit ini.
Deg
Jantung Zalina seolah berhenti sejenak. Sejak dahulu Zalina ketahui Abrizam tidak pernah berani berhutang. Lagi pula, bukankah uang yang selama ini dia terima sudah sangat cukup? Keuangannya juga tampak stabil saja, lantas apa yang menyebabkan Abrizam sampai terlilit hutang.
"Hutang?" Kening Zalina mengerutkan dahi, dia masih sedikit bingung mendengar fakta ini.
"Apa?"
Jika Abrizam juga baru mengetahui hal itu, maka besar kemungkinan Ayunda yang melakukannya tanpa sepengetahuan Abrizam. Entah apa yang menjadi alasan Ayunda, karena jika Zalina lihat dibandingkan Agam, fasilitas yang Abrizam berikan pada istrinya dapat dikatakan mewah.
"Ayunda memijam uang dengan jumlah besar tanpa persetujuan Abrizam, dan tadi malam wanita itu baru berkata jujur karena rumah mereka hampir disita," tutur umi Rosita dengan dada yang kini naik turun, tanpa aba-aba air mata wanita paling sabar itu menetes juga.
"Astagfirullah."
Wajar saja tadi malam umi Rosita seperti hendak kesurupan. Ternyata masalahnya sebesar ini, seketika Zalina merasa berdosa karena lari dari tanggung jawab tadi malam.
Seperti yang Zalina ketahui, rumah kedua kakaknya murni pemberian kiyai Husain sebelum mereka menikah. Tentu saja tangisan umi Rosita adalah ungkapan sakit hatinya.
Masih dengan air mata yang membasahi wajah keriputnya, umi Rosita meratapi kebodohan Ayunda. Wanita itu nekat meminjam uang dari seorang lintah darat dengan menjadikan sertifikat rumah sebagai jaminannya.
"Na ... apa kamu bisa bicara pada Sean? Umi tahu selama ini memang sikap Abrizam sama sekali tidak dibenarkan, tapi umi mohon kemurahan hati Sean."
"Umi tenang, jangan terlalu dipikirkan nanti aku akan bicara pada mas Sean."
Hanya Sean yang paling memungkinkan bisa mengulurkan tangannya pada Abrizam. Tadi malam umi Rosita sudah membicarakan masalah ini, tapi mana mungkin mereka mampu membayar keseluruhan hutang Ayunda beserta bunganya.
Terlebih lagi, saat ini kiyai Husain tengah butuh biaya besar untuk pembangunan gedung pesantren yang baru setengah jalan. Gaji para tenaga pengajar dan lainnya tentu harus kiyai Husain utamakan.
Tidak berselang lama, keduanya kembali mendengar kericuhan dari rumah Abrizam. Sudah pasti Ayunda pelaku utamanya, dia yang sudah mencoba berpikir positif dan melarang Sean menggungjingkan wanita itu mendadak berubah dan seketika hanya prasangka buruk yang ada dalam diri Zalina.
"Menjauh dariku, Jallang!!" Langkah Zalina semakin cepat kala mendengar suara suaminya yang kini menggelegar, bisa dipastikan Sean sudah lebih dulu bergabung di sana.
"Mas Sean?"
.
.
- To Be Continued -