
Sora berjalan ke dalam rumah tanpa memperdulikan orang orang yang di laluinya,tak menghiraukan siapun yang memanggilnya.
"Ada apa dengan non Sora ya bi?"
Bi kana hanya menggelengkan kepalanya.
"Klik."
Sora menutup pelan pintu kamar,berjalan ke arah sofa dan melempar tas nya.
Dia merebahkan dirinya dan menutup matanya.
"Cup."
Sora membuka matanya setelah merasakan sentuhan di bibirnya.
Setelah membuka matanya sontak Sora memukul Aaron yang berada di atas tubuhnya.
"Sayang,sayang,tenang,kamu jangan seperti ini." Aaron berusaha menghentikan pukulan Sora.
Sora tetap memukuli Aaron tiada henti.
"Kamu sedang hamil,pliss sayang,sudah."
"Aku ngaku salah,oke." Bujuk Aaron.
Akhirnya Sora berhenti dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Siapa wanita itu?" Tanya Sora
"Wanita?"
Mendengar Aaron balik bertanya membuat kedua mata Sora melotot seakan melompat dari tempatnya.
"Sayang,kamu salah paham,bagiku Reyna bukan seorang wanita."
Mendengar Aaron yang tak segera menceritakan tentang Reyna,Sora beranjak dari duduknya.
"Sayang kamu mau kemana?" Aaron menarik tangan Sora dan menahannya agar tidak pergi.
"Apa yang harus aku percayai,mataku atau hatiku?" Ucap Sora.
Sora tetap beranjak dari Sofa dan berjalan keluar kamar.
Aaron yang melihatnya berusaha untuk meyakinkan Sora lalu dia berlari dan berdiri di pintu untuk menghalangi Sora pergi.
"Sayang plis,percaya ama aku,aku gak ada hubungan apapun dengan Reyna."
"Dia hanya teman masa sekolahku semenjak aku pindah dari negara M."
"Dulu dia anak yang tomboi,kelakuannya benar benar seperti seorang pria."
"Aku tak pernah menganggap dia sebagai seorang wanita."
"Hanya kamu... yang kuanggap wanita dalam hidupku." Aaron berusaha meyakinkan Sora.
Sora berpaling karna tak ingin mendengarkan Aaron berbicara.
"Sayang,dengerin aku."
"Aku hanya cinta sama kamu." Ucap Aaron sambil mengusap usap kedua pipi Sora.
Sora terhanyut dengan pengakuan cinta Aaron dan pelan pelan bibir mereka bersentuhan,Aaron ******* bibir Sora dengan lembut dan memeluknya dengan erat.
Tiba tiba Sora mendorong tubuh Aaron.
"Brukk."
Aaron terpental dan tertahan oleh pintu kamar.
"Sayang,bukankah kamu sudah gak marah?" Tanya Aaron.
Sora tetap diam dan melangkahkan kakinya untuk kembali duduk di sofa di ikuti Aaron yang duduk di sebelahnya.
"Baik,aku akan memaafkan dan percaya pada kamu,jika kamu ngijinin aku kembali bekerja." Ucap Sora.
"Enggak,kamu gak boleh bekerja,kamu sedang hamil,aku gak mau sesuatu terjadi dengan kamu maupun anak kita." Ucap Aaron.
"Terserah kamu."
"Jika itu mau kamu,jangan harap aku akan maafin kamu!" Ancam Sora.
Aaron diam dan berpikir sejenak.
"Jika wanita itu boleh bekerja di kantor mu,lalu kenapa aku tak boleh bekerja di sana?" Ucap Sora.
"Baiklah,aku akan mengijinkan kamu untuk bekerja."
"Tapi kamu harus menuruti apapun yang aku katakan."
Mendengar keputusan Aaron Sora tersenyum.
"Kamu udah gak marah kan?" Tanya Aaron memastikan.
Sora tersenyum sekali lagi dan menggelengkan kepalanya.
Sudah hampir satu jam lebih Aaron keluar dari kantor.
"Trililit trililit."
Ponsel Aaron berbunyi,dan langsung mengangkatnya.
"Tuan muda sesuai dengan perintah anda,saya sudah mengubah tempat pertemuannya sekarang." Ucap Fredy.
"Baik."
Tanpa berkata Aaron menggandeng tangan Sora dan mengajaknya keluar.
"Sayang kamu mau bawa aku kemana?" Ucap Sora yang kebingungan.
Aaron hanya diam dan menggenggam tangan Sora dari kamar sampai ke mobil.
...
Mobil berhenti di sebuah restoran yang sudah di persiapkan oleh Fredy.
"Sayang aku membawamu untuk bertemu dengan seseorang." Ucap Aaron.
"Dengan siapa?" Tanya Sora.
"Kau jangan marah,kau harus bersamaku sampai acara selesai." Pinta Aaron.
"???" Dalam pikiran Sora.
Sesampai di dalam restoran Aaron berjalan ke arah ruangan yang sudah di pesan,Aaron membuka pintu dan menarik tangan Sora dengan pelan untuk masuk ke dalam.
"Reyna?" Batin Sora.
Sora menghentikan langkahnya.
Aaronpun berusaha membuat Sora untuk terus melangkah dan mendudukkan nya di kursi.
Di meja makan sudah menunggu Reyna dan kakeknya.
Reyna menyambut dengan senyum angkuhnya,dan kakeknya memandang sora dengan wajah serius.
"Sayang aku gak ingin kamu salah paham."
"Ini Reyna dan kau sudah melihatnya tadi di kantor."
"Orang tua ini adalah kakeknya Reyna,kau bisa memanggilnya kakek Justo,dia teman dari nenekku."
"Mereka sudah aku anggap keluargaku."
Sora memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan menyambut mereka dengan bersalaman.
"Panggil aku Rey." Ucap Reyna.
"Sora." Ucap Sora singkat membalas perkenalannya pada Reyna.
"Rey,aku tak ingin ada kesalah pahaman pada istriku,ku harap ke depannya kamu bisa menjaga sikap dan perilakumu di kantor ataupun di luar." Terang Aaron.
"Hei!" Reyna menjawab dengan berteriak.
Semua yang berada di sana serentak memandang ke arah Reyna.
"Ehem." Reyna menurunkan volume suaranya.
"Sora jika aku telah membuat mu salah paham maafkan aku."
"Tidak,aku percaya dengan suamiku." Ucap Sora dengan senyum.
"Aku akan melupakan kejadian tadi siang,dan aku harap kita bisa menjadi teman."
"Tentu saja,aku dan Aaron adalah teman dan kau adalah istrinya,bukankah dengan begitu kau sudah ku anggap sebagai teman."
"Dan ku harap kau tak akan mempermasalahkan pertemananku dengan Aaron kan Sora?" Ucap Reyna.
"Sudah sudah Rey,selamat untukmu yang punya teman baru." Timpal kakek Justo
"Aku sudah lapar,sebaiknya kita makan dulu." Ucap kakek Justo untuk mencairkan suasana yang canggung.
"Tentu saja Rey,aku dan Sora saling mencintai,Sora tak akan mempermasalahkan pertemananku dengan siapapun,dengan kejadian ini aku akan lebih menjaga diriku." Ucap Aaron dengan senyum liciknya.
Dan Sorapun tersenyum puas dengan perkataan Aaron.
***
Sesaat sebelum Aaron sampai di kediaman Rassam.
Di dalam mobil yang melaju.
Setelah Aaron berkata pada pak Chow dan menutup telponnya,dia segera menelpon Fredy.
"Fredy,ubah tempat pertemuanku dengan pak tua itu ke restoran yang biasa aku datangi bersama istriku."
"Hubungi juga Reyna untuk menjemput kakeknya dan datang bersama."
"Baik tuan muda." Jawab Fredy di seberang telpon.
***
Malam harinya...
Di kamar...
Setelah Sora membersihkan wajahnya,dia menyusul Aaron ke tempat tidur dan merebahkan tubuh dan meletakkan kepalanya di atas bahu Aaron.
Aaron menyambut Sora dengan hangat,memeluknya dan mencium keningnya.
"Sayang kamu gak marah lagi kan?" Tanya Aaron.
"Marah?"
"Aku gak marah kok."
"Mm,bukankah tadi siang kamu..." Aaron baru tersadar jika kemarahan Sora tadi siang hanyalah sebuah trik yang sudah di rencanakan Sora.
"Kenapa?" Ucap Sora menggoda Aaron.
"Kau sekarang semakin pintar ya." Lirik Aaron,dan dengan tiba tiba menggelitik perut Sora.
"Hahaha."
"Auw..." Teriak Sora yang kesakitan.
"Ada apa sayang."
"Kakiku kram." Ucap Sora yang meringis sambil memegang pahanya.
Dengan sigap Aaron membantu melemaskan otot kaki Sora.
"Sudah baikan?" Tanya Aaron.
Sora mengangguk.
Aaron mendekati Sora dan memeluknya lagi,ada perasaan bersalah karena membuat Sora kesakitan.
"Sayang aku sudah gak apa apa."
"Kamu gak usah terlalu khawatir seperti itu." Ucap Sora.
Namun Aaron masih memperlihatkan kekhawatirannya.
"Eh sayang kita kan belum pernah pergi untuk honeymoon."
"Apa kamu mau bulan depan kita pergi?" Ucap Sora mengalihkan kekhawatiran Aaron.
Aaron menggeser tubuhnya dan menatap Sora.
"Sayang,kamu lupa ya."
"Saat kamu di rumah sakit kan kita berpura pura pergi honeymoon."
"Jika kita pergi lagi,apa kakek,ayah dan ibu tidak akan curiga?"
"Mm.. bener juga sih."
"Tapi aku ingin kita pergi honeymoon."
"Apa kamu gak mau." Ucap Sora dengan manja.
Aaron tersenyum dengan licik.
"Jika kamu tak sabar untuk pergi bulan madu,aku bisa melakukannya sekarang."
Lalu Aaron mencium bibir Sora dan beralih menyapu leher Sora.
"Sayang tunggu!" Sora mencoba menghentikan gairah Aaron.
Aaron tak menghiraukan perkataan Sora,dan membisikkan kata kata di telinga Sora.
"Sayang aku akan pelan pelan,oke."
"Aku tak akan menyakiti Arsa ama Arsi."
Aaron melepas piyama tidurnya dan mulai menyusupkan tangannya di dalam night dress Sora lalu meremas buah dada Sora.
Setelah puas meremasnya,Aaron melepaskan satu persatu pakaian yang masih menempel di tubuh Sora.
Aaron menciumi tubuh Sora,dan membuat Sora perlahan menikmati,perlahan tapi pasti Aaron mulai melakukan aksinya.
Dan akhirnya gairah Aaron terpuaskan.