Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Marah.


Keesokan harinya.


Razka akan segera pergi ke bandara. Hanya Gabriel dan Aria yang menemani karena Rafka tak bisa meninggalkan Keyla sendirian bersama anak-anak nya yang rewel.


"Hati-hati yah sampai di sana, jangan terlalu lelah. Oh ya, jangan berbuat sesuka hati mu. Ingat, di sana itu negara orang," ucap Rafka menasehati adiknya.


"Iya, bang." Razka masih memeluk si kembar di atas pangkuannya.


"Bang, boleh aku bawa salah satu dari mereka?" pinta Razka tak rela berpisah dengan kedua keponakan nya.


"Boleh," jawab Rafka tersenyum penuh arti.


"Tak jadilah," ucap Razka cemberut.


"Halah, cuma dua Minggu serasa satu tahun. Waktu akan berjalan dengan cepat, Razka. Mana tau sampai di sana kau dapat jodoh," ledek Gabriel tertawa.


"Ck, Abi tega sekali dengan ku."


"Sudah-sudah, nanti telat." Aria menengahi.


Razka pun dengan berat hati memberikan si kembar pada Rafka. Ia melambaikan tangannya lalu mencium keponakan nya.


"Sampai jumpa lagi, assalamualaikum." Razka pergi dengan masih melambaikan tangannya.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Rafka dan Keyla serentak sembari membalas lambaian Razka.


Razka pun pergi meninggalkan rumah yang damai menuju bandara yang akan membawa nya ke negara orang. Ia akan naik pesawat pribadi milik Gabriel, Razka bukanlah Rafka yang suka kesederhanaan. Razka adalah orang yang menikmati apa yang ia punya. Selagi ada, kenapa tak di nikmati saja.


"Sampai jumpa lagi bang Razka ^_^"


*******


Beberapa jam kemudian, Rafka dan Gabriel serta Aria tampak sedang mengobrol di halaman depan, sedangkan Keyla masih di kamar bersama buah hatinya.


Kalau mau turun nanti tak perlu susah-susah pakai tangga, kan ada lift dalam rumah itu.


Biasa holang kaya.


Di halaman depan, tampak ada kunjungan. Dua wanita datang dengan membawa rantang sembari tersenyum.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap dua wanita itu dengan serentak.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Aria dan lainnya.


"Maaf nih kami mengganggu, kami membawa rendang untuk keluarga buk Aria." Ternyata dia adalah wanita yang menyapa Aria dan Rafka waktu itu, namun ia datang dengan wanita muda di sampingnya.


"Ya Allah, kenapa repot-repot?" Aria menjadi tak enak hati dan mempersilahkan dua tamu itu untuk duduk bergabung dengan mereka.


"Tidak repot kok, buk. Kami kan baru pindah jadi ini itu sebagai tanda rasa syukur kami karena mendapatkan tetangga yang baik," jawab ibu itu.


"Saya ambilkan minum dulu yah," ucap Aria pergi ke dapur untuk membuatkan minum.


Sepeninggalan Aria, tampak dua wanita itu senyam-senyum membuat Gabriel dan Rafka saling tatap.


"Bagaimana keadaan istri kamu, nak?" tanya ibu itu pada Rafka.


"Alhamdulillah sudah membaik, Bu."


"Oh ya, kenalkan. Ini putri ibu, namanya Leni. Cantik kan?" ucap ibu itu sembari mengelus tangan putrinya yang tampak senyum-senyum sendiri.


"Oh...tid...ya." Rafka tampak bergidik merasakan aura dingin di sekitar nya.


"Ibu dengar istrimu belum bisa berjalan, pasti kau kesusahan."


"Tidak....


"Tak apa, ibu punya solusinya," sela ibu itu.


"Solusi? Apa itu?" tanya Rafka.


"Hm, sebenarnya kedatangan ibu kenari juga ada maksud. Ibu ingin meminta nak Rafka untuk meminang anak gadis ibu," jelas ibu itu dengan nada santai membuat Rafka tersedak air liurnya.


"Ibu tau kau sudah menikah, tapikan dalam Islam tak ada larangan berpoligami. Lagi pula ibu yakin kau bisa adil, hitung-hitung menjaga anak mu," sela ibu itu.


"Enak saja!" teriak Keyla dari balik pintu. Wanita itu sudah mendengar semuanya.


Dengan masih memangku dua anaknya ia meminta pelayan untuk mendorong kursi roda nya agar mendekat.


"Eh, nak Keyla. Sejak kapan nak Keyla ada di sini? Kebetulan sekali," sapa ibu itu.


"Halah, jangan banyak cingcong! Aku dengar semuanya, kau ingin suamiku berpoligami kan? Kenapa kau menikahkan anak mu dengan laki-laki single saja? Mengapa harus dengan suamiku!" tegas Keyla dengan mata melotot.


"Sayang, jangan esmosian. Kasihan anak kita," sela Rafka bergidik melihat reaksi Keyla.


"Apa? Mengapa aku tak boleh emosi, ha! Aku mendengar semuanya, itu hanya percakapan saja tapi hati ku sudah sakit! Dan sekarang kau bilang aku tak boleh emosi! Apa kau juga menyetujui permintaan mereka!" sahut Keyla benar-benar di luar kendali.


"Bukan begitu, Key. Aku hanya tak ingin emosi mu mengganggu kesehatan mu, jangan salah paham."


"Nak Keyla, jangan marah-marah dong. Coba dengarkan dulu perkataan ibu sampai habis," sela ibu itu masih terlihat tenang.


"Ibu kan cuma ingin meringankan beban mu, apalagi kau belum bisa berjalan, pasti sangat susah merawat anak-anak mu. Ibu hanya ingin menawarkan agar Leni menjadi adik madu mu, suamimu pasti bisa adil kan," lanjutnya.


"He, jangan sampai aku berkata kasar yah. Aku tak butuh adik madu, camkan itu! Aku bisa merawat anak ku meski kaki ku tak bisa berjalan untuk selamanya!" tegas Keyla.


"Dan satu lagi, kau dan anak mu! Tampang kalian sangat mirip, suka mengganggu milik orang lain! Kalau kau punya harga diri, maka nikahkan anak mu pada laki-laki lajang, bukan pada laki-laki yang sudah beristri apalagi sudah punya anak! Dan untuk mu, suamiku. Aku kecewa karena kau hanya diam saja! Itu menandakan kau ingin menimbang permintaan mereka. Aku kecewa," lanjut Keyla meminta pelayan untuk mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.


"Hei ada apa ini?" tanya Aria yang baru datang dari dapur. Keyla hanya diam dan memilih melewati Aria lalu meminta pelayan agar mendorong kursi rodanya sampai ke kamar.


"Nak Rafka....


"Cukup! Silahkan keluar dari rumah kami! Jangan pernah injakan kaki kalian kemari!" tegas Rafka.


"Tapi....


"Pergi sebelum aku benar-benar marah dan tak akan memandang kalian wanita atau bukan," ancam Rafka menatap tajam kedua wanita itu.


Dua wanita itu berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah serta rasa malu.


"Lain kali jadilah wanita yang bermartabat, jangan menjadi wanita yang tak tau malu," ucap Gabriel dengan nada dingin. Ia begitu muak melihat drama yang ada di depan nya tadi.


"Bawa juga rendang mu, mana tau ada jampi-jampi di sana," lanjut Gabriel.


Kedua wanita itu pun pergi meninggalkan rumah Gabriel dengan perasaan marah. Tentunya setiap orang marah pasti akan menyimpan dendam.


Kini tinggal bagaimana cara Rafka membujuk Keyla yang sedang marah. Laki-laki itu bukan tak mau berbicara tadi, ia hanya tak ingin kurang ajar pada orang tua meski orang tua itu sudah kelewatan.


_


_


_


_


_


...Namun tindakan mu sudah merugikan mu bang Rafka Berusahalah membujuk istrimu, semangat 💪...


maaf yah baru up, sebab author sedang gak ada paket internet 😭


Ini aja nulis nya di catatan dulu baru di salin kemari demi hemat. Sebab author belum chek IP author jadi harus hemat. Tinggal beberapa MB lagi😭


Inilah salah satu derita sang penulis😂😭😭


Maaf atas ketidaknyamanan nya.


Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.