Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Memang pengertian.


10.00


Sudah jam 10, tampak Rafka masih nyaman di kasurnya. Kalau sudah malas ia akan bermalas-malasan, namun kalau sedang rajin ia akan sangat rajin.


"Hei, bangunlah. Kau belum sarapan," ucap Keyla menoel-noel lengan Rafka. Laki-laki itu masih tertidur, Keyla pun khawatir karena suaminya belum juga makan.


"Hei." Keyla tak tau harus memanggil Rafka dengan sebutan apa. Suami? Ia sedikit canggung, ia memang pernah memanggil Rafka suamiku. Tapi, itu karena terdesak dan ada mau nya saja. Jika ia memanggil nama, ia takut tidak sopan. Entah sejak kapan Keyla memikirkan sopan santun.


Karena Rafka tak kunjung bangun, Keyla pun memilih untuk keluar dari kamar. Ia sangat bosan terus-menerus berjalan di dalam apartemen, ingin keluar ia tak berani.


"Apa aku meloncat saja yah dari jendela? Mana tau ada pria bersayap yang menyelamatkan ku," gumam Keyla memandang keluar jendela.


"Keyla, Keyla. Mana ada pria bersayap, yang ada itu kau akan di jemput malaikat maut," sambung Keyla terkekeh kecil.


"Ah, aku bosan. Kapan dia bangun dan mengajak ku jalan-jalan, aku ingin melihat pantai. Aku janji tidak akan kabur," rengek Keyla membaringkan tubuhnya di sofa.


Terdengar suara orang batuk dari kamar. Keyla langsung bangun dan pergi ke kamar, ternyata Rafka sudah bangun.


"Kau sudah bangun," Keyla langsung mendekati Rafka.


"Mau makan?" tanya Keyla, Rafka tampak mengangguk.


"Aku akan membawa nya," lanjutnya langsung pergi ke dapur. Rafka berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, nyeri di pinggang nya sudah reda. Ia ingin membasuh wajahnya terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian, Rafka sudah keluar dari kamar mandi. Terlihat di tepi ranjang Keyla sudah menunggu nya. Ia pun berjalan kembali menuju ranjang.


"Kau memasak apa hari ini?" tanya Rafka.


"Udang balado, kalau yang kuah-kuah aku belum bisa," jawab Keyla.


"Aku suap yah," lanjut Keyla.


"Aku bukan orang lumpuh, aku hanya kurang sehat saja," sahut Rafka.


"Pokoknya harus di suap," ucap Keyla.


Rafka menurut saja dan akhirnya makan dengan disuapi istrinya.


"Enak," puji Rafka sembari mengunyah.


"Terimakasih." Keyla merasa bangga karena masakan nya mendapat pujian lagi.


"Jangan banyak minum, nanti cepat kenyang. Kau baru saja makan dua sendok tapi sudah menghabiskan satu gelas air," gerutu Keyla.


"Aku haus."


"Makan dulu yang banyak baru minum," ketus Keyla sembari terus menyuapi suaminya dengan hati-hati.


Tak terasa nasi pun habis dan piring pun bersih. Keyla merasa bahagia karena masakannya di habiskan.


"Kau mau jalan-jalan?" tanya Rafka membuat Keyla tertawa kecil.


"Kau masih sakit, mana mungkin aku pergi jalan-jalan." Keyla berdiri berniat ingin pergi ke dapur untuk cuci piring namun Rafka menahannya.


"Ayo kita jalan-jalan, aku sudah sehat. Aku butuh bergerak agar cepat sehat," ucap Rafka.


"Tidak usah jalan-jalan, kau masih sakit. Kalau pinggang mu encok lagi bagaimana?"


"Hm, tidak akan. Ayo kita pergi jalan-jalan, kalau kau tak mau juga tak apa-apa. Aku akan pergi sendiri." Mendengar itu Keyla meletakkan piring yang ada di tangannya di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang.


"Yasudah, ayo." Rafka tertawa kecil melihat ekspresi Keyla yang sangat ingin jalan-jalan. Sebenarnya Rafka tak punya niatan untuk jalan-jalan, hanya saja ia tadi mendengar istrinya sangat bosan. Jadi, ia berinisiatif untuk mengajak istrinya jalan-jalan.


*****


Di dalam mobil.


Keyla tersenyum senang karena akhirnya bisa menghirup udara luar selain udara di apartemen. Ia menurunkan kaca jendela mobil lalu merasakan sentuhan angin dan polusi udara di kota.


Ia sangat bahagia karena suaminya bisa tau kalau ia bosan. Apalagi sebelum pergi Rafka membelikan beberapa cemilan untuk di makan dalam mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Keyla antusias.


"Pantai," jawab Rafka membuat Keyla semakin bahagia. Bagaimana bisa suaminya tau kalau ia ingin ke pantai.


Keyla tak sadar ketika ia merengek dan mengatakan bosan Rafka mendengar semua rengekan itu.


"Yes pantai," sorak Keyla senang.


Sesampainya di pantai. Tampak Keyla berjalan sembari menggandeng tangan Rafka. Ia begitu menikmati udara dan cuaca panas di pantai.


"Ayo duduk di bawah pohon," ajak Keyla menarik tangan Rafka. Laki-laki itu hanya menurut saja kemana Keyla membawanya.


Di bawah pohon.


"Cuacanya cerah sekali," ucap Rafka memandangi langit.


"Iya, enaknya berjemur."


"Mau minum air kelapa?" tawar Keyla sembari menunjuk penjual kelapa yang tak jauh dari mereka.


"Boleh, biar ku belikan."


"Tidak usah, aku saja yang beli. Nanti pinggang mu encok lagi," ledek Keyla membuka Rafka terkekeh.


"Baiklah," sahut Rafka mengedipkan sebelah matanya membuat Keyla tertawa.


"Uang," pinta Keyla. Wanita itu bahkan tak punya uang sepeser pun.


Rafka mengeluarkan dompet lalu memberikan nya pada Keyla.


"Aku minta uang malah di berikan dompet," gumam Keyla membuka dompet Rafka lalu mengambil uang selembar.


"Ini, aku akan membeli air kelapa nya. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana," ucap Keyla memberikan kembali dompet Rafka lalu pergi membeli kelapa muda.


Sepeninggalan Keyla, tiba-tiba ponsel Rafka bergetar. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku lalu menerima panggilan dari orang suruhan Abi nya.


"Assalamualaikum," ucap Rafka memberikan salam.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, tuan. Pria itu ada di sekitaran anda, kami lihat dia terus mengamati anda dan nona muda."


"Kau sudah mendapatkan identitas nya?" tanya Rafka tenang.


"Sudah, tuan. Akan saya kirimkan ke anda," jawab orang itu.


"Sudah, tuan."


Rafka langsung membuka pesan yang di kirim orang suruhan Abi nya. Di sana terdapat biodata seorang pria yang di duga terus mengamati nya.


Tampak Rafka menatap ke arah istrinya yang masih memesan kelapa. "Tetap awasi saja, kalau dia hanya diam dan mengamati biarkan saja. Kalau dia mencoba menyerang ku atau istriku barulah kalian turun tangan," ucap Rafka.


"Baik tuan."


Panggilan terputus, Rafka kembali menatap istrinya yang datang dengan dua batok kelapa. Terlihat senyuman ceria di wajah Keyla.


"Ini kelapanya," ucap Keyla memberikan satu kelapa muda pada Rafka.


"Kenapa lama?" tanya Rafka lembut.


"Kau tau, penjual nya mencoba menggoda ku. Dia bertanya-tanya dengan siapa aku kemari, siapa suamimu, mana suamimu. Udah tua gatal pula tuh," oceh Keyla.


"Jangan ngambek dengannya, karena dia tak bisa memberikan mu eskrim," ucap Rafka mengelus kepala Keyla.


"Yasudah aku ngambek dengan mu saja, biar di belikan eskrim," sahut Keyla tertawa kecil.


Tanpa di sadari, dua tangan mengepal melihat Keyla yang tertawa bahagia bersama Rafka.


"Kau berubah, key!" batin orang itu sembari terus menatap tajam pada dua insan yang masih tertawa bersama.


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.