
Seperti yang Zalina duga, kedua orangtua menerima dan memaklumi kehamilannya. Bukan tanpa alasan, keluarga kiyai Husain memang dikenal sebagai seseorang yang lurus-lurus saja. Namun, bukan berarti mereka buta terkait kehidupan di dalam penjara.
Terlebih lagi, Zalina sempat meminta izin pada uminya sebelum nekat mengikuti saran Ameera sewaktu Sean di penjara. Saat itu, umi Rosita tidak melarang niat baik Zalina, dia justru mendukungnya dan menganggap apa yang Zalina lakukan sebagai bentuk bakti terhadap sang suami.
Kini, tanpa terduga belum lama Sean bebas, Zalina dipastikan mengandung. Tidak ada yang salah sama sekali, tidak ada pula keraguan karena janin dalam rahim Zalina bisa dipastikan darah daging Sean.
Tidak hanya keluarga Zalina saja yang bahagia, melainkan keluarga Sean juga. Belum juga lima menit Sean mengirimkan foto alat tes kehamilan itu ke grup keluarga, ucapan selamat dari anak cucu Ibra sudah membanjiri keduanya.
Jika Zalina berpikir mereka hanya akan memberikan selamat, jelas saja salah. Karena kini wajah Zalina benar-benar memanas kala membaca obrolan keluarga suaminya.
"Ah jadi kemarin garisnya benar-benar miring, Kak?" - Sohibnya Fizi (Eshan).
"Hasil kerja dimana, Sean? Penjara?" - Hudzai's Daddy.
"Masih ditanya ... tentu saja hasil dari bilik anu." - Santan Instan (Lengkara).
"Si Kara dodol, ada papa sama om Syakil di sini. Btw yang mana, Kak? Yang terakhir kali dijenguk ya?" - Biji buah naga (Ameera).
"Selamat adikku Zalina semoga janinnya sehat dan kuat. Jangan sakit ya, Sayang ... kalau mau sakit abinya saja jangan uminya." - dr. hasil patungan.
"Sinting!! Mereka sedang mengejekku atau apa?" umpat Sean menatap kesal dirinya yang mendadak jadi candaan saudaranya.
Zalina terkekeh mendengar umpatan sang suami. Beruntung saja mereka sudah berada di dalam kamar, jika di hadapan kiyai Husain mungkin Sean sudah mendapat wejangan panjang lebar.
Sean menutup ponselnya segera, dia tidak ingin terlalu lama berbincang dengan saudaranya. Pria itu beralih menatap sang istri yang sejak tadi hanya diam menemani Sean yang sibuk membalas serbuan keluarga besarnya.
Mikhail yang sempat mengomel karena buah hati Sean masih menyusu, Zia yang mengancamnya jika sampai menyakiti Zalina dan masih banyak lagi. Kepala Sean mendadak panas seolah mau pecah, padahal hanya pesan teks.
Bayangkan saja jika dia memberitahukan kabar baik itu secara langsung, besar kemungkinan Sean harus ke rumah sakit terdekat setelahnya.
"Zalina, kamu kenapa masih jaga jarak? Masih bau ya?"
Zalina mengangguk pelan, agaknya firasat Sean benar-benar akan terjadi. Padahal, semalam Sean sudah merasa sedikit lega kala Zalina tidak menolak ketika dia peluk. Nyatanya, perasaan Zalina masih sama.
Sama sekali dia tidak berbohong, aroma durian itu masih melekat di hidung Zalina. Meski beberapa saat lalu Sean sudah mandi, tetap saja dia menolak untuk dekat-dekat suaminya.
Susah payah dia menjerat Zalina dalam perjanjian palsu kemarin, kini sang istri didekati saja enggan. Sean hendak berlalu pergi, mungkin dengan cara itu Zalina bisa benar-benar nyaman.
Namun, anehnya dia merengek dan meminta Sean tetap berada di hadapannya. Jelas hal ini semakin menyiksa, Zalina hanya enggan didekati, bukan berarti bersedia Sean tinggal pergi.
"Ya Allah, Na ... terus mas harus bagaimana?"
Disentuh enggan, tapi benar-benar ditinggal Zalina tidak rela. Terpaksa, Sean menuruti kemauan sang istri, tetap dekat namun harus menjaga jarak. Padahal, ketika berada di dekat Zalina pria itu tidak mampu menahan diri sebenarnya.
Sepanjang hari, Sean hanya memandangi Zalina dari jarak beberapa meter. Baru juga hari pertama, tapi Sean sudah seperti akan gila. Beruntung saja, saat ini kedua buah hatinya mengambil alih rasa sepi Sean.
Kedua pengasuhnya tampak mengerti keadaan sang majikan. Mbok Ratri tidak lagi membatasi Sean bermain bersama Habil, paling juga putra Sean itu menangis.
"Habil mau punya adik tahu, abi jago, kan?" tanya Sean seraya memangku putranya, tampak si gembul itu sama sekali tidak peduli dengan kesombongan Sean.
"Hei, kenapa diam saja? Kamu harusnya ucapkan selamat pada abi ... tos dulu, kita sesama pria harus bersatu dong."
"Brrbrrbb ...."
"Ih jorok, kenapa begitu mainnya?" Sean mengusap pelan bibir dan dagu Habil yang sudah membasah akibat sang putra memainkan bibirnya.
Cukup banyak yang Sean lewati, mungkin Habil memang belum bisa merasakan kenyamanan yang nyata pada Sean. Terlebih lagi, abinya ini kerap kali menyakiti dan melakukan hal-hal yang membuatnya menangis.
"Sayang, mereka tetap bisa ASI walau kamu hamil?" tanya Sean membuyarkan lamunan Zalina yang sejak tadi memandangi sang suami.
"Insya Allah, Mas ...."
"Masih kuat? Ada baiknya disapih saja, Na."
"Aku tidak tega, Mas," ucap Zalina sembari mengusap pelan mengecup puncak kepala Iqlima yang tertidur dalam pelukannya.
"Mas juga sebenarnya, tapi mas khawatir sama kamu, Na ... Habil stop nen sama umi, paham?"
"Eeeeiih!!" pekik Habil tiba-tiba seraya mendaratkan tangan gempalnya tepat di bibir Sean.
Jiwa pemberontaknya sudah tertanam sejak dini, untuk pertama kali Zalina terbahak melihat pertikaian kedua pria yang berada di hadapannya itu.
"Abi serius, Sayang ... Habil mau punya dedek, jadi Habil nen sama abi saja, abi juga punya loh," ucap Sean seraya mengangkat bajunya hingga ke dada.
.
.
- To Be Continued -