
Sesampainya di apartemen, Rafka berjalan tanpa menarik lengan baju Keyla, namun wanita itu tetap mengikutinya dari belakang. Sesampainya di kamar, Rafka meletakkan tas kerjanya lalu pergi ke kamar mandi. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Sedangkan Keyla memilih membuka jilbabnya lalu gamis dan menggantinya menjadi daster selutut.
Keyla tampak memilih duduk di atas ranjang sembari menunggu Rafka keluar dari kamar mandi. Entah mengapa ia merasa tak enak hati karena ketahuan kabur.
Beberapa menit kemudian, Rafka keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek di atas lutut berwarna hitam dan kaos lengan pendek warna hitam.
Dengan rambut yang masih basah, membuat penampilan laki-laki itu terlihat seksi dan wow, wkwkwkwkwk.
Melihat itu Keyla memalingkan wajahnya, pipinya seketika memerah.
"Pergi mandi lah," kata Rafka sembari berjalan menuju sofa.
"Kau masih marah?" tanya Keyla menyusul suaminya duduk di sofa.
"Untuk apa?" tanya Rafka balik.
"Karena aku berusaha kabur," jawab Keyla.
"Oh."
Mendengar Rafka yang mengatakan oh, Keyla pun berinisiatif memeluk lengan Rafka.
"Jangan marah yah," pinta Keyla menatap wajah suaminya yang tampan. Rafka menatap lurus ke depan, tak ada raut wajah marah hanya ada raut wajah menggemaskan karena laki-laki itu menggembungkan pipinya.
"Kau menggemaskan," ucap Keyla sembari mencubit pipi Rafka.
"Kau bau," kata Rafka membuat Keyla langsung memundurkan tubuhnya dan mencium aroma badannya.
"Iya, aku bau ketek." Batin Keyla malu.
"Aku akan segera mandi dan wangi, tunggu aku." Keyla langsung bergegas menuju kamar mandi. Ia akan menghabiskan satu botol sabun hari ini karena bau badannya.
Drrrrttt
Drrrrttt
Suara getaran ponsel Rafka. Laki-laki itu langsung menerima panggilan dari nomor orang kepercayaan Abi nya.
"Assalamualaikum," ucap Rafka memberikan salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, tuan. Apa anda sudah tiba di apartemen dengan selamat?" tanya orang itu.
"Alhamdulillah, sudah."
"Seorang laki-laki tampak mengamati gedung apartemen yang anda tempati," kata orang itu.
"Mungkin dia sedang ingin bertemu orang yang menyewa apartemen di sini juga," sahut Rafka berbaik sangka.
"Sayangnya laki-laki itu datang bertepatan dengan kedatangan anda," jelas orang itu.
"Begitu yah, coba cari tau identitas nya. Jangan membuat keributan, kalau kalian sampai membuat keributan pulang saja ke rumah Abi dan pergi cuci piring," ucap Rafka dengan nada santai.
"Siap, tuan. Saya akan mengirimkan identitas nya nanti, kalau begitu saya akhiri panggilan nya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap orang itu.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."
Tut
Tut
Tut.
Rafka meletakkan ponselnya kembali di atas meja lalu kembali menatap ke arah jendela. Sepertinya ia harus memesan makanan, ia sedang malas memasak sekarang. Ia pun meraih kembali ponselnya lalu memesan makanan melalui aplikasi.
Selang beberapa menit suara bel berbunyi membuat Rafka langsung berjalan keluar kamar dan membuka pintu. Ternyata pesanannya sudah datang, cepat juga pikir Rafka. Lebih cepat daripada Keyla yang belum selesai mandi sedari tadi.
Rafka meletakkan makanan yang ia pesan di atas meja dapur, sekarang masih jam 5 sore. Ia belum mau makan.
Rafka kembali ke kamar bertepatan dengan Keyla yang keluar dari kamar mandi. Keyla keluar dengan hanya menggunakan handuk saja. Hal itu membuat Rafka langsung menarik keluar tubuhnya yang baru dua langkah masuk ke kamar.
Melihat itu Keyla langsung tertawa kecil, suaminya masih malu-malu ternyata.
****
20.30
Rafka dan Keyla tampak sudah berada di meja makan, ini sudah sangat telat untuk makan malam bagi Keyla. Wanita itu mengunggu suaminya makan dulu barulah berani makan juga. Walau Rafka berulangkali menyuruhnya untuk makan, tapi Keyla tetap ingin makan jika suaminya makan juga.
Keyla tampak menikmati makan malamnya yang enak karena ada ayam di sana. Ia memakan semua menu berbahan dasar ayam, sedangkan Rafka memakan menu ikan.
Rafka tampak sudah selesai makan begitu juga dengan Keyla. Setelah itu Keyla langsung mencuci piring sedangkan Rafka membersihkan meja makan.
"Ada apa?" tanya Keyla. Rafka memilih duduk sembari masih memegang pinggang nya.
"Tolong berikan aku air putih," pinta Rafka pelan. Dengan cepat Keyla mengambil air putih dan memberikannya pada Rafka.
Rafka meneguk air putih dengan pelan lalu memberikan gelas bekas minumnya pada Keyla.
"Terimakasih," ucap Rafka.
Laki-laki itu tampak akan berdiri, Keyla langsung menggandeng tangan Rafka karena melihat suaminya masih memegangi pinggangnya.
"Berbaringlah, mungkin kau kelelahan. Biar ku pijit yah," ucap Keyla membantu Rafka berbaring.
Rafka tampak menggeleng lalu memilih menarik selimutnya.
"Tolong letakan air putih di atas nakas, yah. Jangan lupa matikan lampunya," ucap Rafka pelan. Keyla pun mengangguk lalu pergi ke dapur untuk mengambil air putih dan meletakkannya di atas nakas. Tak lupa ia mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
Terlihat Rafka sudah menutup matanya, entah sudah tertidur atau hanya sekedar menutup mata saja. Keyla menatap wajah suaminya yang semakin pucat. Ada rasa khawatir yang menguasai jiwanya.
Ia pun berinisiatif menyentuh kening Rafka. Tidak panas, berarti Rafka tidak demam, lalu mengapa suaminya terlihat sangat lemah.
Karena belum mengantuk, Keyla pun memilih memijit pelan tangan Rafka, mungkin suaminya lelah hingga butuh istirahat dan pijitan. Keyla pun memijit tangan Rafka lalu bergantian dengan kaki Rafka hingga kantuk menyerangnya.
******
Keesokan paginya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Rafka masih tampak berbaring di ranjang setelah selesai shalat subuh di kamar. Laki-laki itu tampak tak bisa berjalan jauh hingga memilih shalat subuh di rumah saja.
Keyla sudah memasak sarapan, ia masak nasi goreng udang untuk Rafka.
"Ayo makan dulu," ucap Keyla meletakkan nasi gorengnya di atas nakas.
"Makanlah," lirih Rafka pelan.
"Kau butuh sarapan untuk sehat, kalau sakit nanti kau tak bisa bekerja. Tak ada yang memukul ku kalau aku tak mau shalat nanti," ucap Keyla lembut. Rafka tampak terkekeh lalu kembali menarik selimutnya.
"Aku tidak nafsu makan, kau makan saja duluan." Rafka memilih menutup matanya kembali. Hari ini ia sudah minta izin untuk tidak pergi bekerja.
Keyla menghela nafas panjang, ia pun membawa kembali nasi goreng yang sudah ia masak dengan penuh semangat ke dapur.
"Sebenarnya dia sakit apa yah? Demam tidak, flu juga tidak. Lalu sakit apa?" tanya Keyla sembari memakan nasi goreng buatannya sendiri. Rasanya sangat tidak enak kalau makan hanya sendiri saja. Apalagi pikirannya masih pada Rafka, sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya.
Di dalam kamar, tampak Rafka membuka matanya. Sakit pinggangnya sudah reda, hanya saja ia terlalu lemas untuk beraktivitas. Tampak Rafka menghela nafas berat dan memijit-mijit kepalanya.
"Ya Allah, sembuhkan lah hamba," lirih Rafka sembari menutup kembali matanya.
_
_
_
_
_
_
_
_
Huwaaaa, bang Rafka kenape nih😥
Pegal linu keknya😂🙏
Oh ya, ini alur ceritanya memang gini yah mantenan. Tidak terlalu greget karena memang author buat untuk di jadikan pelajaran, apa itu keikhlasan, kesabaran, dan kesetiaan.
Kalau masalah konflik, nanti ada kok. Gak bakalan berat-berat, mengenai ada actionnya atau tidak, author gak jamin bakalan kek cerita lainnya yang baku tembak. Karena ini cerita bang Rafka, bukan bang Razka yah 🤭
Tapi tenang saja, satu yang bisa buat kalian bernafas lega. Konfliknya pasti tidak akan mengunakan pelakor, karena author anti pelakor🔪
Pokoknya siapkan aja jiwa dan raga kalian untuk konfliknya,😂 karena ini akan menjadi kejutan 🤭
Pokoknya jangan di skip ah, kalau penasaran. Nanti kelewatan momen bawang nya. dah lama kita gak nangis bareng setelah ada novel bang gami dan Daniel 😂😂
Jangan lupa like komen dan juga votenya yah.
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.