Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 150 - Double Date


Sebenarnya double date bukan gaya Sean sama sekali, terlebih lagi saat sudah dewasa. Pria itu lebih terbiasa dan nyaman menikmati waktu berdua bersama pasangan. Namun, demi memenuhi keinginan sang istri ya apa boleh buat.


Sesuai dengan kesepakatan, Syila dan Zean benar-benar ke Bandung memenuhi ajakan Zalina. Hanya berdua? Tentu saja tidak, tapi sekeluarga besar. Kalau kata Mikhail sekalian menginap, karena memang Sean sudah kembali menempati rumah utama.


Sean sudah memiliki firasat mustahil jika hanya Zean dan Syila saja, tapi dia tidak mengira jika yang datang mungkin muat satu bus begini. Tadi sore dia sempat tercengang begitu melihat empat mobil berjejer di halaman rumahnya, sudah seperti mudik ke kampung halaman saja.


Hanya karena bianglala, mendadak anggota keluarganya ingin juga. Sudah tentu mulut siapa yang mengabarkan berita itu, jelas saja mulut bocor Zean Andreatama. Jika sudah begini, justru Zalina yang merasa tidak enak lantaran khawatir mereka merelakan waktu hanya demi memenuhi keinginannya.


"Sean Papa sama Mama tidak boleh ikut? Papa jauh-jauh dari Jakarta loh."


Siapa suruh? Ingin sekali Sean mengatakan hal itu. Bukan jahat sebenarnya, tapi yang Sean khawatirkan adalah kesehatan papanya. Bukan khawatir asam urat sang papa kambuh di sana, tapi yang Sean takutkan adalah mata lapar Mikhail yang tidak bisa mengontrol dirinya.


"Pa ... anak-anak di rumah, nanti malam abi sama umi juga ke sini, Papa di rumah saja ya."


"Ajak saja, Sean, Papa juga butuh hiburan," sahut Zean yang baru saja muncul dari kamar tamu, agaknya pria itu tengah mencari perlindungan dengan membawa serta papanya.


"Tuh, Zean saja tidak masalah. Papa hanya ingin ajak Mama, tidak akan mengganggu kalian," ujar pria itu dengan mengangkat kedua jarinya.


Bukan masalah itu, sekalipun pergi bersama-sama ke tempat lain mungkin Sean tidak masalah. Namun, tujuan mereka saat ini membuat Sean khawatir papanya lebih merepotkan dari Hudzaifah.


"Jangan beli sosis," tegas Sean sebelum sang papa merayunya lagi, menurut pengakuan mamanya tidak jarang pria itu ketahuan jajan sembarangan ketika mengasuh Hudzaifah.


"Aman ... Papa cuma ingin lihat kalian dari kejauhan, ini Papa sudah bawa kamera."


Sempat ingin melakukan cara terakhir, yakni meminta Zia untuk ikut melarangnya. Namun, malam ini sang mama sama iyanya, sama-sama ingin kembali mengenang masa muda.


Zia adalah pemegang harta tertinggi di keluarga ini. Hingga, ketika wanita itu sudah setuju maka tidak ada yang bisa diganggu gugat. Sebenarnya Sean mengiyakan ajakan Zalina karena ingin memberi Zean pelajaran, tapi anehnya saat ini sama sekali tidak terlihat kekesalan di wajah pria itu.


Sean mengira dia akan gusar dan panik begitu mendengar tempat yang akan mereka kunjungi. Tapi pria itu lupa, jika Nasyila sudah berhasil merubah mental cupu anak mama satu itu. Alhasil, yang belum apa-apa sudah tertekan adalah kakak iparnya, sungguh Sean merasa bersalah.


Selama di perjalanan Keyvan diam saja, padahal mulut istrinya paling besar. Sungguh tidak asik, dia sudah pendiam, tapi tidak sekaku pria itu. Hingga, ketika mereka tiba, Sean menghampiri Zean yang memang berangkat dengan mobil terpisah.


"Kenapa kanebo kering itu kau ajak juga?" tanyanya seraya menarik Zean agar sedikit menepi.


"Double date kepalamu, ini namanya quintuple date. Banyak sekali, sampai manusia itu ikut-ikutan," kesal Sean menunjuk Yudha dan Lengkara yang telah melambaikan tangan entah kemana, terserah yang jelas jangan ke semak-semak saja.


Beruntung saja Ameera tidak turut serta. Selain karena tidak punya pasangan, adik kebanggaannya itu memang banyak pekerjaan. Karirnya memang semakin memuncak, bukan hanya iklan yang dia bintangi, tapi mulai merambat sinetron dan juga layar lebar.


"Kata Syila yang termasuk hanya kita berempat ... sudah jangan banyak drama, nanti istrimu hilang bahaya, hitam-hitam begitu dikira calon Arang."


Ada saja yang Zean ucapkan dan membuat pria itu mengelus dadanya. Terbukti bahwa memang niat buruk akan berimbas buruk pada diri sendiri juga. Belum apa-apa, Sean sudah mulai merasakan ubun-ubunnya panas.


Kendati demikian, di hadapan istrinya Sean berusaha baik-baik saja dan menikmati kencan mereka. Pria itu bersikap semanis mungkin, tapi sialnya tidak lebih manis dari Zean. Padahal, mantan playboy di sini adalah dia, tapi kenapa justru kalah romantis dari Zean yang bahkan rela mencoba berkali-kali permainan lempar gelang demi memberikan boneka beruang untuk Nasyila.


"Tenagaku habis, give me a kiss."


"Uwweeek."


Asam lambung Sean kambuh seketika, kemana urat malu Zean? Putus atau mungkin digadaikan hingga berani meminta Syila mengecup bibirnya lebih dahulu dengan alasan tenaga habis. Parahnya, Syila yang sedikit tertekan tetap menuruti kemauan suaminya.


"Kau kenapa? Iri?"


"Sama sekali tidak, Setan!!" umpat Sean yang mulai mengepalkan tangannya, ingin sekali dia melemparkan semua gelang-gelang sialan itu ke leher Zean sekarang.


"Iri bilang saja, Se ... enjo_ ays gagal lagi, Sayang!!"


Lain halnya dengan Sean, Zalina justru merasa adik iparnya sangat menghibur. Hingga, Zalina yang tersenyum tipis membuat Sean kesal seketika, ingin dia katakan cemburu, tapi sepertinya bukan.


"Mas kenapa?" tanya Zalina mendongak kala menyadari sang suami seakan ingin menelannya hidup-hidup.


.


.


- To Be Continued -