
Jika ditanya apa ujian yang paling berat setelah menikah, maka jarak adalah jawaban paling lantang dari Sean. Kendati demikian, Mikhail juga menjadi bagian utama dalam hidupnya. Belajar dari pengalaman, Sewaktu awal menikah sang papa harus mencari alasan untuk bisa bertemu.
Karena itulah hari ini, Sean menyempatkan waktu untuk bisa bersama Mikhail sebelum kembali ke Bandung. Sebenarnya bisa dia berbohong dan tidak memunculkan diri sama sekali. Namun, Sean kembali berpikir dua kali dan khawatir jika hal itu akan menjadi penyesalan seumur hidup.
"Nih sudah papa siapkan ... ada pisang sama buah yang lain juga, Habil suka pisang biasanya."
Memang sebaiknya Sean ambil sendiri, bukan minta disiapkan pembantu karena pada akhirnya Mikhail yang turun tangan. Jika sesuai dengan keinginan Sean terima-terima saja, pasalnya yang Mikhail siapkan seolah cukup untuk persiapan selama sebulan.
"Kebanyakan, Pa."
Sean menghela napas panjang melihat box besar yang berisikan buah-buahan satu kulkas yang Mikhail keluarkan semua. Dia hanya berniat meminta Alpukat yang tinggal tiga buah di kulkas, karena Mikhail merasa tak tega dengan penuh kebaikan hati pria itu memberikan yang lebih banyak untuk putranya.
"Tidak apa-apa, Papa masih bisa beli lagi besok"
Bukan itu masalahnya, lagi pula Sean hanya pulang biasa, bukan bisnis perdagangan buah. Jika sudah begini, dia yang bingung tentu saja. Tidak berhenti di sana, Zia tampaknya berpikir sama dan sibuk sendiri menyiapkan oleh-oleh untuk besannya.
"Ya, Tuhan ... mama itu apa lagi?" Sean mengerutkan dahi kala melihat Zia membawa beberapa tumpuk kue basah yang tampaknya baru matang beberapa saat lalu.
"Oleh-oleh, Sean kemarin Mama belum sempat buat ... mertuamu pasti suka."
Biasanya seseorang yang dibekali banyak makanan begini akan bahagia, tapi berbeda dengan Sean. Dirinya tidak lagi seperti ke rumah mertua, melainkan seorang anak yang akan merantau ke luar kota.
"Hm betul, sama sarungnya mana, Sayang?"
"Ah bentar, Mas ... masih di kamar."
Sean memijit pelipisnya, hendak pulang saja tampak susah. Ingin ditolak juga percuma, dia tahu bagaimana perjuangan Zia di dapur sebelum malam menjelang. Wajar saja Mikhail meminta Sean diantar Bastian saja, yang dia bawa memang cukup banyak.
Tidak berselang lama, Zia telah kembali dengan membawa sarung yang Mkhail maksud. Dia pikir hanya satu atau dua, tapi nyatanya banyak bahkan jika Sean hitung mungkin empat lusin. Kalau kata Mikhail sarung itu harus dibagikan pada para santri, mungkin akan kurang dan tentu saja untuk menggenapinya harus menggunakan uang Sean.
Setelah semua dipastikan siap dan tidak ada yang tertinggal, Sean kembali pamit yang sesungguhnya. Tidak seperti rencana awal, bisa dipastikan Sean akan sedikit terlambat dan tiket pesawat yang sudah Yudha beli itu hangus tentu saja.
Memaklumi bukan berarti dia tidak menunggu. Hingga jam delapan malam, wanita itu masih berdiam diri di ruang keluarga. Padahal, hal semacam itu sama sekali tidak pernah dia lakukan.
"Na, anak-anak sudah tidur?" tanya umi Rosita kala melewati putrinya sebelum pergi ke rumah Abrizam.
"Sudah, Umi."
"Terus kamu kenapa di sini? Tunggu Sean?"
Sudah cukup lama menikah bahkan memiliki dua anak, Zalina masih kerap malu-malu ketika umi Rosita bertanya. Wajahnya bahkan masih memerah, padahal hanya diminta menjawab iya atau tidak.
"Jam berapa memang sampainya?"
"Mungkin satu jam lagi, Umi," jawab Zalina mengira-ngira, beberapa saat lalu Sean sempat menghubunginya dan mengatakan hal yang sama.
"Syukurlah ... umi tidur di rumah Abrizam malam ini tidak apa-apa ya? Ayunda masih takut jaga Zaffan."
Zalina mengangguk pelan, tadi sore memang putra Abrizam baru bisa dibawa pulang. Tentu saja Ayunda tidak dapat diandalkan, begitu juga dengan Abrizam. Sementara kiyai Husain tampaknya malam ini belum kembali demi mengisi acara menjelang ramadhan.
Saat ini Zalina benar-benar sendirian, kedua buah hatinya baru saja tertidur beberapa saat lalu begitu juga dengan pengasuhnya. Beberapa kali Zalina menoleh, setiap mendengar deru mobil mendekat dia pikir itu suaminya.
"Sabar, Zalina baru juga sepuluh menit," gumam Zalina kala menatap jarum jam yang terpampang nyata di dindingnya.
Hati Zalina mendadak tak karu-karuan, hujan kecil yang mendera sejak tadi sore belum juga reda. Parahnya lagi, kini menjadi lebat disertai dengan gemuruh petir yang membuat jiwa Zalina mendadak tidak tenang.
.
.
- To Be Continued -