Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 04


Sejak menikah agaknya Sean memang tidak pernah merasa kesepian. Ditambah lagi, saat ini dia telah dikaruniai kedua buah hati yang menjadi pelipur laranya. Jika dahulu Sean akan gusar sendiri jika Hudzaifah pulang ke rumah orang tuanya, kali ini tidak lagi.


Bukan karena kasih sayangnya terganti, tapi memang kesendirian Sean benar-benar terobati. Setelah keluarga besar kembali ke Jakarta, Sean menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Rencana untuk datang ke bengkel lenyap begitu saja, malas katanya.


Mengatasnamakan puasa, Sean memilih bermalas-malasan bersama Iqlima. Bidadari kecil yang kerap membuat Zalina merasa kalah saing. Entah karena marah ditinggal tadi malam atau bagaimana, Iqlima benar-benar enggan lepas dari pelukan abinya.


Sementara Habil, titisan Mikhail yang paling kecil itu agaknya kurang peduli pada Sean. Ya, memang sejak dahulu begitu dan dia lebih nyaman dalam asuhan uminya. Selain Zalina penuh kelembutan, kesehatan mental Habil lebih terjaga dan tidak menangis setiap detik akibat diusik abinya.


Beberapa hari setelah bebas, Sean pernah berjanji akan mengajak Iqlima jalan-jalan. Padahal balita itu mana mungkin mengerti soal janji, tapi Sean merasa dia harus menepati ucapannya. Menjelang sore, Sean bersiap-siap pergi untuk membawa Iqlima dengan motor kesayangan Zalina.


Motor yang dahulu sempat menjadi petaka lantaran kemampuan mengemudi sang istri yang begitu luar biasa, jurus sen kiri belok kanan hingga saat ini masih bertahan hingga Sean benar-benar mencabut izin mengemudinya.


"Kita jalan-jalan ... sayangnya abi sudah siap?" tanya Sean menatap lekat manik indah sang putri yang kini mendongak.


"Mas jangan jauh-jauh."


Belum juga pergi, pemegang tahta tertinggi di rumah ini sudah berteriak dari teras. Iqlima yang tadi fokus memandang abinya sontak beralih ke sumber suara, hingga senyum lebar terukir di wajahnya.


"Iyaa, Umi tidak jauh kok paling sampai Bogor," tutur Sean seolah tengah mewakili Iqlima, suara yang sengaja dia ubah membuat gelak tawa Iqlima semakin lepas.


"Bandel ya ... umi cubit nanti," sahut Zalina yang juga turut mengimbangi cara main Sean, padahal saat ini mereka tengah disaksikan mbak Mina dan juga pak Wan di sana.


Terlalu menggemaskan, Sean menggeleng pelan begitu menyadari supirnya tertawa dari kejauhan. Mungkin lucu, tapi sama sekali Sean tidak tersinggung sebenarnya.


"Dah sana, hati-hati ya sayangnya umi."


"Oteeeh!! Kiss bye Umi, Sayang... emuaaach."


"Maaaah."


Sean tergelak dengan tingkah putrinya. Ingin sekali dia bawa keduanya, tapi Zalina harus menjaga Habil karena memang sejak tadi rewel jika Sean dekati. Mereka harus berbagi tugas, jika dipaksakan ikut Sean khawatir Zalina kesulitan di atas motor.


"Tataaa."


Seakan benar-benar pergi sejauh itu, Iqlima terus melambaikan tangan gempalnya usai mengecup Zalina dari jarak jauh. Tidak lupa dengan kaki yang menendang-nendang seakan memamerkan kebahagiaannya.


"Sayang mas pergi ya ...."


"Iya, jangan jauh-jauh!!" Saat ini, peringatan tidak cukup jika hanya satu kali, jelas harus berkali-kali dan dipertegas agar sang suami tidak seenak hati.


"Iya, Zalinaku."


Selagi diberi izin, Sean ingin menikmati waktunya bersama sang putri. Bukan hal mudah mendapatkan izin dari Zalina, terlebih lagi jalan-jalan berdua begini. Selain karena khawatir, dia juga ingin sebenarnya.


Sean menelusuri jalanan dengan membawa Iqlima dalam gendongannya. Sudah tentu dengan mengikuti standar keamanan dari mbok Ratri, pria itu bahkan harus meminta persetujuan pada Mikhail sebelum membawa Iqlima pergi.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu di luar, harusnya sudah cukup puas. Namun, ketika Sean kembali ke rumah dan menghentikan motornya tepat di depan garasi, Iqlima merengek dan menangis saat itu juga.


"Kurang ya?" Sean terkekeh, putrinya benar-benar keras kepala dan memaksakan kehendak.


Tangisannya jelas terdengar oleh Zalina yang memang sengaja menyambut kedatangan mereka. Wanita itu mengulurkan tangan dan secepat mungkin Iqlima membuang muka. Dia menolak, uminya sama sekali tidak dia inginkan saat ini.


"Tuh kan, sudah kubilang nanti susah berhentinya."


"Terus gimana? Apa karena tidak sampai Bogor? Hm? Abi bercanda, Nak," tutur Sean lembut, tapi raut wajahnya sama sekali tidak tenang.


Amukan Iqlima tidak terelakan, jika sudah begini ASI yang biasanya digunakan sebagai senjata utama jelas saja tidak mempan. Terpaksa, Sean harus menuntaskan keinginannya untuk kembali merasakan sensasi naik motor bersama sore ini.


Benar saja, tangis Iqlima berhenti seketika kala Sean kembali menghidupkan motornya. Sudah Zalina katakan jangan coba-coba, kini terbukti Iqlima menagih kembali dan enggan berhenti tanpa peduli jika hari hampir berganti.


Tadinya keliling di sekitar perumahan, kali ini hanya di sekitar rumahnya saja. Mereka hanya berkeliling di bawah pengawasan Zalina, entah sampai kapan berakhir yang jelas dia berharap sebelum magrib Sean dapat kembali tanpa drama tangisan manja Iqlima.


Waktu mereka berdua menjadi dua kali lipat, tapi setidaknya usaha Sean yang kedua tidak sia-sia. Putrinya tidak menangis ketika berhenti, tidak pula merengek dan meminta lagi.


"Ih pint_"


"Shuut, dia tidur." Sean berucap pelan dan meminta Zalina untuk diam, jika sampai kembali terbangun bisa jadi putrinya kembali meminta menyusuri aspal hingga ke luar kota.


"Ouh tidur," jawab Zalina seraya mengangguk mengerti.


"Mas sudah bisa nidurin anak, Papa harus tahu soal ini," ujar Sean membanggakan diri.


Sedikit perkembangan, dengan prestasinya sore ini Sean bisa membungkam sang papa yang mengatakan bahwa dia hanya bisa buatnya saja, padahal tidak salah juga. Hal itu terjadi karena setiap mengasuh sang buah hati, baik Habil maupun Iqlima selalu saja berakhir jeritan dan tangisan.


"Tidur jam segini, nanti malam begadang ya, Nak," ucap Zalina seketika membuat langkah Sean terhenti.


"Heh? Berarti ini salah?"


"Tidak salah juga, tapi tanggung jawab kalau nanti malam dia bangun dan cari-cari kamu."


.


.


- Edisi Sean's Family -