Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 115 - Zalina's Big Boy


Telanjur basah, Zalina kepalang malu akibat Sean malam ini. Dia hanya berharap jika Bastian pura-pura tidak melihat tingkahnya, begitu juga dengan Mardi. Tidak masalah meski Sean mengejeknya seumur hidup, asal kebodohan itu jangan pernah sampai ke telinga abinya.


"Hati-hati, Na," tutur Sean masih lembut walau sadar sang istri seperti ngajak ribut.


Kemarahan Zalina sepertinya tidak bercanda, terbukti dengan langkah cepatnya ketika naik tangga. Padahal, yang salah adalah dia sendiri. Sean hanya menggeleng pelan melihat tingkah istrinya, sejak tadi siang sudah menguji iman dan kini dia kembali menguji kesabaran Sean.


Tiba di kamar Sean melihat istrinya yang kini masuk ke dalam kamar mandi. Bukannya balik marah, Sean hanya terkekeh pelan. Tanpa menunggu Zalina marah-marah lebih dulu, Sean membuka jaket dan kemejanya.


Sebenarnya Sean sudah sempat mandi di rumah orang tuanya, dan kini tidak bercita-cita mandi lagi. Alasannya jelas masih sama, bagi Sean air di sini dingin dan dia enggan menyiksa diri.


"Awas susunannya rusak."


Baru saja hendak meraih baju tidur yang memang begitu rapi di lemari, suara Zalina menyadarkan pria itu. Kebiasaan Sean yang kerap mengambil baju asal-asalan tanpa peduli betapa lelah Zalina menatanya membuat kepala sang istri berasap.


"Ambilkan kalau takut rusak."


Sean yang terbiasa asal-asalan jelas sedikit sulit membiasakan diri dengan hidup Zalina yang serba tertata. Lipatan baju di lemarinya bahkan lebih rapi dibandingkan tulisan tangan Mikhayla, entah dia ukur atau bagaimana Sean juga tidak mengerti.


"Mas mau yang mana?"


Semarah-marahnya, Zalina tidak pernah bersikap di luar batas. Dia masih tetap melayani sang suami sepenuh hati, sebagaimana ajaran umi Rosita yang tertanam dalam dirinya sejak remaja.


"Hitam," jawab Sean asal setelah memilah warna yang akan dia pakai malam ini.


Zalina memang istri yang penurut, cukup Sean katakan dia tidak akan banyak bicara lagi. Sejak pulang, tangan Sean agaknya memang sedikit manja. Selama Zalina mencari perlengkapannya, Sean hanya berdiri menatap lekat kegiatan sang istri.


Jantung Sean berdetak dua kali lebih cepat kala istrinya berlutut demi mencari underwear miliknya. Wajah Zalina yang sedikit basah, dengan anak rambut yang menempel di keningnya jelas membuat sesuatu dalam diri Sean bergelora.


Ditambah lagi, secara tidak sengaja dia dapat melihat celah di antara bagian favorit kedua buah hatinya itu tampak nyata, posisi Sean benar-benar tepat di atasnya. Hingga Zalina yang kini duduk jelas tidak menyadari jika di bagian sana sedikit terbuka.


Sean menggigit bibirnya, detik ini juga dia memutuskan tidak lagi membutuhkan piyama yang Zalina cari untuknya. Tanpa aba-aba, pria itu membawa Zalina ke atas tempat tidur.


"Mas?"


Semua terjadi begitu saja, Sean menepikan semua yang ada di tangan Zalina hingga membuatnya mengerutkan dahi. Tadi siang Sean dibuat iri lantaran kedua buah hatinya menguasai sang istri, dan malam ini dia akan mengambil haknya tentu saja.


"Aku baru selesai wudhu, Mas."


"Nanti bisa wudhu lagi."


Selalu, jawaban semacam itu adalah andalan bagi Sean. Zalina hanya bisa terdiam menatapnya, hendak berontak juga percuma karena kini wanita itu bisa merasakan sesuatu yang tidak asing lagi di tubuh Sean tampak bereaksi ketika pria itu mendekapnya.


Sean selalu berhasil membuat seorang wanita terperangkap dalam pesonanya. Hanya dengan sentuhan manis dan kecupan pelan, Zalina benar-benar tidak mampu berkutik. Dalam sekejap, Zalina bahkan tidak menyadari kapan tubuh keduanya sudah dalam keadaan polos begini.


"Sayang mau di atas, 'kan?"


Sean menarik sudut bibir usai membisikkan sebuah pertanyaan yang membuatnya mendapat cubitan kuat di lengan. Mulut asal Sean tampaknya memang terbiasa mengejek dan membuat istrinya malu.


Sean pulang di saat yang tepat, niat hati Zalina untuk menyambut kepulangan suaminya dengan lingerie yang kemarin dia beli sepertinya memang tidak kesampaian. Akan tetapi, hal itu bukan masalah besar karena tanpa melakukan hal semacam itu, Sean yang menggodanya lebih dahulu.


Setelah perpisahan selama beberapa jam, keduanya dipersatukan dalam sebuah penyatuan. Berbagi peluh dengan lenguhan dan rintihan kenikmatan dalam sebuah ikatan yang direstui Tuhan adalah anugerah terindah bagi Sean.


Keduanya tenggelam dalam keindahan surga dunia, tanpa sadar jika Bastian mungkin butuh makan malam. Hingga, di titik akhir Sean mengerang sebelum kemudian ambruk di atas tubuh sang istri.


Napasnya masih terengah-engah, Sean menyembunyikan wajah di ceruk leher istrinya. Aroma tubuh Zalina seakan energi yang mampu mengembalikan kekuatan Sean, deru napas Sean yang terasa hangat masih membuat Zalina berdesir.


"Love you, Baby girl ... more than you know."


Sean berucap begitu pelan kala mengangkat wajahnya, tampak jelas bagaimana Zalina yang kini mengangguk mengerti tanpa menjawab ucapan Sean.


"Romantis sedikit, Na ... jawab atau apa begitu?"


"Jawab gimana?"


"Ya jawab sesukamu, dari tadi Mas terus yang bilang I love you dan lainnya, kamu tidak," protes Sean yang merasa hubungan mereka sedikit tidak adil lantaran memang sejak lama yang selalu meracau dengan kata-kata manis itu adalah Sean seorang.


"Contohnya?"


"I love you too, Sean ... love you my big boy atau I'm nothing without you dan masih banyak lagi, Zalina." Gemas sendiri rasanya, Sean paham istrinya memang tidak sama seperti wanita di masa lalunya, tapi sesekali dia butuh juga ungkapan itu.


Zalina menghela napas panjang, dia menunduk dan kembali membuat pola lingkaran di dada sang suami entah apa tujuannya. Sean tidak mengusiknya, mungkin sang istri tengah berpikir hendak memberikan jawaban yang bagaimana.


"Ehm, Mas ...."


"Iya, Sayang?" tanya Sean sudah bersiap menunggu ucapan manis dari Zalina, belum apa-apa dadanya sudah berdebar lebih dulu, sungguh.


"Alpukatnya mas bawa, 'kan?" tanya Zalina dengan mata indah yang kini mengerjap pelan.


"What the ...? Alpukat siallan ... tidak salah aku membenci buah itu dari kecil!!"


.


.


- To Be Continue -


Ramein komentarnya, Bestie aku hampa tanpa ketikan jemari kalian😘😘


Ini part sengaja aku up malem dan diminimalisir ga vulgar, semoga bisa diterima tiw-tiw.