Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 117 - Ketetapan Takdir


"Astaghfirullah Zalina, sopan begitu sama suami, Nak?!"


Sebelumnya sudah malu karena tertangkap basah Bastian dan juga Mardi. Kini, Zalina kembali tertangkap basah abinya sendiri, sesuatu yang dia khawatirkan sejak tadi dan kini benar-benar terjadi. Wajah Zalina tampak pucat pasi, terlebih lagi saat ini dia duduk di atas pangkuan Sean dan keduanya bahkan hampir tak berjarak.


"A-abi? Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tanya Zalina dengan suara bergetar dan wajah yang memerah.


Sejak dahulu Zalina memang dididik untuk patuh, jadi wajar saja ketika mendengar bentakan abinya wanita itu sampai takut jika benar-benar menjadi masalah.


"Kalian berdua saja yang tidak dengar ... coba jelaskan, apa yang mau kamu berikan pada suamimu?"


"Alpukat, Abi."


"Kalau tidak suka jangan dipaksa, lebih baik kamu buat teh sana."


Syukurlah, tidak ada kemarahan yang Zalina terima. Saat ini kiyai Husain hanya meminta Zalina membuat teh untuk menghangatkan tubuhnya. Zalina perlahan menjauh, sebelum itu dia sempat menoleh ke arah Sean dan melihat dengan nyata bagaimana sang suami menjulurkan lidahnya.


"Ih."


"Zalina, kenapa begitu?"


Lagi dan lagi Zalina lupa kalau mereka sedang dalam pengawasan abinya. Dia yang kesal Sean menjulurkan lidah, tanpa sadar mendelik ke arah sang suami dan nyatanya menjadi masalah di mata kiyai Husain.


"Maaf, Abi."


Jika tidak ada mertuanya, mungkin Sean akan terbahak. Hanya mempertimbangkan sopan santun saja pria itu berusaha membatasi diri. Jika di rumah utama Zalina memegang tahta lebih tinggi di hati kedua orang tuanya, di hadapan kiyai Husain justru sebaliknya.


Sean adalah penguasanya, kasih sayang sang mertua tidak bercanda. Terbukti dengan kiyai Husain yang segera meminta maaf karena ulah Zalina lantaran khawatir sudah keterlaluan.


"Tidak masalah, Abi ... saya juga suka dipaksa," ucap Sean seolah lupa lawan bicaranya, seketika Sean mengatupkan bibir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maksudnya bagaimana, Sean?"


"Ah ti-tidak, Abi."


Sean pikir kiyai Husain akan sekaku itu ketika dia masuk ke keluarga ini. Namun, agaknya hal itu salah besar karena pria paruh baya itu benar-benar membuat Sean merasa dihargai.


"Oh iya, hampir lupa ... tadi ada titipan untukmu." Sejak tadi mereka membicarakan sesuatu yang tidak begitu serius, pria paruh baya itu sampai lupa jika ada yang lebih penting.


"Titipan? Titipan dari siapa, Abi?" tanya Sean dengan kening yang kini berkerut, khawatir saja jika titipan itu justru dari seorang wanita dan akan berakhir menjadi bencana.


"Dari nak Irham, dia juga mengucapkan terima kasih."


Irham? Pria itu kembali dibuat bingung karena tadi siang mereka baru saja bertemu. Pertanyaan Sean terjawab tuntas kala kiyai Husain menyerahkan amplop berisikan uang tunai yang baru saja dia rogoh dari saku bajunya.


"Uang?"


Sean mengangguk pelan, dia tidak mengira jika Irham akan mengembalikan uangnya secepat itu. Padahal, secara jelas Sean sangat ingat bagaimana keadaan Irham saat ini.


"Tapi kenapa secepat itu, Abi? Bukankah dia ...."


Hendak dia bahas, tapi khawatir jika nanti kiyai Husain tidak suka dan menganggap Sean menggungjingkan Irham. Namun, sebelum itu terjadi, mertuanya menepuk pundak Sean segera.


"Begitulah kekuasaan Allah, Sean ... rezeki kadang tidak diduga-duga, dan saat ini Irham tengah menuai kebaikan yang sempat dia berikan."


"Maksud Abi bagaimana?"


"Abi sangat mengerti keadaannya, dan kemarin Abi baru tahu dari Abrizam bahwa Irham tidak pernah mengambil gaji selama mengajar, jadi tadi sore Abi meminta panitia untuk menghubunginya karena jika menunggu Irham menemui Abi sepertinya tidak akan pernah."


Berbeda dengan Bramanto dengan penyakit hati yang sampai berniat menyiksa batin putrinya, kiyai Husain justru berbeda. Mengetahui jika Irham terpuruk, dia tentu saja simpati. Terlebih lagi, Irham sempat mengamalkan ilmunya di pesantren, walaun memang ada beberapa sikap yang tidak dibenarkan dalam diri Irham.


Karena itulah, kiyai Husain meminta panitia untuk turut mengundang Irham juga. Kebetulan pria itu bersedia hingga mereka bisa bertemu dan saat itulah kiyai Husain menyerahkan apa yang seharusnya menjadi hak Irham.


"Terima kasih atas kedewasaanmu, Nak ... sejak awal melihatmu, Abi yakin kau memang laki-laki yang baik untuk Zalina."


Sean terharu, dia bahkan tidak mampu mengucapkan terima kasih karena pikirannya masih berperang dengan semua yang kini terjadi. Seolah tertampar, pencipta menunjukkan kebesarannya yang menggetarkan hati Sean malam ini.


Tanpa keduanya sadari, pembicaraan mereka bahkan membuat langkah seorang wanita terhenti dengan toples gula di tangannya. Zalina tersenyum simpul mendengar kelembutan hati Sean yang bahkan lebih luar biasa dari dugaannya.


"Apa Irham menuruti saranku di bandara?" gumam Zalina pelan, tapi secepat mungkin dia menggeleng dan kembali berpikir dua kali.


"Tapi sepertinya tidak mungkin deh jika benar-benar berteman."


Meragukan, karena namanya saja dapat membuat wajah Sean persis pakaian belum disetrika. Aneh sekali, Zalina tidak yakin soal ini. Mungkin hanya sebatas membantu, toh sejak dulu dia ketahui jika Sean memang baik.


"Hm, paling begitu sih ... walau mas Sean baik, tapi kan hatinya tetap keras juga."


"Zalina!! Kamu masak apa? Bau, Na!!" teriak kiyai Husain seketika membuat mata Zalina membola.


"Astaghfirullah!! Ya Allah airnya," teriak Zalina ikutan panik dan berlari dengan membawa serta toples gula yang sejak tadi dia pegang.


.


.


- To Be Continue -


Sean : Kelakuan bini pe'a begini memang 😌