
"Hallo nek." Sapa Aaron dari seberang telepon.
"Sayang,kapan kamu dan Sora kemari."
"Nenek sudah merindukan kalian."
"Nenek juga sudah mengatur semuanya."
"Nenek...,nenek tak perlu melakukan apapun."
"Suruh saja Aiko untuk mengaturnya."
"Aaron tak ingin nenek terlalu capek." Pinta Aaron.
"Kau tak usah khawatirkan nenek."
"Nenek baik baik saja." Jawab nenek
"Tapi nek,..."
Aaron berusaha membujuk nenek.
"Baiklah,nenek janji,jika nenek sudah tak sanggup,nenek akan beristirahat." Sela nenek.
"Nggak nek,nenek tak perlu turun tangan,biarkan Aiko yang melakukannya,nenek hanya boleh duduk dan memerintah mereka." Bujuk Aaron.
"Iya...nenek akan menuruti kemauanmu." Ucap nenek lembut.
"Kau ini...,membuat nenek tak bisa melawan keinginanmu."
Aaron merasa lega dengan menghela nafasnya.
"Nek Aaron akan ke Maldive tiga hari lagi."
"Ku harap nenek dapat merahasiakan kedatangan kami." Ucap Aaron.
"Kenapa?"
"Apa sesuatu terjadi." Tanya nenek.
"Kami hanya berjaga jaga nek."
"Beberapa hari yang lalu seseorang mengawasi kami."
"Aku tak ingin sesuatu terjadi pada Sora." Terang Aaron.
"Baik nenek mengerti."
"Kau berhati hatilah."
"Iya nek."
"Nenek juga jaga kesehatan." Pinta Aaron setelah itu menutup teleponnya.
...
"Klek."
Suara pintu yang telah di tutup.
Sora membawa beberapa tumpuk dokumen di tangannya.
"Sayang apa yang kau lakukan?" Ucap Aaron dan mengambil dokumen dari tangan Sora lalu di letakkan di atas meja.
"Bagaimana jika kau capek?"
"Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu dengan kamu dan si kembar?" Ucap Aaron sambil memegang kedua bahu Sora.
Sora menatap dan tersenyum tipis.
"Sayang aku tak apa apa."
"Aku dengan senang hati melakukannya."
"Aku tau kau sangat mengkhawatirkan aku."
"Aku akan berhenti jika sudah merasakan tak nyaman pada tubuhku."
"Oke." Bujuk Sora dan memeluk Aaron dengan manja.
"Muach."
Sora mencium bibir Aaron dengan lembut,terlihat kelegaan pada wajah Aaron.
"Ehem"
Suara deheman membuat Aaron dan Sora melepaskan pelukan mereka.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian." Ucap Reyna.
Sora buru buru duduk di meja,untuk menutupi rasa malunya.
"Ada apa?" Tanya Aaron yang masih berdiri di dekat meja.
" Ada dokumen yang perlu kau tanda tangani." Ucap Reyna mendekati Aaron sambil menyerahkan dokumen itu.
"Apa yang kau lakukan!" Ucap Aaron sinis ketika merasakan jika Reyna mendekatkan wajahnya pada telinga Aaron.
"Jauhi aku!!" Ucap Aaron pada Reyna sambil melirik Sora yang terlihat acuh.
Reyna tersenyum,dan ingin menggoda Aaron sekali lagi.
"Ron,nanti malam aku dan Sean menunggumu di tempat biasa." Bisik Reyna tersenyum nakal sambil melirik Sora.
"Sean?"
Aaron menjawabnya dengan wajah datar.
Reyna tersenyum,dan mendekatkan bibirnya sekali lagi di dekat telinga Aaron.
"Ajaklah Sora."
Setelah berbisik Reyna tersenyum dan berjalan keluar ruangan.
"Sialan kau Rey,kau sengaja ya ingin membuat Sora salah paham." Batin Aaron.
"Brakk!"
Sora meletakkan penanya dengan keras di atas meja,dan menunjukkan ketidak sukaannya,lalu berdiri berjalan keluar dari ruangan.
Aaron tersontak dan mengalihkan pandangannya pada Sora.
Dengan cepat Aaron menyusul Sora dan menarik lengannya.
"Sayang kamu marah?"
Sora diam dan memutar bola matanya ke samping.
"Kau gak akan menganggap serius apa yang di lakukan Reyna tadi kan?"
"Sayang...?" Aaron berusaha membujuk Sora untuk mengalihkan pandangan Sora agar tertuju padanya.
"Kau harus percaya padaku,oke!"
Usaha Aaron untuk meyakinkan Sora agar tak marah padanya.
Namun Sora tak bergeming.
"Oke,kalau begitu aku akan memecat Reyna sekarang juga." Ucap Aaron.
"Jika Reyna di pecat... pasti terjadi kekacauan yang tak di harapkan lagi."
Hati dan pikiran Sora mulai saling beradu,dalam hatinya tak ingin sesuatu terjadi pada Aaron dan perusahaannya.
"Sayang." Ucap Sora sambil meraih tangan Aaron untuk mencegahnya menemui Reyna.
"Apaan sih,kau kan gak perlu sampai memecat Reyna."
"Aku tau diri kok,dia mengenalmu lebih dulu."
"Aku udah gak marah." Sora menatap Aaron dan mengedipkan kedua matanya beberapa kali untuk merayunya.
"Tapi ke depannya kau tak boleh berdekatan seperti itu lagi,kau harus berjanji padaku." Tunjuk Sora pada Aaron.
"Dan kau hanya boleh berdekatan denganku." Ucap Sora pelan dengan nada manja.
"Maksudmu dekat seperti ini." Balas Aaron dengan senyum nakalnya sambil melekatkan tubuhnya pada Sora.
"Baik aku janji." Lalu Aaron mencium bibir Sora dengan lembut.
"Apaan sih kamu ini,kita kan di kantor sayang." Ucap Sora dengan wajah yang memerah dan tersenyum malu.
****
Sejak malam itu saat Zain melihat sosok yang mirip Smith,membuat hatinya merasa tak tenang sebelum menemukannya.
Zain berusaha mencari data tentang Smith di perusahaan.
"Aku yakin malam itu Smith masuk ke dalam gedung ini."
Untuk beberapa detik Zain berpikir sesuatu lalu berdiri,dan dengan terburu buru Zain berjalan menuju ruang pengawas.
Zain membuka pelan pintu ruang pengawas.
Terlihat dua orang sedang bertugas dan mengawasi kamera lalu Zain mendekati mereka.
"Hallo pak,aku Zain Ernest dari bagian perencanaan."
"Dua hari yang lalu saat aku lembur,aku kehilangan jam tanganku."
"Bisakah kalian mengijinkan aku melihat nya di kamera pengawas." Pinta Zain.
Salah satu pengawas itu membantu Zain mencari rekaman cctv dua hari yang lalu.
"Tunggu! Berhenti!"
"Bisa kau tampilkan yang itu."
Zain meminta menampilkan sosok yang terlihat seperti Smith.
Kedua pengawas itu saling berpandangan,salah satu dari mereka memberi isyarat untuk segera menghapus video itu.
Dengan sigap Zain menahan tangan pengawas itu dan tersenyum.
"Bisakah saya melihatnya sendiri." Ucap Zain sambil memaksa pengawas itu untuk pergi,kemudian melepaskan tangannya.
Zain memeriksa rekaman video itu namun yang terlihat hanya saat Smith keluar dari samping gedung,kemudian tak terlihat lagi.
"Shit." Batin Zain.
"Mm.."
"Sepertinya jam tangan saya jatuh di tempat lain."
"Terima kasih pak." Ucap Zain pada kedua pengawas itu.
Setelah Zain pergi,salah satu dari pengawas itu menekan layar ponsel dan menelepon.
"Pak,seseorang dari bagian perencanaan mencari rekaman dua hari yang lalu.
"Siapa namanya?" Jawab Fredy dari seberang telpon.
"Zain."
Fredy menutup telponnya,dan mengingat kembali jika dua hari yang lalu ada seseorang yang telah di tangkap oleh Leon.
...
Fredy masuk ke dalam ruangan Aaron,memberikan beberapa lembar dokumen di atas meja lalu berdiri di sebelah Aaron dan berbisik.
"Tuan muda,baru saja bagian pengawas melapor jika Zain Ernest mencari rekaman kejadian dua hari yang lalu di depan gedung."
"Cari tau apa hubungannya dengan kedua orang itu." Jawab Aaron.
"Baik tuan muda."
Saat itu Sora tak menyadari saat Fredy berbisik pada Aaron,dia terlalu sibuk dengan laptop yang ada di depannya.
Aaron tenggelam dalam pikirannya.
"Zain Ernest?"
"Dia kan berasal dari negara M."
"Apa dia tau sesuatu?"
Batin Aaron yang bertanya tanya tentang hubungan Zain dengan kedua orang itu.
Aaron mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong jas dan mengirim pesan untuk Fredy.
-Awasi setiap gerak gerik Zain-
Ketik Aaron.
-Baik-
Balas Fredy.
Aaron menatap Sora tak berkedip.
Tenggelam dalam pemikirannya untuk memecahkan semua kejadian yang terjadi beberapa hari ini.
****
Zain keluar dari perusahaan dengan mengendarai mobilnya dan melewati sebuah mobil yang terparkir berisi seorang pria yang mencurigakan.
Tanpa berpikir panjang dia memutar mobilnya dan menepikan mobilnya agak jauh dari mobil itu.
Dengan pelan Zain turun dari mobilnya dan mendekati mobil itu.
"Tok,tok,tok."
Zain mengetuk kaca mobil.
Saat pria itu membukanya dengan cepat Zain menarik pria itu keluar dari mobil dan bersiap memukulnya.
"Siapa yang menyuruhmu!" Ancam Zain dengan tangan yang mengepal siap untuk meninju pria itu yang telah terhimpit oleh mobil dan tubuh Zain.
Pria itu bungkam,lalu mendorong tubuh Zain dan berusaha melarikan diri,
Tubuh Zain terdorong ke tanah,lalu dia berdiri dan merapikan jas nya.
Zain menatap tajam ke arah pria yang berlari itu,setelah itu Zain berjalan dan kembali ke mobilnya.
Di dalam mobil
"Aku harus segera menemukan Smith dan meninggalkan negara ini." Batin Zain dan segera berlalu dari tempat itu.