Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part - New Normal


Sebagaimana Sean yang berhasil menemukan kebahagiaannya, Axel juga berhak tentu saja. Setelah menjalani pahit getir kehidupan, Axel menjalani hidup normal sebagaimana orang-orang lainnya.


Mereka sempat merasakan hidup dalam asuhan Hito, di jalanan tentu saja. Untuk itu, setelah merasakan kebebasan Sean tidak ingin sahabatnya kembali terjun ke jalanan. Begitu juga dengan Axel dan Ricko yang bertekad tidak akan terjerumus ke lubang dosa semacam itu.


Tidak hanya sekadar bicara, Sean juga memberikan fasilitas untuk menunjang kehidupan mereka kembali tertata dengan baik. Bukan hanya tempat tinggal, tapi juga pekerjaan Sean berikan.


Terutama untuk Axel, pria itu sangat paham bagaimana kebutuhan seseorang yang telah berkeluarga, terlebih lagi Axel memiliki Satria yang. Untuk itu dia memberikan jalan agar bakat Axel dapat dikembangkan dan merambah dunia bisnis melalui Zean, sementara Ricko yang merasa tidak memiliki keahlian lain selain merusak jelas memilih bengkel sebagai pekerjaan utamanya.


Ya walau hampir tidak ada bedanya seperti Zean yang dahulu menjadi montir dadakan, Ricko juga begitu. Bukan sekali dua kali Abas, karyawan lama Sean sakit kepala lantaran Ricko mengecewakan pelanggan.


Ban bocor justru terbakar dan jelas masalahnya semakin menjadi. Adu mulut bersama pelanggan dan pengamen, dan juga membuat masalah dengan suami dari wanita yang dia goda di jalanan.


Empat bulan setelah Axel menikah, Hito akhirnya turut merasakan kebebasan. Berbeda dengan dua sahabatnya, Hito memilih menjadi penjaga asrama di pondok pesantren. Alasannya sederhana, di bengkel sudah terlalu banyak karyawan dan Hito khawatir naik darah jika terus berada di dekat Ricko.


"Aduh, sudah berapa kali ngamen di sini? Kesana kek, kesono kek, kemana kek, jangan di sini terus ... panas-panas nyanyi, minum es kelapa sana."


Baru saja kemarin Hito mengatakan jika Ricko adalah ujian hidup Sean. Kini, kembali terbukti dengan dirinya yang ngomel panjang lebar di hadapan dua pengamen dengan ukulele kesayangannya.


"Ada apa? Suaramu terdengar sampai ke belakang," ucap Sean seraya menyeka keringatnya, hari ini dia turut terjun ke lapangan lantarang sang istri merindukan tubuh kotornya.


"Ini, Sean ... masa baru lima menit sudah balik lagi, kan bisa ngamen ke tempat lain."


Sean hanya menghela napas panjang, dia memang tidak menyadari jika pengamen yang datang adalah pengamen yang sama. Namun, dia hanya mengetahui Ricko meminta uang padanya untuk diberikan pada dua anak kecil itu.


"Jangan diperpanjang, kita pernah di posisi mereka."


Sean tidak mengerti kenapa dua anak itu kembali lagi, biasanya jika sudah Sean berikan uang mereka akan pergi dan baru kembali beberapa hari kemudian. Ricko menganga kala melihat Sean begitu mudah mengeluarkan uang pada dua anak kecil bersuara sumbang persis knalpot motor balap itu.


"Astaga 300 ribu ... wajar saja mereka menunggumu, jangan kebanyakan, nanti ngelunjak."


"Mereka masih kecil, nanti juga bisa berpikir, Ricko."


"Kau terlalu baik, kenapa tidak diangkat anak saja sekalian? Kau dermawan sekali sepertinya."


Dia menyindir atau bagaimana, Sean tidak begitu menggubris ucapan Ricko. Pria itu hendak kembali, tapi terhenti kala Axel datang dengan mobil barunya.


"Widih orang kaya ... bank mana yang dibobol?" tanya Ricko tanpa pikir panjang, sontak Axel memutar bola matanya malas.


"Bank buapakmu, Ko."


"Woah ... keren sekali, lukisan mana yang laku, Axel? Lukisan waria telanjjang kemarin?"


"Ricko!!" sentak Axel ingin sekali mendaratkan pukulan tepat di ubun-ubunnya.


Sean hanya menggeleng, sudah dia duga Axel berpotensi. Hanya memang belum menemukan tempatnya saja, saat ini Sean meminta saudaranya untuk juga turut berperan dalam proses Axel.


"Aku mencarimu ke rumah, kata pak Wan di sini ... tumben sekali, Sean," ungkap Axel kini duduk di sebuah kursi tunggu yang tersedia di sana.


"Haha biasa, permintaan ibu hamil."


"Hampir melahirkan memangnya masih ngidam?" tanya Axel terkekeh pelan, seingatnya, kemarin Ana sempat mengatakan bahwa Zalina tidak lama lagi akan melahirkan.


"Katanya rindu saja, aku tidak tahu alasannya ... permintaan bayi atau istriku sendiri, yang jelas aku melakukan permintaannya."


"Sepertinya menyenangkan ya, Sean ... ibu hamil memiliki cerita sendiri di setiap kehamilannya, kata Ana dulu dia hamil tidak banyak permintaan, tapi benar-benar membenciku," tutur Axel terlihat sedih usai mengatakannya.


"Soal itu bukan ngidam sepertinya, tapi ibunya yang benci hahaha."


"Siallan, kenapa kau pertegas begitu!!" gerutu Axel menyesal sekali bercerita.


Tiin tiiin


"Guys kalau mau jalan injak yang mana? Aku belum bisa mengemudi sebenarnya."


Axel panik, Sean juga panik kala melihat Ricko sudah berada di dalam mobil Axel. Keduanya berlari menghampiri Ricko, tapi di detik itu juga mobil baru Axel berjalan dalam penguasaan Ricko.


"Astaga, Ricko awas kau belum bisa, Badjingan!!"


Belum kering bibir Sean, mobil Axel kini menabrak gerobak tahu bulat yang berada tak jauh dari bengkel Sean. Kecelakaan itu tak dapat terhindarkan, beruntungnya Ricko masih mampu menghentikan mobil itu hingga tidak ada korban jiwa, tapi tetap saja Sean kembali harus mengeluarkan uang untuk ganti rugi dan memperbaiki goresan di mobil baru Axel.


"Rickooooo!! Otakmu dimana?!!"


"Aman, Se ... aku tidak terluka, kepalaku juga aman, ayo bantu bapaknya ... kita harus selamatkan tahu-tahu yang masih bulat."


"Otakmu yang bulat!!"


.


.


- To Be Continued -