
Setengah hari nan panjang bersama sang istri dia lewatkan juga, dengan mengikuti beberapa permintaan aneh Zalina tentu saja. Jika hanya diminta membelah kelapa jelas saja Sean bisa, bahkan menebang pohonnya juga bisa.
Begitu juga dengan jus alpukat, andai Zalina minta Sean membeli kebunnya juga Sean akan turuti. Apapun, selagi istrinya bahagia dia juga akan merasakan hal yang sama. Terlebih lagi, sewaktu di penjara Zalina hamil tanpa dia temani, Sean hanya ingin menebus kesalahannya.
Ba'da shalat dhuhur Sean memutuskan untuk pulang, mereka hanya memastikan keadaan rumah sebelum ditempati beberapa hari lagi. Sebenarnya meski tidak diperiksa saat ini, mbak Mina sudah pasti sudah bersiap untuk menyambut mereka.
Selama perjalanan pulang keduanya sama-sama membisu dan tenggelam dalam keheningan. Zalina melirik sang suami melalui ekor matanya, wanita itu sedang bertanya apa mungkin dia berlebihan? Tapi jika dia pikir-pikir lagi Sean lebih menyebalkan lagi.
Hutang Abrizam tiba-tiba lunas dan sertifikatnya kembali, padahal sang kakak sama sekali tidak menerima uang 2,8 M yang Sean janjikan setelah meminta Zalina menandatangi surat perjanjian itu beberapa waktu lalu.
Parahnya lagi, Ayunda menghubunginya kemarin dan meminta kejelasan kenapa hutang Abrizam justru beralih menjadi tanggung jawabnya sendiri. Jelas Zalina mengerti jika perjanjian itu hanya akal-akalan sang suami.
Soal dia yang tidak nyaman dengan aroma tubuh Sean memang benar, dia tidak berbohong sama sekali. Namun, ketika dia menyadari jika terjebak tipu muslihat Sean, Zalina justru berpikir lain dan memanfaatkan kesempatan itu. Hanya sedikit, Zalina hanya ingin memberinya pelajaran karena bukan sekali dua kali Zalina melarang sang suami berbohong.
Tadi malam, niat awal Zalina hampir kacau kala Sean berhasil membuat hatinya membengkak dengan menyebut nama Ana. Sekalipun dia tahu jika sang suami sedang mengelabuinya, tapi ucapan Sean yang seolah benar-benar mengutamakan Ana membuat hatinya benar-benar tidak terima sebagai wanita.
Hingga, keinginan untuk membuat Sean semakin sakit kepala seakan menggebu-gebu. Biasanya dia pemaaf sebenarnya, tapi kali ini sesuatu dalam diri Zalina merasakan hal berbeda dan menginginkan Sean tersiksa, bisa dikatakan dendam atau apa Zalina juga tidak mengerti.
"Gaji para karyawan sudah ... bayaran listrik dan yang lainnya juga sudah, apa lagi ya?"
Jika Zalina kini tengah memikirkan sang suami, Sean justru berbeda. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah dia rasakan, yang jelas firasatnya tidak baik dan aneh saja.
Sean gusar, dia benar-benar tak tenang bahkan mengemudi saja seakan tidak fokus. Beruntung saja Zalina menepuk pundak pria itu kala seorang pengendara motor yang ada di depannya berhenti mendadak.
"Mas kenapa? Mau minum?"
"Tidak, Na."
Zalina hanya mengangguk pelan kemudian bersandar dan terus memerhatikan Sean melalui ekor matanya. Sama sekali tidak Sean sadari jika sang istri sejak tadi menjadikannya sebagai fokus utama.
Pikirannya hanya menerka apa yang akan terjadi setelah ini. Karena biasanya firasat seorang Sean tidak pernah meleset, mungkinkah dia akan tertimpa bencana besar? Jangan!! Seketika Sean menggeleng cepat.
"Kamu?" Memangnya bisa?" Sean mengerutkan dahi, satu hal yang Sean lupakan jika sang istri tinggal bersama keluarganya selama dua tahun.
"Bisa, aku mau coba di jalan raya, Mas ... dulu sama Lengkara belum soalnya."
"Itu belum bisa namanya."
Zalina hanya terkekeh pelan, sudah dia duga responnya akan sama seperti dua tahun lalu. Tepatnya ketika Zalina pamer sudah bisa mengendarai motor, bedanya Zalina tidak membangkang kali ini.
Demi mengembalikan fokus Sean, sang istri bercerita beberapa hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Hanya sekadar bicara agar sang suami tidak berhalusinasi seperti tadi. Keduanya terlihat hangat, seakan tidak terjadi apa-apa sebelum ini.
Hingga, suasana kembali menjadi hening kala mereka tiba di kediaman kiyai Husain. Zalina menatap bingung ke arah sang suami, sementara Sean panas dingin begitu melihat siapa yang tengah duduk manis di sofa teras depan.
"Sial!! Kenapa harus datang sekarang!! Waktunya tidak tepat, astaga mau bagaimana aku menjelaskannya pada Zalina nanti."
"Tamu kamu ... ternyata lebih cepat dari yang kuduga, turunlah sepertinya dia sudah menunggumu."
Baru saja beberapa menit lalu suasana hati istrinya membaik dan mau bicara banyak. Kini, Zalina mendadak dingin dan jelas saja hal itu membuat Sean mengacak rambutnya kasar seraya mengumpat dalam hatinya.
"Sean bodoh!! Tidak salah jika Papa selalu kecewa sewaktu sekolah."
.
.
- To Be Continued -