
"Ah syukurlah akhirnya sudah sampai ke rumah." Batin Aaron.
"Ibu,kita sudah sampai."
"Sayang turun pelan pelan ya."
Ucap Aaron.
Sora hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka turun dari mobil dan Aaron bergegas menghampiri sora.
Sora berjalan dengan pelan dan di papah oleh Aaron dan mamanya.
"Maa...,sayang.. Aku enggak sakit,kenapa kalian memapah aku seperti orang sakit sih."
"Sayang,aku lihat wajah kamu tuh udah pucat,kalau kamu enggak mau aku papah,aku gendong aja." Ucap Aaron.
"Hah,enggak enggak,aku ngak mau." Jawab Sora.
"Kenapa?"
"Bukankah kamu suka kalau aku menggendongmu."
"Ah,apaan sih,kamu ngak liat masih ada mama,malu kan."
"Iya iya,aku tak akan menggendongmu di sini,tapi nanti di kamar." Goda Aaron.
"Pluk."
Pukulan kecil mendarat di dada Aaron yang berasal dari tangan Sora ketika Aaron menggodanya.
Olivia yang mendengar pembicaraan mereka hanya tersenyum.
"Mereka serasi sekali,pilihan kami tak salah telah menyetujui kalian bersama." Batin Olivia.
...
"Aaron..."
Panggilan lembut yang keluar dari mulut nenek ketika Aaron masuk ke dalam rumah besar.
"Nenek." Balas Aaron dan memeluknya dengan lembut di ikuti oleh Sora dan Olivia yang memeluk nenek secara bergantian.
"Bagaimana kabar nenek?"
"Nenek tidak kelelahan kan?" Tanya Aaron.
"Nenek baik baik saja." Jawab nenek setelah itu pandangan nenek teralihkan pada perut Sora yang sudah terlihat membuncit.
"Sayang kau dan mamamu pasti lelah kan? Nenek sudah menyiapkan kamar kalian."
"Bagaimana dengan cicitku?" Tanya nenek sambil mengelus elus perut Sora.
"Baik baik saja nek."
"Mereka tak pernah menyusahkanku nek." Jawab Sora.
"Mereka?"
"Apa mereka ada dua." Ucap nenek.
"Iya nek."
"Mereka kembar." Jawab Aaron.
"Hahaha."
"Nenek merasa bahagia sekali,Tuhan menjawab doa nenek."
"Nenek berdoa agar kalian punya banyak anak."
"Nenek tak perlu kuatir aku akan memberikan banyak sekali cicit untuk nenek." Ucap Aaron dengan senyum yang lebar.
Sora membelalakkan matanya mendengar ucapan Aaron,dan tak sanggup untuk berbicara.
"What,di pikir aku pabrik anak apa?" Batin Sora.
****
Pantulan cermin memperlihatkan senyuman cerah di bibir Sarah dan tepukan lembut yang mendarat di permukaan wajah Sarah membuatnya semakin berbinar binar,pelan pelan Sarah meratakan bedak yang telah di usapkan pada wajahnya.
Tak ketinggalan lipstik yang berwarna pink roses menyapu dengan perlahan di bibirnya.
Harapan Sarah untuk bertemu dengan Aaron sebentar lagi akan terjadi,itu yang ada dalam pikirannya.
"Pasti kak Aaron akan terpesona melihatku."
"Dan aku akan membuatnya jatuh cinta padaku."Batin Sarah yang sudah tak sabar untuk menemui Aaron.
Setelah memastikan make up di wajahnya terlihat sempurna,Sarah berdiri dan meraih tas kecilnya lalu dengan percaya diri berjalan dan keluar dari kamarnya.
Hanya beberapa langkah sebelum Sarah membuka pintu seorang pengawal menghalanginya.
"Nona maaf anda tak di ijinkan tuan muda untuk pergi."
"Apa kata mu?"
"Apa aku harus meminta ijin pada kakakku jika aku ingin pergi?" Ucap Sarah dengan nada marah.
"Benar."
"Maafkan saya nona." Jawab pengawal itu.
Sarah segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menelepon kakaknya.
"Kak Vian! Sejak kapan aku harus meminta ijinmu jika aku ingin keluar rumah?"
"Sarah,kamu masih sakit,kakak nggak mau jika sesuatu terjadi pada kamu." Jawab Vian dari seberang telpon.
"Aku enggak sakit kak...dan tak akan terjadi sesuatu padaku!"
"Kakak tau kan hari ini kak Aaron datang ke sini,aku ingin bertemu dengannya."
"Sarah lebih baik kamu bertemu dengan Aaron saat acara berlangsung,oke."
"Saat ini pasti Aaron merasa lelah."
Namun Sarah terdiam,dan berusaha melampiaskan kemarahannya karna larangan dari Vian.
"Rah kamu dengar kakak kan?"
"Sarah.."
"Oke oke,kamu tunggu kakak."
"Kakak akan mengantarmu ke sana."
Mendengar keputusan Vian Sarah tersenyum lebar. "Yes." Batinnya.
"Oke,aku akan menunggu kakak."
...
"Oh Tuhan..."
"Apa yang akan aku katakan pada Sarah."
Batin Vian sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku tak bisa membiarkan Sarah mengganggu Aaron lagi,aku harus bisa melindunginya kali ini."
"Aku merasa lega dia melupakan kejadian itu,tapi kenapa ingatan Sarah hanya saat Aaron belum menikah."
"Sial." Vian mengucap dengan kemarahan dan memukul meja dengan kepalan tinju tangannya.
"Aku harus membuat Sarah mengerti dan menerimanya."
Vian bergegas keluar dari kantor dan pulang ke rumah.
...
Sarah berdiri di depan pintu menunggu Vian yang pulang untuk mengantarnya ke rumah besar.
Rasa tak sabar yang hinggap pada Sarah membuatnya mondar mandir dan sesekali menatap pintu.
"Bukankah itu suara mobil kakak." Batin Sarah senang.
Sarah berdiri dan menghampiri Vian yang sudah masuk ke dalam rumah lalu bergelayut di lengan Vian dengan manja.
"Kak kenapa kakak mengurungku sih?"
"Aku hanya ingin ke rumah besar."
"Nenek menghubungiku memintaku untuk datang ke sana."
"Kamu tau Rah kakak tak akan menghalangimu bertemu nenek."
"Tapi kakak tak ingin jika kamu mengganggu Aaron."
"Mengganggu?"
"Aku?"
"Kak! Aku nggak mengganggu kak Aaron,aku hanya ingin bertemu dengannya."
"Apa itu salah?"
"Kenapa sih kakak gak ngertiin aku."
Vian memijit kening dan menghela nafasnya,menyusun kata kata dalam kepalanya agar Sarah mau memahami keadaan sekarang.
Vian meraih pergelangan tangan Sarah dan memintanya untuk duduk.
"Rah,dengerin kakak."
"Kamu enggak salah jika kamu mencintai seseorang."
"Tapi kamu salah jika mencintai suami orang."
"Suami?"
"Maksud kakak apa?" Jawab Sarah dengan ekspresi bingung.
"Kakak akan beritahu kamu."
"Pesta yang akan di adakan oleh nenek adalah merayakan pesta pernikahan Aaron."
"Aaron sudah menikah Sarah."
"Menikah?"
"Kak Aaron udah nikah?"
"..."
"Enggak mungkin!"
"Kakak bohong kan?"
Sarah berusaha menyangkal berita yang baru saja dia dengar,dan berlari menuju pintu.
"Rah kamu mau kemana?" Teriak Vian dan ikut berlari menyusulnya,Vian berusaha menahan Sarah agar tak melakukan sesuatu yang dapat menyakiti dirinya sendiri.
"Aku harus memastikan sendiri kak."
"Aku mohon..."
Ucap Sarah dengan terisak isak,lalu merubah wajah sedihnya dengan senyuman dan menyeka air matanya sendiri.
"Kakak aku janji,setelah aku memastikan semua aku akan mundur untuk mendekati kak Aaron."
"Ku mohon kak.."
"Antar aku ke sana."
"Baiklah."
"Setelah kamu memastikannya kamu harus menjauh dari Aaron."
Sarah mengangguk senang dengan ucapan kakaknya.
Mereka berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.
Vian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melirik Sarah dalam diam.
"Semoga Sarah tak membuat masalah saat bertemu Sora."
"Aku nggak akan diam saja saat kamu berbuat kesalahan untuk kesekian kali Rah."
"Kakak harus menjaga dan melindungimu."
"Aku berjanji pada mama akan selalu berada di sampingmu dan menjagamu."
Batin Vian.