
"Zalina ...."
"Ayolah, Mas ... aku tidak pernah sebelumnya, dulu pas hamil Habil sama Ima juga pengen tapi takut kalau tidak sama kamu," tambahnya lagi, mengatasnamakan ngidam, tapi Sean merasa permintaan Zalina kali ini sedikit aneh.
"Tidak yang lain saja, Sayang?" tanya Sean berharap Zalina akan memberikan permintaan yang lain, jangan bianglala atau semacamnya.
"Ehm naik ke punjak rinjani?"
Zalina sudah mengada-ngada, ini tidak lagi seperti dia yang sebenarnya. Beberapa hari lalu Zalina juga mengatasnamakan ngidam, ternyata marah besar. Jelas saja Sean dapat menangkap maksud istrinya kali ini, tanpa perlu dijelaskan Zalina tengah mengungkapkan kecemburuan sepertinya.
"Bercanda ... naik bianglala saja, kata mas Abrizam ada pasar malam, kita kesana minggu depan gimana?"
Pasar malam? Sean tahu bagaimana ramainya tempat semacam itu. Ingin dia tolak, tapi besar kemungkinan Zalina marah dan biasanya tidak terduga. Sean tidak ingin membuat hati sang istri terluka sebenarnya, tapi dengan cara Zalina yang begini Sean merasa wanita itu tengah mengasah belati untuk melukai diri sendiri.
"Jangan sakiti dirimu, Zalina ... mas paham isi otakmu, jika memang cemburu katakan saja mas tidak masalah."
Beribu kali Sean berusaha membuatnya cemburu dan berakhir gagal. Kali ini Zalina sama sekali tidak mengatakan dia cemburu, ekspresi wajahnya juga biasa saja, tapi rasa bersalah Sean luar biasa.
"Mas kenapa mikirnya sejauh itu? Mas keberatan ya ajak aku naik bianglala? Atau tidak biasa ke pasar malam?"
Sebenarnya dua-duanya, sejak kepergian Leona dia membenci wahana itu. Sean enggan mengulang dan juga malas setelah mendengar lokasi yang Zalina tentukan. Jika dia masih sendiri mungkin biasa saja, tapi akan membawa serta Zalina otak Sean sama sekali tidak bisa berpikir dengan baik.
"Tidak, mas tidak keberatan kamu ajak naik kingkong sekalipun ... tapi apa tidak ada tempat lain, Zalina?" tanya Sean mulai hiperbola, memang dia tidak bermasalah Zalina ajak kemana saja. Namun, mengingat tempat itu ramai dan Zalina tengah hamil muda, Sean takut saja.
"Kan sekalian beli jagung bakar sama kacang rebus, Mas ... mas tidak pernah, 'kan?"
"Pernahlah, kamu pikir mas hidup dimana? Pasar malam mah kecil."
Meski Sean dari keluarga kaya, tapi dia menghabiskan masa kecil diberbagai tempat dan teman dari berbagai kalangan tentu saja. Oleh karena itu dia tumbuh menjadi pribadi yang berbeda, mental Sean seolah dididik dengan lingkungan yang dia cari sendiri. Berbeda dengan Zean yang justru lebih betah dengan didikan Mikhail dan zona amannya saja.
"Ya siapa tahu, orang kaya tidak pernah pergi ke tempat begituan."
Zalina sudah termasuk kaya, tapi di mata Zalina keluarga sang suami adalah keluarga paling kaya yang pernah dia lihat. Bahkan, pertama kali Zean datang untuk meluruskan masalah mereka saja sudah menjadi pusat perhatian.
Ditambah lagi, ketika Zalina mengenal sanak saudaranya. Jelas saja dia berpikir jika masa kecil Sean dulu pemilih soal tempat. Ya, meski dia tahu suaminya agak nakal, tapi jika hanya sekadar cuci mata mungkin Sean akan memilih tempat lain, pikir Zalina.
"Sering, Na ... mas bahkan pernah nekat ambil uang papa diam-diam demi bisa ke pasar malam dulu," ucap Sean mengusap lembut puncak kepala sang istri.
"Hm, dulu uang jajan mas dipotong karena berantem sama anak kepala sekolah ... padahal mas punya sudah janji mau traktir temen-temen besok malamnya, jadi ya terpaksa curi uang papa."
Sejak tadi Zalina tampak sendu menatapnya, kini gelak tawa itu benar-benar lepas ketika sang suami menceritakan masa remaja. Agaknya hingga akhir, lembaran hidup Sean akan selalu menjadi bagian favorit menurut Zalina.
"Tapi kenapa tadi mas keberatan kalau kita ke pasar malam?" tanya Zalina dengan kening berkerut, jika memang suka kenapa reaksinya begitu berlebihan, pikir Zalina.
"Ramai, desak-desakan ... kamu hamil, mas takut saja kamu jadi pusat perhatian laki-laki lain di sana." Semakin dewasa, Sean memang semakin tidak begitu menyukai keramaian, tapi selain itu jelas ada alasan kenapa dia keberatan dengan pilihan Zalina.
"Kenapa pikiranmu sejauh itu?"
"Kamu tidak tahu isi otak laki-laki ... apalagi laki-laki beranjak dewasa, lihat yang bening sedikit saja beuh bahaya, Na, sumpah."
"Mas dulu begitu berarti ya?" selidik Zalina mencebikkan bibirnya, sang suami yang tampak gusar seolah mencerminkan dia takut terkena karmanya.
"Tidak, enak saja," ucap Sean mengalihkan pandangannya, tatapan curiga sang istri benar-benar membuat pria itu kehilangan percaya diri.
"Mas tidak bohong untuk kali ini, otak mas memang agak messum, tapi bukan berarti sekotor itu juga," ucap Sean mengusap wajah sang istri karena memang sejak tadi, matanya tidak berkedip sama sekali.
"Tapi intinya mau ya? Sekali saja ... nanti anak kita ileran lagi seperti kakaknya, Mas," rayu Zalina kembali ke topik pembicaraan, sejak tadi mereka sudah bicara banyak tapi Sean belum mengiyakan ajakan istrinya.
"Kamu benar-benar ngidam? Bukan karena yang lain?" tanya Sean menatap lekat manik indah sang istri.
"Hm, ngidam." Zalina mengangguk pelan, sadar jika Sean tengah membaca kebohongannya, Zalina menghindar segera.
Sean menghela napas panjang sebelum memberikan keputusan. Hingga, ketika dia menganggukkan kepala, sang istri menghambur ke pelukannya sembari mengucapkan terima kasih berkali-kali. Hanya pasar malam, tapi bahagia Zalina justru seluas itu.
"Oh iya, tanya satu lagi ... boleh ajak adik-adik kamu sekalian? Biasanya kalau mereka senang-senang aku selalu diajak, Mas."
"Adik-adikku? Maka termasuk Zean si mala petaka itu?"
.
.
- To Be Continued -