
Dua hari Sora berada di rumah sakit,hanya Aaron,Jean,dan beberapa orang yang tau jika Sora di rawat di rumah sakit.
"Apaan sih sayang,dari tadi ngelus elus,geli tau gak."
"Biarin,biar baby arsi ma arsa ntar deket ama papanya." Ucap Aaron yang sedari tadi mengelus perut Sora.
"Arsi Arsa?"
"Kan baby nya ada tiga?"
Aaron yang mendengar pertanyaan Sora menghentikan tangannya lalu memindahkannya ke pipi Sora,dan memeluknya.
"Ada apa ya,kenapa Aaron baper gini."
"Apa jangan jangan...?" Batin Sora.
Sora mendorong Aaron dan memperhatikan raut wajahnya.
"Sayang kamu gak nutupin apa apa dari aku kan?" Tanya Sora.
Tak tau harus berkata apa Aaron hanya menjawab dengan senyuman.
"Kok gak di jawab sih."
"Apa terjadi sesuatu dengan anakku?"
Sora yang khawatir langsung mendorong Aaron menjauh dari dirinya,setelah itu Sora turun dari bed hospital dan berpikiran untuk menanyakan langsung pada dokter.
"Sayang kamu mau kemana?"
"Aku mau cari dokter."
"Enggak enggak,kamu gak boleh turun."
"Biar fredy yang manggil dokternya ke sini." Aaron segera menahan Sora agar tetap diam di tempatnya.
Fredy yang berada di situ,setelah mendengarnya segera melangkahkan kakinya mencari dokter yang menangani Sora.
Setelah dokter datang Aaron menggenggam tangan Sora untuk menguatkannya.
"Nyonya sebaiknya anda tetap di tempat tidur."
"Agar bayi anda bisa cepat pulih."
"Dok apa bayi saya tidak apa apa?"
"Mm..kedua bayi anda tidak apa apa,saya memberi obat penguat janin untuk bayi anda."
"Anda harus bed rest selama seminggu."
"Dok bayi saya ada tiga,kenapa anda bilang dua?"
"Mm.."
Dokter mengerti,ternyata Aaron belum menyampaikan pada Sora perihal salah satu bayinya yang sudah meninggal.
"Nyonya saat anda mengalami musibah dan anda terbentur,salah satu bayi anda tidak bisa bertahan."
"Tapi anda tidak perlu khawatir kedua bayi yang lain masih hidup,mereka bayi yang kuat."
"Dan anda harus menjaga diri anda.
Terang dokter.
"Baik dok saya mengerti." Jawab Sora dengan hati yang sedih.
Setelah memberi penjelasan kepada Sora,dokter keluar dari kamar.
"Sayang gak usah sedih ya,nanti baby Arsi Arsa ikutan sedih kalo mamanya sedih."
Sora hanya diam menunduk,bersedih karna kehilangan salah satu bayinya.
"Ke depannya apapun yang aku bilang kamu nurut ya." Ucap Aaron.
Sora mengangguk pelan dengan air mata yang keluar dari matanya,Aaronpun menenangkan Sora dengan pelukan.
***
"Praank."
Vian melampiaskan kemarahannya dengan mendorong benda benda yang ada di atas meja hingga jatuh dan berserakan di lantai.
"Sudah beberapa hari kalian tak bisa menemukan petunjuk apapun!"
Teriak Vian.
"Maaf tuan,sepertinya ada seseorang yang menutupi kejadian ini,tak ada satupun bukti yang ditemukan di tkp."
"Apa maksudmu!?"
"Apa kau pikir adikku telah menyinggung seseorang?" Ucap vian yang marah dan menarik kerah orang itu.
"Tuan sebaiknya anda pelan pelan tanyakan pada adik anda,dia bertemu dengan siapa saat kejadian itu menimpanya."
"Saya sudah berusaha mencari dengan berbagai cara namun tak menemukan apapun."
Dengan evil smirknya Vian melepaskan kerah baju orang itu.
"Aku beri kalian kesempatan,temukan sekecil apapun petunjuk yang tertinggal."
"Baik tuan."
Para anak buah Vian bergegas meninggalkan ruangan itu.
Dengan hati yang sangat sedih dan hancur Vian melangkah dengan gontai menuju kamar Sarah.
"Klek."
Vian membuka pintu kamar sepelan mungkin agar Sarah tak terkejut.
Terlihat Sarah duduk di kursi dekat jendela,diam seperti patung dan memeluk bantalan kursi dengan memandang jauh di luar jendela,terlihat mata yang sembab dan wajah yang pucat pada wajahnya.
Vian mendekatinya,membelai rambutnya dan memeluknya dalam dadanya.
"Maafin kakak Rah."
Vian tak kuasa melihat keadaan Sarah dan meneteskan air matanya tanpa bersuara.
Mendengar suara Vian kedua tangan Sarah memegang erat pergelangan tangan Vian,dan meneteskan air matanya.
Vian yang merasakan respon Sarah terlihat senang,melepaskan pelukannya lalu memegang kedua bahu Sarah.
"Sarah kau ingat kakak kan."
Sarah mengangguk dan menundukkan kepalanya.
"Sekarang katakan kepada kakak,siapa yang melakukan ini pada kamu?"
Sarah hanya diam dan menangis.
"Katakan pada kakak siapa yang melakukan ini sama kamu?!"
"Sarah katakan!!" Teriak Vian lebih keras dengan menguncang tubuh Sarah.
Sarah yang ketakutan mengangkat kakinya ke atas kursi dan menguncinya dalam lingkar tangannya.
Mendengar teriakan Vian,Sarah menangis meraung raung,memeluk tubuhnya sendiri dan berkata.
"Jangan..hiks,jangan ku mohon jangan lakukan itu padaku."
"Aaah.." Sarah berteriak sambil menutup kedua telinganya.
Tiba tiba Sarah berlari dan mengambil gelas yang ada di meja,memukul pinggiran gelas kaca dan mencoba untuk menyayat pergelangan tangannya dengan tepi gelas yang telah pecah.
Vian bergegas mengambil gelas itu kemudian memeluk Sarah agar tenang.
"Maafkan kakak."
"Kakak tak akan bertanya lagi."
"Tenang,kakak tak akan menyakitimu."
Ucap Vian dan menenangkan Sarah dengan mencium keningnya.
Sarah yang mendengar perkataan Vian tak henti hentinya menangis dalam pelukan Vian.
***
Setelah malam pesta pergelaran pernikahan Aaron,esoknya Calista meninggalkan negara A.
Malam hari di rumah keluarga Alves...
"Kak Eric,kita harus percepat rencana kita untuk mengakusisi M grup."
"Gak usah terburu buru." Ucap Eric Alves sambil menggoyang goyangkan gelas yang berisi wine,lalu meminumnya.
"Kau tau sendiri Aaron bukan orang yang mudah di hancurkan,kalau kita tak berhati hati kita sendiri yang akan hancur."
"Saham kita belum cukup untuk mengakusisinya,hanya tinggal beberapa persen."
"Jika orang tua itu belum jug mau menjualnya pada kita,akan kuhabisi dia."
"Menurutku sih kakak terlalu lembek buat nangani hal sepele kayak ini." Ucap Calista.
"Hei nona!" Kau kira siapa yang bikin masalah ini gak selesai?" Teriak Eric lalu meletakkan gelasnya,sedikit terpancing dengan perkataan Calista.
"Apa jangan jangan kamu bikin ulah lagi heh."
"Emmm.. enggak kok." Calista gelagapan menjawab pertanyaan dari Eric.
Sambil melotot Eric mendekatkan wajahnya di depan wajah Calista.
"Kamu gak bisa bohongin kakak."
"Beberapa hari ini kakak tak bisa menghubungi Ronald,dia menghilang dan terakhir dia terlihat berbicara denganmu kan."
Calista hanya diam,membalas dengan menatap tajam pada mata Eric.
"Kakak peringatin lagi ya,jika papa tau orang orang terbaik kita hilang,mungkin kau tak akan bisa jalan jalan lagi di luar." Eric mengancam Calista dan menjepit kedua pipi Calista dengan satu tangannya dan melepaskan dengan kasar.
"Sialan." Umpat Calista.
"Aduh,kan Ronald udah mati,aku harus cari cara nih agar papa gak marah." Batin Calista.
"Kak kau itukan kakakku,kau harusnya bantuin adikmu."
"Dan juga...Ronald udah mati,kemarin dia aku suruh buat nyulik istri Aaron."
"What?!"
"You are stupid."
"Urus sendiri ulah kamu."
Eric berdiri dan keluar ruangan setelah berkata pada Calista.
"Kaak!!" Teriak Calista.
"Pliss kak,bantuin Calista."
Calista berjalan cepat dan menarik lengan Eric.
"Enggak!" Eric melepaskan cengkeraman tangan Calista dengan kasar.
"Oke,bukankah masalah yang aku lakukan akan berimbas pada kakak."
Eric menghentikan langkahnya ketika Calista berbicara.
"Papa pernah bilang kan untuk bantuin dan ngawasi aku."
"Kalau aku bikin ulah,kira kira apa yang akan papa lakukan pada kakak?"
Eric berbalik dan berjalan ke arah Calista.
Menjepit pipi Calista dengan satu tangannya.
"Kamu pikir kakak akan bantuin kamu."
"Of course."
"Aku akan berikan tiga persen sahamku."
"Gimana?"
"Lima." Tawar Eric.
"Oke,deal."
"Deal,kakak beresin masalah yang kamu buat,tapi mulai sekarang kamu harus beritahu apapun yang kamu kerjakan."
Calista tersenyum dengan satu ujung bibir terangkat dan setelah itu Eric pergi meninggalkan Calista dengan wajah piciknya.