Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part - The Last Extra Part


Sean merasakan banyak luka, tidak terhitung berapa banyak air mata yang luruh selama ini. Selalu saja, setiap kali menatap jemari mungil yang membuat darahnya seakan tumpah satu bulan lalu, Sean meneteskan air mata.


Bagaimana tidak, kehadirannya begitu dinanti dan kelahiran sang buah hati tinggal menghitung hari. Musibah yang tiba-tiba menimpa Zalina membuat Sean jelas saja membuat Sean hampir gila.


Beruntungnya setelah drama panjang itu, Zalina dan sang anak berhasil di selamatkan. Sudah tentu kasih sayang Sean berlipat ganda, hanya karena khawatir kejadian itu terulang lagi, Sean memilih pindah kamar.


"Mas, kenapa merenung?"


"Hm? Tidak ... mas sedang bertanya padanya, kenapa harus lahir dengan cara seperti itu."


"Salahku, bukan salahnya," tutur Zalina tersenyum hangat, sejak kejadian itu memang Sean terlihat sedikit berbeda.


Zalina tidak ingin Sean menyalahkan siapapun. Karena memang sebenarnya tangga itu belum kering akibat Mina membersihkan minuman Habil yang tumpah, mungkin terlalu berlebihan ketika menyiram airnya. Kendati demikian, dia tidak ingin Sean membesar-besarkan masalah.


"Salah mas kenapa rumahnya harus dua lantai, harusnya satu saja."


Zalina hanya tersenyum simpul, salah-satu alasan dia mencintai Sean adalah dari caranya memperlakukan wanita, terutama istri. Sekalipun dia kasar dan kerap tegang urat bersama sahabatnya, tapi kepada anak dan istri dia sangat lembut.


Lengkap sudah kebahagiaan mereka, dikarunia tiga anak di usia pernikahan yang masih tergolong muda. Pernikahan tanpa pendekatan, bahkan cinta belakangan ternyata sebahagia ini akhirnya.


Walau tentu saja yang menjadi masalah pertama adalah kecemburuan Iqlima, tapi hal itu jelas bisa Sean hadapi. Setelah dahulu kerap menangis jika Sean memanjakan istrinya, kali ini Iqlima cemburu lahir batin karena Sean lebih intens kepada adiknya.


Sementara Habil jelas saja tidak begitu peduli, bahkan mungkin bersyukur pria itu tidak lagi mengusik dan membuatnya menangis setiap hari. Saat ini, tangisan masih didominasi Iqlima yang serba salah dan tidak suka melihat adiknya menyusu sementara dia tidak lagi diperbolehkan sejak lama.


"Mauuu ladii, umii."


"No, tidak boleh ... dulu Ima sendiri yang bilang asem, iya, 'kan?"


Sudah cukup lama disapih, dan dia baik-baik saja. Anehnya ketika melihat adiknya menyusu, Iqlima berubah pikiran. Pengasuhnya tidak lagi mempan, terpaksa Sean mencari Ricko agar sang putri tenang sedikit. Entah apa pesona Ricko hingga berhasil menaklukan putri Sean.


"Ajak jalan-jalan, jangan kejauhan," titah Sean pada pengasuh tanpa gaji itu.


"Okay ... Ima sama om sini, biar dedek Anja sama abi ya."


Sean berdecak kesal mendengar ucapan Ricko. Susah payah dia mencari nama yang pas untuk sang putra, bisa-bisanya seorang jagoan bernama Syauqi Altar Ebrahim itu dia ganti Andja (Anak dari penjara).


"Bisakah kau berhenti memanggilnya Andja?" tanya Sean lesu, dia sudah malas bertengkar saat ini.


"Kenapa? Bagus kok ... Andja (anak dari penjara) iya, 'kan, tuan putri?" Ricko meminta pembenaran dari Iqlima atas ucapannya.


"Butan, Om, dede Aqi."


"Andja!!"


"Aqiii"


"Andja saja, kan bagus lebih manly."


"Aqi, Om."


Terserah mereka saja, tidak ada yang waras memang dan Sean enggan bergabung untuk saat ini. Biarkan mereka berdebat sampai akhir menjelang magrib, tinggal lihat saja siapa yang lelah nantinya.


Saat ini Sean memang merasa sedikit kehilangan tenaga. Keluarga besarnya baru saja pulang ke Jakarta, sudah tentu kepalanya memang sedikit sakit menghadapi keponakan dan buah hatinya bertikai setiap waktu.


"Ricko mana?"


"Keluar, biarkan saja dia ... masuklah."


Terkadang tanpa Ricko suasana lebih tenang, mereka melangkah memasuki rumah mewah itu. Setelah menghabiskan waktu ke luar kota bersama Axel dan Satria, Ana merindukan Zalina dan juga buah hatinya.


Tiba di ruang keluarga, sudah tentu yang menjadi tujuan utama Ana adalah bayi mungil Zalina. Sudah begitu lama dia tidak menimang bayi sekecil ini, Satria sudah besar dan jelas dia merindukan masa-masa itu.


"Mom, Satria mau yang seperti ini," pinta Satria tiba-tiba yang membuat kelopak mata Ana berkedip pelan.


Siapapun yang di ruangan itu mengerti bahwa Ana tidak akan pernah bisa mengabulkan permintaan Satria. Hingga, secepat mungkin Zalina menghibur Satria dengan kata-kata yang begitu menyejukkan.


"Satria ... dedek Syauqi punya Satria juga," tutur Zalina lembut, tanpa perlu dijelaskan dia paham betul sesulit apa Ana mengatakan hal itu pada Satria.


"Boleh, Tante?"


"Tentu saja boleh, Sayang."


"Nanti Ima gigit Satria lagi," ucapnya hati-hati, sejak kerap bertamu memang Satria selalu berakhir meringis akibat gigitan Iqlima, entah karena gemas atau kenapa.


"Tidak akan, adiknya sama-sama saja ya."


"Okay, Tante."


Interaksi keduanya tidak lepas dari mata Sean dan juga Axel. Keduanya bungkam dan tidak berani mengungkapkan apa-apa, sebagaimana Zalina, Sean juga paham perasaan mereka.


Tiiin tiiin


Kembali, klakson motor mulai terdengar dan bisa dipastikan dua sejoli itu sudah pulang. Rasanya baru beberapa menit, kenapa cepat sekali, pikir Sean.


Lebih mengejutkan lagi, Ricko justru melajukan motornya hingga ke ruang tamu. Bersama Iqlima yang tergelak dan mengira jika Ricko sedang menghiburnya.


"Astaga manusia ini, kau kenapa lagi?"


"Kami dikejar, Sean!!" teriak Ricko sembari membawa Iqlima dalam pelukannya.


"Kejar siapa?"


"Anjink bang Tony!!" jawabnya panik, pengalaman pernah dikejar hewan peliharaan tetangga kompleks Sean membuat Ricko trauma dan berbalik arah ketika melewati rumah pria itu, sialnya ketakutan Ricko justru benar-benar terjadi.


"Ya cocok sekali dia menjadi pengasuh Iqlima," ujar Sean antara menyesal dan tidak Iqlima begitu dekat bersama Ricko.


"Benar, cepat dan juga tanggap," tambah Axel membenarkan ucapan Sean.


.


.


~ Benar-Benar Tamat ~