
"Jangan senyum, jelek," ucap Sean menarik pergelangan tangan Zalina agar semakin mendekat.
Mendengar Sean mengatakan senyumnya jelek, Zalina sama sekali tidak tersinggung. Meski sempat terpisah dua tahun lamanya, sekecil apapun perubahan Sean dapat dia pahami. Sejak tadi Zalina memantau gurat kekesalan sang suami, pria itu sepertinya gusar berada di sisi Zean terus menerus.
"Wooooo!! Yah dapatnya boneka b4bi."
Berisik sekali pasangan itu, Sean benar-benar malu rasanya. Papa kebanggaan Hudzaifah itu sepertinya memang kurang bahagia semasa kecil, anggap saja begitu.
"It's okay, Sayang ... aku juga suka boneka ini."
"Tapi aku tidak puas!! Lelaki sejati selalu menepati janjinya dan sejak awal aku sudah menjanjikan boneka itu!!"
Sudah Sean katakan jika kencan bersama Zean sama sekali tidak ada asik-asiknya, yang ada dia sakit kepala. Memang sekarang pria itu tidak lagi menempel di keteknya, tapi justru lebih mencolok dan Sean seakan tengah menemani saudaranya kencan malam ini.
"Laki-laki sejati pret!! Mual sekali aku mendengar semboyanmu."
"Ck, kiyai satu ini punya penyakit hati rupanya ... lempar saja gelangmu, dan buktikan kau mampu mengalahkanku," tantang Zean dengan tatapan seolah tengah meremehkan Sean.
Sebagai pria sejati, jelas hatinya tergores. Jika hanya melemparkan gelang semacam ini Sean tentu saja bisa, apa mungkin pria itu lupa jika Sean mampu membidik lawannya dari jarak yang cukup jauh? Sepertinya memang Sean perlu menunjukkan kemampuannya.
"Cih, jika hanya begini kecil."
Tidak mau kalah, Sean juga ikut membanggakan dirinya. Namun, sayangnya rasa percaya diri pria itu terlalu tinggi hingga lemparan pertama justru meleset terlalu jauh.
"Hahahaha hanya segitu kemampuanmu?"
Sial, Sean tengah diejek sepertinya. Dia berdehem dan berusaha mengambil posisi dengan benar, mungkin dia yang salah lantaran kurang fokus dan menyepelekan permainan ini.
Setelah lemparan pertama gagal, Sean tidak menyerah di lemparan kedua, ketiga hingga kesekian kalinya dia masih gagal. Selama itu jelas saja gelak tawa Zean bahkan mengalahkan terompet tahun baru. Sewaktu remaja mungkin Sean pemenangnya, tapi ketika dewasa agaknya mahkota di kepala Sean sudah berpindah.
"Satu lagi ... fokus, Sean, fokus!! Kalau sampai gagal lagi malu."
Sean tengah berusaha menguatkan diri sendiri, nyawanya sisa satu kali. Itu pun karena sudah putaran kedua, Zalina memintanya berhenti, tapi jiwa Sean yang paling pantang diremehkan jelas tidak pernah menerima kekalahan dalam hidupnya.
"Menyerah saja, serahkan pada_"
"Diam!! Jangan mengganggu konsentrasiku," tegas Sean yang membuat Zalina susah payah menahan tawanya.
Sejak tadi Sean menikmati kegagalannya, tapi memang dia sama sekali tidak menyerah. Sean menatap tajam sasaran objeknya, dia bahkan tidak sadar bahwa keringat mengalir di kening hingga dagunya.
Sentuhan tangan Zalina membuatnya mengalihkan pandangan sesaat. Pria itu tersenyum simpul dengan hati yang seketika ingin terbang mendapati Zalina menyeka keringatnya di depan umum.
Coba saja jika Zean yang menyentuh kulitnya, mungkin bisa jadi patah tangan. Berhubung sang istri yang bertindak, Sean justru merasa otak dan tangannya mampu diajak kerja sama.
"Three ... two ... one!! Yash!! I got it!!"
Memang, tidak sentuhan istri adalah sumber energi paling utama. Sean berhasil mendapatkan boneka incaran saudaranya yang begitu dia dambakan sejak awal. Seketika wajah Zean berubah datar, padahal sejak awal dia sudah berjanji pada sang istri, memang benar tidak baik terlalu bahagia di awal.
Menyebalkan sekali wajahnya, secepat itu suasana berubah. Setelah sebelumnya Zean terbahak, kini hanya bisa mengatupkan bibir rapat-rapat seraya menendang angin.
"Ehem, boleh kita rundingkan lagi? Agaknya Zalina lebih cocok dengan boneka yang itu, lebih imut sementara beruang itu lebih cocok untuk istriku." Sang pebisnis tengah berusaha meminta dengan gaya sok kerennya, permintaan itu jelas menunjukkan yang menginginkan beruang madu itu adalah Zean, bukan istrinya.
"Tidak bisa, aku susah payah mendapatkannya untuk istriku ... dan menurutku boneka itu justru lucu sepertimu dan pasti sangat berguna untuk Nasyila."
"Berguna untuk apa?"
"Sebagai pemimpin perusahaan, aku tahu kau sangat-sangat sibuk, Zean ... nah dengan boneka replikamu itu mungkin akan sedikit mengobati rasa rindu Syila nanti," ucap Sean terdengar santai tapi maknanya bisa memicu perang saudara.
"Kau menyamakan aku dengan b4bi?!!"
Lihatlah, double date namanya, tapi yang Syila dan Zalina rasakan saat ini tidak lebih dari mengasuh dua pria ini. Ego tinggi, dan keduanya sama-sama suka menyulut api. Berawal dari lempar gelang, hampir saja berakhir lempar sepatu.
Hingga, Zalina menarik Sean menjauh, begitu juga dengan Nasyila. Sean mengusap wajahnya kasar, mungkin sadar jika tingkahnya barusan sedikit memalukan.
"Kamu malu, Na?"
"Tidak, Mas ... kalian lucu, nanti kalau anak kita besar pasti tidak jauh beda seperti kalian berdua." Zalina tengah berandai-andai, walau jujur saja jika sudah menggunakan emosi sebenarnya mengerikan, tapi mereka tetap lucu.
"Apa lucunya, Na, sakit kepala iya," sahut Sean terkekeh pelan, jika dibayangkan mungkin lucu, tapi bagi dia yang menjalani sama sekali tidak.
Sudah cukup menghabiskan waktu berempat bersama Zean, untuk saat ini Sean ingin memenuhi keinginan Zalina saja. Setelah sempat tertunda, kini keduanya sudah berdiri di depan bianglala yang Zalina impikan, baru saja mendekat senyum sang istri sudah secerah itu.
"Astaga ... kenapa dia di sini juga?!" Baru saja hendak tenang dan tadinya sudah dihindari, mereka kembali bertemu dan Sean ingin marah tiba-tiba.
"Kita bertemu lagi, kalian mau naik ini juga?"
"Kau mengikutiku?" selidik Sean curiga, padahal jelas-jelas yang datang lebih dulu adalah Zean.
"Cih percaya diri sekali," ketus Zean membuang muka.
"Kalian naik yang lain saja, Ze ...."
"Tidak mau, kau kira kau saja yang ingin mengenang masa lalu? Aku juga ingin mengenang masa lalu bersama Mama sewaktu di Cibubur," ucap Zean sebelum berlalu dan meninggalkan Sean yang hanya bisa mengelus dada.
"Cari mati kau, Zean!!"
.
.
- To Be Continued -
Jangan lupa tinggalkan jejak, Guys ... likenya agak dikencengin, komennya juga karena kita akan berpisah sebentar lagi.