Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 11 - Edisi Ana - Axel


Layaknya seorang pria yang tengah kasmaran, aura dari dalam diri Axel menguar sempurna. Tidak dapat ditutup-tutupi, karena pantang sendiri dia akan tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan entah apa yang dia pikirkan.


Matanya terlihat kurang tidur, tapi aneh sekali lantaran tampak segar bugar. Sepanjang jalan Sean pandangi, Axel sudah berapa kali tersandung lantaran kurang memperhatikan jalan.


"Makanya jalan pakai mata!!" Sejak tadi Sean melarang, kali ini Ricko tidak bisa menahan diri untuk tidak mendaratkan sajadah di pundak Axel.


"Gelap!! Matahari belum muncul jadi wajar aku tidak fokus."


Alasan saja, padahal jelas-jelas penerangan dari lampu jalan sudah sangat cukup. Memang dasar mata Axel saja yang menurun fungsinya. Siapa yang mengusik pikiran Axel? Ana? Satria atau justru keduanya, Sean juga tidak mengerti.


"Pret!! Padahal aslinya video call Ana sampai hp-nya panas."


Mulut ember Ricko memang tidak bisa dipercaya, menyesal sekali dia tidak mengunci pintu seperti kata Sean. Tanpa izinnya, Ricko masuk dan menangkap pemandangan bahwa sahabat karibnya tidur virtual bersama anak dan istrinya.


"Satria."


"Bohong, jelas-jelas Ana kulihat juga ... mana baju_"


"Ricko!!" Axel membungkam mulut Ricko dengan telapak tangan segera. Sebenarnya ingin pakai sendal jepit, tapi khawatir Sean marah besar.


Cukup dia yang menyadari, namanya orang tidur jelas posisinya tidaka kan sebaik itu. Begitu juga dengan Ana semalam, dadanya sedikit terbuka, tidak semua dan Axel tidak sengaja melihatnya.


"Ck lepas, ajim!! Tanganmu asin."


"Hadeuh ... apa tidak sebaiknya kalian dididik di pesantren abi saja? Kalian lihat, apa ada manusia di sini yang teriak-teriak?"


Krik Krik


Sean benar-benar menyerah dengan dua makhluk ini. Sungguh, dia benar-benar bingung bagaimana cara mendidiknya agar sedikit dewasa, minimal sesuai usia saja.


Sudah Sean ajarkan pelan-pelan untuk menjadi manusia yang baik dan diterima masyarakat. Karena pada faktanya, mereka sempat menjadi narapidana yang saat ini kembali bermasyarakat. Akan tidak lucu jika tiba-tiba mendapat kecaman dari lingkungan sekitar, pikir Sean.


Bagi Seorang Sean sama sekali tidak masalah jika Axel dan Ana menjalin sesuatu yang serius, Irham juga mengatakan Ana begitu menerima kehadian Axel sebagai ayah Satria. Meski sebenarnya bukan perkara mudah, sudah begitu lama Ana berdamai dengan dirinya. Bahkan, sebelum bertemu Sean secara langsung.


.


.


Pagi ini dibuka dengan peperangan sengit antara Axel dan Ricko, dan diakhiri dengan umpatan Ricko kala Axel berlalu pergi dengan membawa motor dan menyempatkan diri untuk menarik rambutnya.


"Aaaarrghh!! Dasar banggkee!! Tidak bisakah tidak mengusikku sedikit saja?" kesal Ricko menatap tajam Axel yang kini menghilang dari hadapannya.


Masih begitu pagi, belum genap lima menit usai shalat subuh di masjid, Axel pamit pada Sean untuk menemui Satria. Alasannya demi mengantar sang putra ke sekolah, padahal jam masuk masih cukup lama.


Selalu saja, dada Axel kembali berdebar setiap mengingat keluarga kecilnya. Keluarga? Sedikit lancang, tapi entah kenapa dia ingin saja menganggapnya begitu. Hanya butuh beberapa menit, kebetulan jarak rumah Sean menuju kediaman Ana tidak begitu jauh.


Sengaja, Sean bahkan ingin menempatkan mereka lebih dekat lagi. Bahkan, sebenarnya dia rencanakan di lingkungan yang sama. Namun, Ana yang sadar diri menolak kebaikan Sean kala itu, dia merasa tidak begitu pantas jika sudah sejauh ini.


Tiba di sana, belum ada tanda-tanda sang pemilik rumah sudah keluar. Pintu masih terkunci, begitu juga dengan tirai jendela hingga Axel tidak dapat mengintip keadaan di dalam.


Terpaksa, dia mengetuk pelan pintu utama dengan perasaan berdebar. Lagi-lagi, ya begitu saja terus sampai jantungnya pindah ke usus. Terkadang Axel kesal sendiri, dia menepuk dada agar detak jantungnya bisa diajak bekerja sama.


"Satria ... kau sudah bangun? Daddy_"


Ucapan Axel terhenti kala pintu kini terbuka tiba-tiba. Jantung yang tadi sudah tidak waras semakin menggila kala melihat Ana dalam keadaan kusut, tapi cantiknya luar biasa.


Dia menguap, memicingkan mata dan belum terlalu menyadari di hadapannya adalah Axel. Setelah subuh dia tidak sadar tidur lagi, padahal kemarin tidak begitu lelah sebenarnya.


"Aku terlalu cepat ya?"


Masih saja bertanya, manusia mana yang bertamu sepagi ini. Ana memijat kepalanya sebentar, sedikit pusing akibat terkejut mendengar suara Axel.


"Masuklah," ujar Ana mempersilahkan Axel masuk.


"Satria belum bangun, temui saja di kamarnya."


Dipersilahkan sebelum mengutarakan keinginanya tentu saja Axel bahagia. Janjinya pada Satria akan datang untuk membangunkannya pagi ini bisa ditepati, hal itu jelas membuat Satria akan bangga padanya.


Axel mengekor di belakang Ana, sejak dahulu dia akui Ana adalah gadis yang cantik. Kini, matanya diizinkan menatap Ana dewasa dalam keadaan bangun tidur. Kendati demikian, Axel tidak memanfaatkan kesempatan dengan mencuri pandang sekalipun wanita itu terlihat seksi.


"Kamar satria, kenapa malah ke kamarku?"


"Lupa, An ... maaf ya," ucap Axel menelan salivanya pahit, dia pikir sudah benar, ternyata salah besar.


"Focus, Axel, jangan terlihat sekali bodohmu."


.


.


- To Be Continued -


Sementara up, mampir dulu ke sini jika berkenan cinta.