
Di kota Maine
Di gudang kosong...
"Bangunkan dia."
Fredy menyuruh salah satu pengawal untuk menyiram seember air dingin pada orang itu.
"Byuur."
Pria itu terbangun dengan keadaan kedua tangannya terikat yang di tarik ke atas.
Tak kenal takut,pria itu menyeringai.
Menertawakan Aaron dan para pengawalnya.
"Ha ha ha,kalian pikir dengan begini bisa mencari informasi dariku."
"Aku percaya kau juga tak takut mati." Ucap fredy.
Fredy mengambil dua lembar foto dan di perlihatkan di depan wajah pria yang terikat itu.
"Tapi aku lebih percaya jika kau ingin hidup karna foto ini."
"Pertukaran yang adil kan?"
Aaron yang sedari tadi duduk melihat dan hanya mendengarkan percakapan fredy pada pria itu mulai tak sabar,dengan raut muka yang menyeramkan dia berdiri dan mendekati pria itu,lalu melayangkan tinjunya di wajah dan di perut pria itu,hingga orang itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.
"Fredy selanjutnya kau urus."
"Aku tak ingin mengotori tanganku lebih dari ini." Ucap Aaron sambil mengelap darah di tangannya.
"Baik tuan muda."
Aaronpun berjalan keluar gudang lalu masuk ke mobil menunggu fredy melakukan tugasnya.
Fredy mengambil ponselnya dalam kantong jas dan melakukan vicall pada salah satu orangnya dan memperlihatkan video itu pada pria itu.
"Ha ha ha siapa anak itu?"
"Aku tak mengenalnya." Ucap pria itu
Fredy menyeringai.
"Apa perlu aku juga membunuh ibunya?"
Dalam vicall yang di perlihatkan oleh fredy ada anak kecil yang di todongkan pistol,dan seorang wanita di tempat lain yang sedang di tendang.
"Aaargh s***an kalian...!!" Teriak pria itu.
"Kau bisa pilih salah satu."
"Anakmu atau istrimu?"
"Atau keduanya bisa hidup tergantung keputusanmu.
"Kalian sudah mengusik keluarga Markle."
"Ha ha ha."
"Aku sudah ada di tangan kalian walaupun aku bisa keluar hidup hidup dari sini tetap saja aku pasti akan terbunuh,kalajengking hitam pasti takkan melepaskan aku."
"Baik aku akan beritahu semua,tapi aku minta satu syarat dari kalian."
Fredy hanya tersenyum lalu mengambil pisau dan melepaskan ikatannya.
***
Di kota Oregon...
Malam hari di restoran,Sora bersama para staff tim satu.
Setelah mereka menghabiskan makanannya dan bersenang senang sora berdiri dari tempat duduknya dan memberikan penghormatan terakhir mengucapkan terimakasih untuk para pegawainya. Mereka yang melihat hanya kebingungan,tidak tau maksud dari perkataannya.
"Malam ini saya mengajak kalian semua ke sini untuk berpamitan."
"Mulai besok saya sudah tidak bekerja." Terang Sora.
Semua merasa tak percaya,karna mereka pikir selama ini tidak ada masalah dalam pekerjaan Sora,kecuali pak davin dan Jean mereka sudah tau terlebih dahulu jika Sora akan mengundurkan diri dari perusahaan.
"Mungkin kalian bertanya tanya kenapa berita ini tiba tiba."
"Dan juga saya akan menyampaikan sesuatu, saya sudah menikah."
"Setelah menikah saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini."
Tambah terkejutlah mereka dengan pernyataan Sora.
"Bu udah beberapa hari gak masuk,hari ini masuk kok langsung bilang ke kita mengundurkan diri sih."
"Kita juga gak di undang di pernikahannya bu Rara?"
"Iya" Ucap yang lain.
"Kita kan jadi sedih bu."
"Udah udah malam ini bu Rara tuh ngajakin kita ke sini buat seneng seneng." Sela Jean.
"Ih kak Jean ini,gak sedih apa kalo bu Rara pergi." Ucap sherly sambil menahan air mata yang mau keluar dari matanya.
"Iya...."
"Ihik ihik..."
Semua ikutan bersedih dan ada yang menangis.
Jean sebenarnya juga sedih tapi dia menyembunyikan air matanya agar tidak terlihat cengeng di hadapan semua orang.
"Heh kalian ini cengeng banget."
"Kalau kalian rindu ama bu Rara kalian kan bisa telpon aja ke ponselnya." Ucap pak Davin.
Sora hanya tersenyum nggak mengira jika semua ternyata perduli dengannya.
"Benar yang di omongin pak David."
"Kalau kalian rindu sama aku,kalian bisa kok telpon atau sms ma aku."
"Kalo soal pernikahan,aku belum merayakannya,jangan kuatir kalian semua pasti ku undang."
"Udah sekarang di sini kita makan dan minum sepuasnya."
"Iya bu."
"Oke bu Rara."
"Siap,yuk kita buat malam ini kenangan yang menyenangkan buat bu Rara."
Mereka bersenang senang hingga pukul 10 malam.
Pak Davin meletakkan tubuh Jean di dalam mobil belakang kemudi.
"Trimakasih pak Davin."
"Semoga untuk ke depannya hari anda menyenangkan." Ucap Sora
"Pak chow yang akan ngantar kamu?"
"Hehehe iya pak Davin,pak Aaron yang nyuruh."
"Ou...,Bu rara beneran kamu udah nikah?"
"Iya pak."
"Maaf saya pamit sekarang."
"Iya baiklah."
"Pak chow hati hatilah saat menyetir."
"Baik pak Davin."
Mobil melaju ke jalan meninggalkan pak Davin.
Sampai di rumah Jean pak chow memapah Jean dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Setelah itu Sora dan pak chow meninggalkan Jean sendirian di rumah.
Di dalam mobil yang sedang melaju...
"Trililit trililit." Ponsel Sora berbunyi.
"Hallo sayang." Sapa Aaron di seberang sana.
"Kau masih inget istrimu ini?"
"Kenapa?"
"Kamu udah kangen ma aku." Goda Aaron.
"Iiiih emang napa kalo kangen,gak boleh?"
"Gak usah ngambek."
"Aku juga kangen kok,istriku yang cantik..." Ucap Aaron sambil ketawa kecil."
"Gimana acara makan makannya tadi?" Tanya Aaron.
"Huft."
"Mereka pada sedih,aku juga ikutan sedih."
"Sayang...kalau boleh sebenarnya aku masih ingin kerja."
"Hah." Aaron menghela nafasnya.
"Kamu kan lagi hamil,aku gak mau kalo kamu ntar kecapekan."
"Lagian kan abis nglahirin kamu bakal disuruh megang perusahaan ayah kamu kan."
"Iya sih..."
"Apa karna kamu ingin liat aku setiap jam di kantor,maka dari itu kamu masih pengen kerja di perusahaanku?"
"Aah apaan sih enggak lah."
"Aku cuma gak tega aja liat para pegawai yang sedih akan pengunduran diri aku."
"Iya iya gak usah marah,ntar sebelum tidur jangan lupa minum obat juga susu hamilnya."
"He'em."
"Kamu juga jangan tidur larut malam."
"Ya udah bye sayang,muach."
Mereka mematikan ponselnya masing masing.
***
Di negara M...
Setelah Aaron menyelesaikan urusannya di kota Maine dia langsung terbang ke kota M, bukannya datang ke kediaman Markle namun dia menginap di hotel.
Saat ini Aaron sedang mengirim chat pada neneknya.
"Nek besok pagi Aaron pulang ke rumah."
"Aaron akan ikut sarapan bersama dengan nenek."
Setelah Aaron menulis pesan di ponselnya,fredy datang.
"Tuan muda,tuan Alvian sudah datang."
Aaron menghentikan pekerjaannya,lalu berdiri dan menemui Alfian.
"Duduklah." Ucap Aaron.
"Setelah kejadian kemaren aku belom sekalipun berterima kasih kepadamu."
"Istrimu sudah aku anggap adikku,sudah seharusnya kan aku membantu."
"Apa kau butuh sesuatu dariku,sampai kau ingin bertemu denganku?"
Aaron memberikan beberapa dokumen pada vian.
Vian mengambilnya dan setelah di buka dan di baca dia terkejut,dokumen itu berisi lima persen saham yang ada di M grup,juga persetujuan kerja sama dengan perusahaan.
"Aku tak menyangka jika istrimu seberharga ini." Ucap Vian.
"Itu tanda trimakasihku padamu,di antara kita sudah tak ada hutang piutang."
"Ku harap untuk kedepannya tidak ada masalah di antara kita."
Vian senang dengan pertemuannya saat ini,tak menyangka jika wanita yang menjadi istri Aaron sekarang membuat dinding permusuhan dengan Aaron mereda.
"Aku ingin mengajak kalian untuk makan bersama." Ucap vian
"Kau bisa hubungi aku kapanpun kau mau."
"Baiklah ron,trimakasih untuk ini."
"Aku pamit."
Aaron hanya menganggukkan kepalanya.