Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
80. Keluar rumah sakit


Malam hari di rumah sakit.


Sora tenggelam di dalam dada Aaron yang bersandar pada kepala bed hospital.


"Sayang kata dokter kan aku udah gak apa apa,besok aku pulang aja ya." Pinta Sora.


Aaron yang sedang memainkan tabnya berhenti begitu mendengar perkataan Sora dan meletakkan tab nya di meja samping ranjang.


"Aku akan konsultasi dulu dengan dokter,oke sayang."


"Jika dokter bolehin kamu pulang,aku akan kabari keluarga di rumah,kalau kita akan pulang dari bulan madu."


Sora menengadahkan kepalanya,tersenyum dan menatap mata Aaron lalu memainkan bibir Aaron dengan ibu jarinya.


"Mm aku gak nyangka jika suamiku bisa membohongi keluargaku seperti itu."


"Lalu.. apa kamu pikir kakek akan membiarkan aku tetap di sisi kamu jika terjadi sesuatu dengan kamu?" Bisik Aaron yang masih memegang ibu jari Sora yang di letakkan di dadanya.


"Apa kamu menyalahkan aku?"


Masih menatap Aaron,Sora tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Aaron menjepit dagu sora dengan jarinya dan menariknya perlahan ke arah bibirnya.


Dengan lembut Aaron mencium bibir Sora,memeluknya dan membelai rambut Sora.


***


Besoknya...


Siang hari Sora dan Aaron bersiap untuk keluar dari rumah sakit,dokter sudah mengijinkan untuk keluar hari ini.


Kursi roda sudah menunggu di samping ranjang untuk di duduki oleh Sora.


Aaron dengan lembut menggendong Sora dan mendudukkannya di kursi roda.


"Trimakasih sayang." Ucap Sora setelah duduk di kursi roda.


Aaron mendorong dengan pelan menyusuri lorong rumah sakit,mereka keluar lewat pintu belakang.


Mobil sudah menunggu,begitu Fredy melihat Aaron dan Sora keluar dari pintu rumah sakit dia turun dari mobil dan membukakan pintu belakang mobil untuk mereka.


Aaron menggendong Sora lagi,dan mendudukkan dengan lembut di kursi belakang.


Perlahan Fredy mengemudikan mobil keluar dari rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang Sora menyandarkan kepalanya pada bahu Aaron.


"Fredy ke rumahku." Ucap Aaron.


Fredy memberi isyarat anggukan pada cermin dashor di mobil.


"Eh,ke rumahmu?"


"Apa kau belum beritahu keluargaku kepulangan kita?"


Aaron menggelengkan kepalanya.


"Wajah kamu terlalu pucat sayang dan juga kurang bertenaga."


"Pulihkan dulu sehari di rumahku,oke." Pinta Aaron.


"Oke."


Selama perjalanan Sora memejamkan matanya,dan sesekali membuka matanya untuk melihat jalanan yang ada di depan mobil.


"Sayang jika di ingat ingat aku belum pernah tidur di rumahmu kan."


"Mm,benarkah?"


"Berarti ini pertama kalinya kamu akan tidur di rumahku.


"Kalau ku pikir pikir sih lebih aman jika kamu tinggal di rumah kakek."


"Di sana orang akan berpikir dua kali jika ingin menyinggung keluarga Rassam."


"Mm,bener juga sih." Jawab Sora.


"Sayang apa kakek mengijinkan jika kau ku bawa ke negara M,tinggal di rumah besar keluargaku." Ucap Aaron.


"Mm entahlah..."


"Kakek terlalu menyayangiku,bahkan saat aku tinggal sendiri dia masih saja mengawasiku."


Tanpa mereka sadari mobil sudah sampai dan berhenti di halaman rumah Aaron.


"Tuan nyonya kita sudah sampai." Ucap Fredy.


Mereka menghentikan pembicaraannya dan Aaron turun setelah Fredy membukakan pintu mobil dari luar.


"Eit mau ngapain sayang." Tanya Sora saat Aaron menyusupkan kedua tangannya di punggung dan paha Sora.


"Kamu gak mau aku gendong?"


"Gak usah." Ucap Sora sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku harus berusaha kan untuk pulih,kalau kamu manjain aku kayak gini ntar aku gak sembuh sembuh."


"Engak engak,pokoknya kalau kamu belum benar benar pulih kamu gak boleh terlalu capek."


Aaron memaksa Sora untuk menggendongnya.


"Apaan sih,dari sini ke sana kan gak jauh...,udah dong sayang turunin aja,aku bisa jalan sendiri." Ucap Sora sambil memukul pelan bahu Aaron.


"Cup." Karna gemas Aaron mencium bibir Sora.


"Bisa nurut gak!" Gertak Aaron.


"Apaan sih,dasar.. kebiasaannya yang maksa gak hilang." Batin Sora lalu memalingkan wajahnya dari Aaron antara malu dan sedikit marah.


"Nah kalau nurut gitu kan tambah cantik." Puji Aaron.


Sesampai di dalam kamar Aaron meletakkan Sora di atas tempat tidur.


Ucap Sora sambil menunjuk foto pre wedding dengan ukuran yang sangat besar,hingga memenuhi dinding yang berhadapan dengan tempat tidur.


Adegan di dalam foto itu membuat Sora malu,terlihat di foto itu Aaron mencium Sora.


"Kamu gak inget? Kan kamu pernah liatin foto pre wedding pertama kita saat di negara M." Ucap Aaron yang masih berdiri di samping Sora setelah meletakkan tubuh Sora di atas tempat tidur.


Ekspresi Sora yang bingung sambil mengingat ingat,membuat Aaron tersenyum senang karna apa yang di katakan Aaron tak pernah terjadi,Aaron sendiri yang mengambil foto itu tanpa sepengetahuan Sora.


Aaron duduk di pinggiran tempat tidur,menggenggam tangan Sora dan menatapnya.


"Itu ciuman pertama kamu kan?" Goda Aaron.


Sora mengalihkan pandangannya dan melihat sekitar kamar Aaron.


Aaron menjepit dagu Sora dan memutarnya perlahan agar kembali menatap matanya.


"Kalau bukan yang pertama gimana?" Jawab Sora.


"Kamu gak bisa bohongin aku."


"Aku yakin,kamu belum pernah ciuman kan sebelumnya.


"Tau gak? Setelah aku cium kamu,wajah kamu memerah dan jari tanganmu sangat dingin."


"Tuh merah lagi kan.."


"Apaan sih dari tadi godain terus."


Sora menunduk malu jika ingat kejadian itu.


"Tok tok tok."


Aaron berhenti menggoda Sora ketika seseorang mengetuk pintu.


"Masuk"


Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar.


"Tuan muda."


Aaron berdiri dan memperkenalkan wanita paruh baya itu pada Sora.


"Sayang ini bi Eri,dia yang akan membantumu saat kau di sini."


"Bi ini istriku,namanya Sora."


"Nyonya Sora saya akan melayani anda selama di sini." Ucap bi Eri sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada Sora.


"Bi Eri tidak perlu terlalu formal seperti itu."


"Aku akan menganggap anda bibiku karna sudah lama mengurus rumah ini dan juga mengurus suamiku."


"Iya kan sayang?"


"Yah,terserah kamu aja." Jawab Aaron.


"Tuan,nyonya makan siang sudah siap." Ucap bi Eri.


"Oke bi nanti kami akan turun." Ucap Aaron.


Lalu bi Eri pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aaron kembali ingin menggendong Sora,namun Sora dengan cepat turun dari tempat tidur dan berjalan cepat keluar dari kamar.


Aaron buru buru mengejar Sora,dan menahan lengan Sora.


"Sayang,bisa pelan gak jalannya."


"Kalau kamu seperti itu aku akan selalu menggendongmu kemanapun."


"Iya,aku akan pelan pelan tapi kamu harus janji?" Ucap Sora.


"Akan aku tepati jika menurutku itu benar." Jawab Aaron.


"Mm..kau akan menggendongku jika aku yang memintanya." Ucap Sora.


"Menurutmu...?" Aaron membalas permintaan Sora dengan tersenyum picik,lalu menggendong Sora dengan tiba tiba.


"Aah..,udah ku bilang kan.."


"Turunin gak!"


Aaron tak memperdulikan permintaan Sora dan menggendongnya sampai di ruang makan.


Mereka duduk bersebelahan.


Sora memperlihatkan kemarahannya dengan memalingkan wajahnya dari Aaron.


"Udah jangan marah terus dong sayang,nanti baby Arsa Arsi jadi anak pemarah lho." Bujuk Aaron.


Sora masih saja terlihat marah.


"Oke oke,aku akan berjanji akan menuruti kemauanmu." Ucap Aaron.


"Bener? Gak akan bohongi aku kan?"


Sora memastikan.


Aaron mengiyakan dan tersenyum.


Mereka menyantap makan siang dengan tenang.


Sora menghabiskan semua makanan tanpa tersisa,melihat hal itu Aaron meminta bi Eri untuk memasak lagi.


"Sudah sayang,jangan membuat bi Eri capek,aku udah kenyang." Ucap Sora sambil menyentuh perutnya.


"Baik terserah kamu saja."


Aaron menyentuh perut Sora dan mengelusnya dengan pelan.