Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
63. Kesalahan Sora


Kediaman Rassam,di rumah utama.


Thian sampai terlebih dahulu,membanting pintu mobilnya dengan keras dan berjalan dengan cepat ke dalam rumah utama.


Di ruang tamu dia mondar mandir dengan berkacak pinggang.


Dia sangat tidak menyangka jika Sora menikah dengan Aaron.


"Hah dunia ini memang sempit."


"Rasanya ingin sekali ku pukul dia tadi."


"Bagaimana dia bisa bertemu dengan Sora ya?"


"Sora kan anak yang gak segampang itu bisa di taklukin."


"Kak Thian." Panggil Sora.


Thian yang mendengar panggilan Sora langsung memutar tubuhnya ke arah mereka berdua,tanpa basa basi Thian memperingatkan Aaron.


"Ku ingetin kamu ya,aku gak peduli siapa kamu,jangan sampai kamu nyakitin Sora." Ucap Thian sambil menunjuk jarinya ke arah wajah Aaron.


"Kak udah deh." Sora memegang jari Thian dan menurunkan secara perlahan.


"Ini salah Sora,harusnya tadi Sora gak jahilin kakak."


"Kakak tolong di maafin ya."


Aaron tersenyum dengan salah satu ujung bibirnya di naikkan ke atas,dan melangkah mendekati Thian,mendekatkan mulutnya ke telinga Thian dan membisikkan sesuatu.


"Apa kamu takut orang yang kamu sayangi lebih mencintaiku ketimbang kamu?"


"Kau." Ucap Thian lalu melayangkan tinjunya pada wajah Aaron.


"Dhebukk."


Suara pukulan yang mendarat pada wajah Aaron.


"Loh loh kok jadi gini sih." Batin Sora.


"Udah udah."


"Udah kak,brenti!"


"Aku gak tau cara apa yang kamu pake untuk dapetin Sora."


Tunjuk Thian pada Aaron.


"Akan ku buat kamu nyesel."


Setelah mengucapkan hal itu Thian pergi meninggalkan Aaron dan Sora.


Bi kana yang lewat tidak sengaja mendengar keributan itu langsung mendekati mereka.


"Non,tuan gimana?" Tanya bi kana.


"Gak papa bi,tolong ambilin kotak obat ya bi."


Bi kana mengangguk.


Sora memapah Aaron ke sofa,dan mengobati pelipis Aaron yang sobek dan mengeluarkan darah.


Kakek yang sedang bermain catur di belakang rumah utama bersama dengan pak thomas terhenti sebentar ketika seorang pelayan mendekati kakek dan pelayan itu menyampaikan berita keributan yang terjadi di ruang tamu.


"Dasar anak anak muda,mereka tidak punya kesabaran."


"Biarkan mereka menyelesaikan sendiri masalah mereka."


"Kau dan Thomas awasi saja,tak perlu ikut campur."


"Baik tuan besar." Jawab mereka bersamaan.


Lalu kakek melanjutkan kembali permainan caturnya bersama pak Thomas.


Selesai mengobati Aaron,Sora bertanya pada Aaron.


"Kamu tadi ngomong apaan sih sampai bikin kak Thian marah."


Aaron memandang Sora beberapa detik dengan lembut,lalu membelai rambut Sora.


"Aku hanya bilang jika kau lebih menyayangiku ketimbang dia."


"Beneran gak bohong?" Ucap Sora.


Aaron mengangguk dengan pelan berusaha meyakinkan Sora.


Aaron melihat jam di balik pergelangan bajunya.


"Sayang aku harus balik ke kantor."


"Kalau kamu mau sesuatu kamu tinggal bilang aja."


"Iya."


"Ya udah sana berangkat,hati hati di jalan."


Aaron menunjuk bibirnya,meminta Sora untuk menciumnya.


"Hihihi apaan sih,ada yang lihat tau."


Aaron tidak peduli,tetap menunjuk bibirnya agar Sora segera menciumnya.


Sora menyusuri ruang tamu memastikan bahwa tidak ada orang di dekat mereka.


"Muach."


"Udah sana ke kantor."


Walau sudah menikah,Sora masih malu jika melakukan hal itu di luar kamarnya.


Aaron tersenyum melihat kepolosan Sora.


Setelah mendapat ciuman dia pergi meninggalkan Sora.


***


Di negara M...


Di rumah besar keluarga Markle.


"Kak Vian,Sarah besok akan pergi ke negara A bersama nenek,apa kakak akan ikut?" Tanya Sarah melalui telpon.


"Kamu berangkat duluan ama nenek."


"Kerjaan kakak untuk tiga hari ke depan banyak sekali."


"Sampaikan pada nenek,kakak akan datang sehari sebelum pesta."


"Ya udah,aku akan berangkat ke sana bersama nenek."


"Sarah,kamu di sana jangan bikin masalah ya,kakak peringatin kamu untuk terakhir kalinya."


"Iya iya kak,Sarah di sana tuh hanya ingin nemenin nenek,nyiapin pesta pernikahan kak Aaron,kasian kan nenek sendirian di sana,Sarah juga pengen lebih kenal dekat ama istri kak Aaron."


"Bener ya,kalo kamu bikin masalah kakak udah gak bisa bantuin kamu lagi."


"Hu'um baik."


Nenek yang mendengar pembicaraan Sarah dengan Vian tersenyum,setelah meneguk teh yang di sajikan di meja.


"Kamu memang gadis yang baik."


"Nenek doakan kamu akan dapat jodoh yang baik."


"Amin,makasih nek."


"Oiya nek kak Vian tadi bilang jika kak Vian gak bisa berangkat bareng kita,kakak akan datang sehari sebelum pesta.


"Iya gak apa apa."


"Kakakmu pasti sibuk sekali."


"Iya benar nek,kak Vian sekarang sangat sibuk dengan pekerjaannya."


"Selalu pulang malam."


"Iya nek."


***


Di perusahaan Aaron yang berada di Oregon...


"Eh kamu tadi liat gak,muka pak Aaron."


"Sepertinya tadi habis di pukuli."


"Hu'um aku juga liat."


"Kira kira siapa ya yang berani mukul,apa dia gak takut kalo di bikin habis ama pak Aaron."


"Ehem,apa kalian gak ada kerjaan lain." Tegur Fredy pada dua karyawan yang sedang berada di pantry.


Mendengar teguran Fredy mereka segera meninggalkan pantry dan kembali ke meja masing masing.


"Kok aku gak tau ya yang di bicarakan mereka."


"Apa benar ada yang mukul tuan muda?"


Batin Fredy.


"Trililit trililit."


"Hehehe panjang umur deh,barusan aja aku pikirin."


"Ya tuan muda."


"Tanyakan pada sekretaris tuan Joseph, apa pertemuan hari ini bisa di tunda besok?"


"Baik."


"Oiya tuan muda,besok nyonya besar dan nona Sarah akan datang ke Oregon."


"Selama di sini nyonya ingin tinggal di rumah tuan muda."


"Iya,terserah nenek aja."


"Sampaikan pada nenek,aku tak bisa menemaninya di rumah,karna aku sekarang tinggal bersama Sora di kediaman Rassam."


"Iya,baik."


Setelah itu Aaron mematikan teleponnya.


Karna penasaran Fredy ingin segera menemui Aaron,memastikan pembicaraan pegawai tadi.


Di ruangan Aaron Fredy terkejut.


"Tuan muda,siapa yang berani membuat mu seperti ini."


"Bukan siapa siapa."


"Tapi wajah tuan muda..." Ucap Fredy yang tak sanggup melihat wajah Aaron terdapat luka.


"Aku tau yang kamu pikirin."


"Gak usah di balas." Perintah Aaron.


"Tapi tuan muda."


"Udah udah,kamu sana lanjutin kerjaan mu lagi."


Fredy tetap berdiri tak beranjak sedikitpun,mencoba meminta ijin agar bisa membalas orang yang sudah memukuli Aaron.


"Aku bilang kan udah!"


"Gak usah di balas!"


"Apa kamu ingin melawan perintahku?!"


"Tidak tuan muda."


"Kalau memang tuan muda menginginkan seperti itu,saya akan mematuhinya."


Fredy menundukkan kepalanya dan pamit untuk keluar.


***


"Tok tok tok."


"Kak Thian..."


"Bisa kakak keluar,aku ingin bicara dengan kakak."


"Kak...,pliss jangan marah."


"Maafin Sora,harusnya saat kakak pulang kerumah Sora nyenengin kakak."


"Sora janji kak,Sora gak akan bikin masalah lagi."


Sora berusaha membujuk Thian agar tak berlarut dalam kemarahan.


Sudah panjang lebar Sora berbicara namun tidak ada reaksi pada Thian,hingga akhirnya Sora menyerah dan memutar tubuhnya melangkah menjauh dari pintu kamar Thian.


"Cekleeek."


Suara pintu kamar Thian terbuka,dan hanya terlihat kepala Thian yang mengintip,lalu berkata pada Sora.


"Kakak gak marah."


"Masuklah,kakak ingin dengar ceritamu."


"Kakak penasaran gimana critanya kamu bisa kenal sama Aaron."


Sora senang dengan ucapan Thian,terlihat ada senyuman yang mengembang di bibir Sora.


Bergegas dia masuk ke kamar Thian dan duduk di pinggiran tempat tidur.


Menceritakan bagaimana dia bisa bertemu dengan Aaron dan menikahinya.


Thian menghela nafasnya setelah mendengar cerita Sora.


"Apa sekarang kamu cinta ama Aaron?"


"Iya..." Sora mengangguk bersamaan dengan jawabannya.


"Aaron juga cinta ama aku kak."


"Apalagi sekarang Sora mengandung anaknya,tambah deh kecintaannya ama aku." Ucap Sora sambil mengelus elus perutnya dan tersenyum.


"Kakak mau kan berhubungan baik ama Aaron?" Sora mengucapkan hal itu sembari meraih tangan Thian,dan memohon sambil menunjukkan wajah imutnya.


Thian yang melihat wajah Sora tak kuasa untuk mengiyakan permintaan Sora.


"Iyaaa,udah deh gak usah lebay."


"Tapi..,kakak punya satu permintaan."


"Jangan pernah punya pemikiran untuk jodohin atau temuin kakak dengan Netha."


"Oke,setuju."


Tanpa berpikir panjang Sora menyetujui permintaan Thian.


"Tapi kalau kakak bertemu Netha di luar itu bukan urusan Sora, yah anggap aja itu takdir dari Tuhan karna di pertemukan ama Netha." Terang Sora.


"Oke,baik."


Mereka berdua berjabat tangan,sebagai tanda menyetujui permintaan dari keinginan mereka masing masing.


"Trililit trililit."


Ponsel Sora berbunyi,terlihat nama Aaron di layar ponsel.


"Kak aku angkat telponku dulu."


Thian menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Segera Sora berdiri dan keluar dari kamar Thian.