Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 134 - Satu Sama


Setelah berhari-hari merasa kurang tidur, Sean merasa tubuhnya benar-benar segar. Sang istri berhasil luluh tadi malam, ya meski tidak bisa bebas menciumnya, tapi bagi Sean tidur dengan memeluknya sudah lebih dari cukup.


Namun, betapa terkejutnya Sean melihat penampilan Zalina pagi ini. Tadi malam dia sudah cukup tertekan dengan Zalina yang menutup wajahnya dengan masker, kini wanita itu justru mengenakan cadar yang hanya memerlihatkan matanya saja.


"Kenapa harus begitu sih, Na?"


"Mas mau berada di dekatku, 'kan? Mau juga peluk-peluk aku bukan?" tanya Sean yang kemudian diangguki oleh Sean, sangat pelan bahkan hampir tidak terlihat.


"Kan pakai masker cukup," ucap Sean kemudian menyingkap cadar sang istri ke atas.


Sialnya, Zalina tetap menggunakan makser dibalik cadar itu. Sean yang tadinya sudah kesal semakin kesal tentu saja, bahkan pria itu berdecak menatapnya.


"Double protection ... aku benar-benar tidak mencium aroma durian lagi semenjak begini,Mas."


"Iya tapi jangan begini juga ... berasa lihat istri mas Agam jadinya," protes Sean meminta Zalina melepaskan pakaiannya.


Sejak dahulu istrinya memang tertutup, bahkan hanya Sean yang bisa melihat telapak kaki selain keluarga utama sang istri. Namun, kali ini dua kali lebih tertutup hingga Sean mengelus dadanya.


"Bagus dong, harusnya mas bersyukur."


Bersyukur, jujur saja mendapatkan istri seperti Zalina dia sudah lebih dari bersukur. Zalina adalah wanita pertama yang begitu serius perkara pakaiannya, dia sangat tertutup dan Sean mengaguminya.


"Sini rambutnya aku keringkan, Mas."


Pasrah, jarak mereka memang begitu dekat saat ini. Zalina bahkan bersedia menyentuhnya, tapi sayang memandang wajahnya justru terbatas dan jelas saja membuat Sean uring-uringan.


Bayangkan saja, ketika hanya bisa memandangi gelora dalam diri Sean seolah membuncah. Lantas bagaimana kini, bersedia dipeluk dan berdekatan tapi yang dapat ditatap hanya matanya saja.


Lebih menyebalkan lagi, Zalina sengaja menggoda sang suami dengan kedipan maut yang dia berikan. Jika saja tidak sedang hamil muda, mungkin sudah Sean buat tak berdaya.


Sean menggeleng cepat, seketika pria itu mengalihkan pandangan dan menatap kuku-kukunya. Sean lupa soal ini, dan tadi malam dia tidak berpikir jika sang istri akan mencari cara untuk bisa bertahan berada di dekatnya.


"Mas, aku ikut ya hari ini?"


"Hm," jawab Sean singkat sekali.


Dia kesal, jujur saja ingin sekali menarik paksa cadar sang istri seketika. Dari mana juga dia mendapat ide semacam itu, andai di hadapan orang ramai sama sekali Sean tidak keberatan, tapi jika di hadapannya jelas saja berbeda.


"Sama beli jus alpukat ya," rayu Zalina yang sengaja bergelayut manja entah apa tujuannya.


"Iya, mau beli kebunnya juga terserah kamu, Na," jawab Sean yang lagi-lagi kesal karena derajat alpukat lebih tinggi darinya.


"Makasih, Mas."


Zalina terlihat tanpa beban hari ini, Sean mengiringi langkahnya menuju ruang makan. Tiba di sana umi Rosita terdiam melihat penampilan putrinya.


"Mau kemana, Na? Ada kajian?" tanya umi Rosita penasaran, siapa tahu saja memang mereka hendak pergi pagi ini. Mengingat ramadhan tinggal menghitung hari, pikirnya.


"Tidak ada, Umi ... mau ikut mas Sean ke bengkel sama periksa rumah hari ini."


Sama sekali orang tuanya tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Selain karena Sean tidak pengadu, Zalina juga sangat mampu menjaga agar tidak menimbulkan masalah. Karena jika sampai umi Rosita tahu, besar kemungkinan Zalina yang kena batunya.


"Jangan dilepas lagi jika bisa ya, Na ... kamu cantik begitu."


Uminya salah sangka, sejak dahulu memang Zalina tidak dipaksa. Namun, bukan berarti umi Rosita tidak ingin putrinya lebih tertutup seperti istri Agam. Melihat perubahan Zalina ketika menikah, sebagai orangtua jelas saja umi Rosita bahagia.


Sewaktu kuliah di Mesir Zalina memang sempat mengenakannya, tapi belum secara sempurna. Jelas saja hati mereka terenyuh pagi ini, tanpa mereka ketahui jika kini Zalina menggunakannya demi melindungi diri.


"Ehem, boleh saya tanya sesuatu, Umi?" tanya Sean tiba-tiba dan merasa kali ini memang butuh pertolongan uminya.


"Tanya apa, Nak? Silahkan, umi akan jawab selagi bisa."


"Hm wanita yang baik adalah yang menjaga dirinya, termasuk aurat ... tapi bagaimana kalau ada seorang istri yang sengaja menyembunyikan auratnya di depan suam_ miih."


Sean tidak mampu lagi meneruskan ucapannya, tulang kering pria itu seketika menjadi sasaran Zalina. Sakitnya luar biasa, dia mendelik ke arah sang istri dengan dendam kesumat dalam benaknya.


"Maksudnya bagaimana, Sean? Siapa yang kamu maksud?" tanya umi Rosita menatap ke arah Zalina, sontak wanita itu mencari alasan yang sekiranya masuk akal.


"Ah itu pertanyaan teka-teki online, Umi jangan dijawab karena mas Sean ngarepin hadiahnya ... kan itu dosa, Umi sama halnya seperti judi."


"Astaghfirullah? Benar begitu?"


"Benar, Umi!!" sahut Zalina kini menginjak kaki sang suami demi membuatnya bungkam.


Niat hati mendapat perlindungan, Sean justru terjebak dan membuatnya mendapat kultum pagi hari. Kiyai Husain yang memang anti sekali dengan perjudian angkat bicara, Sean hanya bisa pasrah menatap ke arah sang istri yang tampak mengejeknya dengan tatapan mata.


"Wanita ini licik juga ternyata!!"


.


.


- To Be Continued -