Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
72. Mawar putih


Aaron menutup dokumen dengan kesal.


Kejadian tadi malam membuat dia uring uringan dari pagi hingga sekarang di kantor.


"Tuan muda apa ada yang sedang di pikirkan?"


Aaron diam,ingin menjawab pertanyaan Fredy namun bingung harus memulai dari mana.


"Tadi malam Sora marah padaku,apa kau bisa memberi saran apa yang harus aku lakukan,dua hari lagi pesta pernikahan kami,aku tak ingin masalah ini akan mempengaruhi acara pesta nanti." Aaron menjelaskan.


"Mm maaf tuan muda,apa yang membuat nyonya marah?"


"Entahlah aku tak tau,harusnya aku yang marah tapi tiba tiba dia yang jadi marah."


Fredy berpikir dan berbicara dalam hatinya.


"Pasti nyonya marah karna tuan muda tidak perhatian."


"Selama ini tuan muda selalu mengabaikan para wanita yang mengejarnya."


"Tapi dengan nyonya dia sangat..."


"Mm tuan muda,sepertinya anda harus lebih perhatian dengan nyonya."


"Seorang wanita akan senang jika pasangannya memperhatikannya dan bersikap lembut padanya."


Aaron masih mencerna perkataan Fredy,karna dia tak berpengalaman berhadapan dengan seorang wanita.


"Lalu apa yang harus ku lakukan."


"Apa tuan muda pernah memberikan bunga untuk nyonya?"


Aaron menggelengkan kepalanya,menunduk memikirkan perkataan Fredy.


"Kalau begitu kau pesankan untuk Sora,mawar putih 100 buah."


"Baik tuan muda."


Fredy tersenyum dan bersemangat melakukan perintah dari Aaron.


***


"Apa kau pikir aku mau bekerja sama denganmu." Ucap Calista yang saat ini duduk di depan Sarah di sebuah restoran yang mewah.


"Kenapa enggak."


"Bukankah kau masih cinta dengan kakakku."


"Dua hari lagi pesta pernikahan mereka."


"Itu kesempatan untuk melakukan sesuatu."


Calista mendekatkan wajahnya ke depan wajah Sarah,setengah berdiri dan berbisik memperingatkan Sarah.


"Cih."


"Kamu wanita licik,aku tak akan tertipu untuk kedua kali."


Setelah mengatakannya Calista berdiri memakai kacamata hitamnya dan berjalan meninggalkan Sarah.


"Tunggu." Sarah memanggil Calista.


Calista terhenti untuk mendengarkan Sarah berbicara.


"Kau pasti belum tau jika Sora Rassam sekarang sedang hamil."


Mendengar hal itu Calista berbalik dan melangkah mendekati Sarah.


"Kau tak perlu melakukan sesuatu,hanya saat pesta berlangsung kau jauhkan kak Aaron dari Sora,apapun cara mu lakukan saja." Ucap Sarah.


Calista memperlihatkan evil smirknya dan menepuk bahu Sarah,lalu berjalan meninggalkannya.


***


Di kediaman Rassam.


Sora dan mamanya berada di rumah kaca,mereka sedang menanam bunga chocolate cosmos,bunga yang langka berasal dari negara Meksiko.


"Ma.."


"Apa mama gak capek ngurusin bunga bunga ini sendiri."


"Sendiri? Siapa bilang?"


"Ada kamu kok."


"Kamu nanti yang akan mengurusnya setelah mama udah gak mampu."


"Yah terserah mama aja deh." Jawab Sora pasrah.


Di luar bi Kana berjalan cepat menuju rumah kaca.


"Non,di cariin non Sarah."


"Siapa bi?"


"Nona Sarah non,adik tuan Aaron."


"Ngapain ya dia ke sini." Batin Sora.


"Bibi bilang kalau aku ada di rumah?"


"Iya,non."


"Sekarang non Sarah udah nunggu di ruang tamu."


"Ya udah bi,aku ganti baju dulu,suruh dia nunggu."


"Iya non baik."


"Maaf ya ma,hanya setengah jalan bantuin mama."


"Udah sana,nanti Sarah kelamaan nungguin kamu." Jawab mamanya.


Setelah pamit Sora meninggalkan mamanya sendirian di rumah kaca.


Sora berjalan memasuki ruang tamu.


"Kak Sora." Sarah berdiri ketika Sora datang.


"Udah duduk aja." Pinta Sora.


"Kak maafin Sarah."


"Sarah bener bener gak sengaja."


"Kemarin kakak liat kan Sarah terjatuh duluan hingga tak sengaja mendorong kak Sora."


"Kau gak usah sedih gitu,aku gak apa apa,aku gak nyalahin kamu kok."


"Makasih kak."


"Non maaf ini ada ada kiriman bunga." Sela bi kana sambil membawa bunga mawar putih.


"Dari siapa bi?"


"Dari tuan Aaron non." Jawab bi kana.


"*Sayang maafin aku ya,jangan marah lagi."


"Love u*."


Ucapan yang tertera di kartu.


"Iih so sweet banget sih suamiku."


"Aku gak marah kok sayang."


Batin Sora sambil mencium buket mawar itu.


Sebenarnya Sora tidak terlalu marah dengan Aaron,hanya marah seketika itu.


"Bi tolong kau masukkan ke dalam vas bunga dan taruh di kamarku." Ucap Sora sambil menyerahkan buket bunga itu pada bi kana.


Sarah yang melihatnya merasa cemburu berusaha menutupi ketidaksukaannya.


"Sepertinya kak Aaron sangat mencintai kak Sora."


"Aku tak pernah melihat kak Aaron sangat perhatian dengan seorang wanita.


Sora hanya tersenyum mendengarnya.


"Oiya kak ini untuk kak Sora."


"Sebagai tanda permintaan maafku."


Sarah menyodorkan paper bag kecil berisi syal.


"Kau tak perlu repot Sarah."


"Enggak kok kak."


Sarah memperlihatkan wajah yang sangat bersahabat terhadap Sora.


"Sora." Panggil kak Thian.


Sora dan Sarah menengok bersamaan.


"Iya kak."


"Kita berangkat sekarang." Ucap Thian.


"Sekarang?" Tanya Sora bingung.


"Iya paman Steve sudah menunggu kita di kantor."


Sora baru mengerti ucapan kak Thian.


"Oh."


"Sarah maaf aku tak bisa menemanimu terlalu lama."


"Aku harus pergi sekarang."


"Baiklah tak apa apa."


"Aku juga harus kembali,jika terlalu lama nenek akan mencariku."


Sora dan Thian berjalan keluar menuju mobil meninggalkan Sarah di ruang tamu.


Sarah diam termenung berfikir mencoba cara lain untuk mendekati Sora lagi,lalu dia bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dan berjalan sedikit terpincang karna terkilir.


Di dalam mobil yang di kemudikan Thian, yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Kak Thian udah pinter bo'ong ya."


"Pake pura pura ngajak Sora ke kantor papa."


"Siapa yang bo'ong sih Ra,kakak memang di minta paman Steve ngajak kamu ke perusahaan."


"Ku pikir kakak gak suka Sarah datang."


"Kalau itu sih bener."


"Kakak gak suka liat dia deketin kamu."


"Emm gitu."


"Eh kak ngapain papa gak telpon Sora langsung,malahan telpon kak Thian."


"Astaga!"


Ucap Sora sambil menepuk jidatnya.


"Aku lupa kak ponselku kan rusak."


"Nah kan."


"Nih pake ponsel kakak."


"Gak usah kak aku masih punya."


"Kalau Aaron tau,bisa marah lagi nanti."


"Enggak lagi deh."


"Dia kan sama kak Thian cemburu." Batin Sora.


"Kak kenapa papa nyuruh Sora ke kantor?"


"Kau kan udah nikah,bukankah kakek dulu pernah bilang kalau kamu udah nikah,mau gak mau kamu harus megang perusahaan."


"Iya sih."


"Napa gak nunggu habis pesta perayaan aja sih kak."


Thian mengangkat bahunya,tak mengetahui rencana dari papa Sora.


"Paman hanya bilang untuk mengajakmu berkeliling di perusahaan."


***


Aaron beberapa kali melihat ponselnya,berharap Sora akan mengirim pesan untuk buket bunga yang dia kirim.


Fredy yang sedari tadi memperhatikan Aaron berusaha menebak nebak apa yang di pikirkan oleh Aaron.


"Tuan muda apa anda menunggu chat dari nyonya?"


Aaron berpura pura tak mendengarnya,terlihat sibuk membaca dokumen yang di depannya.


"Tuan muda apa anda lupa jika ponsel nyonya kemarin rusak."


Aaron sontak meletakkan dokumen yang dia pegang di atas meja.


"Shit,napa aku gak ingat sih." Batin Aaron.


"Napa kamu gak bilang dari tadi."


"Sekarang kamu belikan ponsel yang sama persis seperti punyaku." Perintah Aaron pada Fredy.


"Iya tuan muda." Fredy menahan tawanya lalu keluar kantor karna perintah dari Aaron.