
"Aku yakin anak itu darah dagingku ... tapi andai anak itu ternyata darah daging bang John, lebih baik rahasiakan dan tetap aku yang akan bertanggung jawab."
Sean mengingat dengan jelas betapa tegasnya Axel mengutarakan hal itu. Dia bersedia bertanggung jawab, sekalipun Satria bukan darah dagingnya. Namun, dari gurat ketiga pria yang tadi Sean hadapi, dapat disimpulkan bahwa dalam diri Axel tergambar sosok ayah untuk Satria.
"Menurutmu siapa?"
"Tiga-tiganya tidak ada yang mending, tapi jika harus memilih mungkin Axel," jawab Yudha jujur kala Sean melontarkan pertanyaan semacam itu padanya.
"Sependapat, aku juga berpikir begitu."
Di antara mereka bertega, hanya Axel yang bahkan menarik sudut bibir ketika menatap foto Satria. Kendati demikian, tes DNA tetap harus dilakukan. Khawatir saja di masa depan justru masalahnya semakin rumit saja.
Usai mendapat persetujuan Axel, mereka berdua berlalu segera. Ya, Sean ingin semua segera berakhir, ada sang istri yang menunggunya pulang segera. Begitu juga dengan Yudha yang harus kembali pada peran sesunggunya sebagai asisten Zean.
Kedua pria gagah itu melangkah panjang, sama-sama diburu waktu tujuan utama mereka kali ini adalah rumah sakit. Tidak ingin mengulur waktu, Sean meminta Yudha segera melaju. Baru saja Sean berlalu, Irham tiba dan kini melangkah dengan secebis keraguan.
Irham sedikit terlambat, agaknya perjuangan untuk mencari keberadaan Ana tidak semudah itu. Sementara kini Sean yang merupakan pelindung Ana sudah berada di rumah sakit demi membuktikan kebenaran terkait asal-usul Satria.
Jika saja Irham peduli dan mendengarkan Ana, mungkin hal semacam ini tidak akan menjadi tanggung jawab Sean. Sayangnya, semua sudah terlambat dan Ana telanjur percaya pada orang asing yang bahkan telah menghabisi nyawa orang tuanya.
Kendati demikian, Sean tidak main-main dan benar-benar tulus mengabulkan permintaan Ana. Pria itu bahkan tidak peduli dengan perutnya sama sekali dan kini telah berada di rumah sakit dengan harapan penantian Satria akan terbayar dengan kehadiran Daddy untuknya.
"Sekali lagi aku tanya .. anak siapa? Bukan anakmu, 'kan?"
Anehnya, meski seorang Ana bahkan percaya pada Sean, keluarga dekatnya justru berbeda. Tiba di rumah sakit, nasib sial menimpa Sean lantaran si cerewet Mikhayla curiga padanya.
Sudah berusaha Sean sembunyikan, tapi status Mikhayla sebagai dokter yang cukup berpengaruh di rumah sakit ini membuat rencana terkait DNA itu sampai ke telinganya. Sean ingin benar-benar marah, andai tahu begini lebih baik dia ke rumah sakit lain saja.
"Harus berapa kali kujelaskan? Bukan, Khayla, bukan ... kau tidak paham bahasa manusia atau bagaimana?"
Sean sebenarnya sopan, tapi khusus Mikhayla otaknya memang selalu panas hingga tidak bisa bicara baik-baik. Parahnya, setelah Sean bicara begitu bukannya takut, Mikhayla justru menepuk bibirnya pelan.
"Ck, kau pikir aku bayi?"
"Sopan santunmu mana? Aku kakakmu, Sean."
"Aku sudah sopan, Khayla tapi otakmu yang tidak sampai ... sudah kujelaskan bukan anakku!!" kesal Sean berusaha menahan diri untuk tidak menarik rambut wanita dua anak itu.
"Ya, Tuhan, Khayla? Kurasa papa selalu menafkahi kita dengan uang halal ... tapi anehnya, otakmu begini kenapa ya?"
Yudha mengu-lum senyum dan berpura-pura tidak mendengar perselisihan adik kakak itu. Sebelumnya Sean sudah jelaskan jika dia ingin membuktikan siapa ayah dari wanita bernama Ana, Sean juga sudah menjelaskan kejadian tujuh tahun silam secara singkat.
Anehnya, prasangka buruk Mikhayla yang akibat masa lalu Sean melekat hingga saat ini. "Kenapa marah? Kakak hanya tanya, aku khawatir, Sean ... kau ingat dahulu Zean bagaimana? Punya istri diam-diam!"
"Pertanyaanmu aneh, kalau tahu Satria anak siapa aku tidak akan tes DNA!!"
Setelah sempat dibuat naik darah oleh Irham tadi pagi, siang ini justru Sean kembali menemukan lawan yang lebih gila lagi. Terkhusus Mikhayla, dia benar-benar menyerah dan memang biasanya kalah.
"Oh iya ... kenapa aku jadi bodoh begini ya?"
"Baru sadar? Dasar stres, kenapa juga kak Evan bisa menikahi wanita sinting sepertimu."
"Heh, yang kakakmu itu aku ya," ucap Mikhayla sebelum kemudian menarik telinga Sean hingga pria itu berteriak seketika.
Benar-benar tidak dapat disatukan, Sean mengeraskan rahang dan kini melampiaskan amarahnya dengan memukul angin. Padahal, Zalina sudah berulang kali mengatakan agar sikap Sean jangan berat sebelah.
"Harusnya kau di rumah sakit jiwa saja, Khay," gerutu Sean mengusap pelan telinganya yang kini terasa sedikit panas.
"Kenapa di rumah sakit jiwa? Aku nyaman kerja di sini."
"Aku tidak bilang kau akan jadi dokter di sana," jawab Sean mulai menjaga jarak, khawatir tangan Mikhayla kembali menyakitinya.
"Lalu?"
"Pasiennya." Satu kata yang dia utarakan sebelum kemudian berlari dan meninggalkan Yudha yang kini mendadak pucat pasi.
.
.
- To Be Continue -