Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
81. Bocah tua nakal


Hari menjelang siang ketika Aaron dan Sora berencana pulang ke kediaman Rassam.


Seperti layaknya orang yang pulang dari berlibur,mereka berakting dengan baik dengan membawa beberapa oleh oleh dari Bali.


Sebenarnya Aaron membayar sepasang pasutri untuk berlibur di Bali menggunakan nama mereka untuk menutupi keberadaan Sora di rumah sakit.


Aaron menggenggam tangan Sora agar tak terlalu gugup menghadapi keluarganya.


Pintu mobil sudah terbuka,Aaron dan Sora bersiap turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil di hadapan mereka sudah menanti kakek,ayah dan ibu,juga para pelayan.


"Sayaaang.. kami semua kangen, kenapa kamu ke Bali tidak bilang pada kami sebelumnya." Ucapan olivia begitu melihat Sora turun dari mobil dan menggandengnya masuk ke dalam rumah.


"Hehehe,maaf ma kami saat itu hanya ingin menikmati bulan madu tanpa kami rencanakan." Jawab Sora.


"Mama tau gak,kami memilih tujuan bulan madu kami dengan bermain lempar dadu." Bisik Sora.


"Ah dasar anak mama,bisa aja deh kamu ini."


Steve dan Aaron berjalan mengekor di belakang Sora dan mamanya,sedang kakek berjalan paling depan.


Mereka duduk di ruang tamu dan berbincang bincang.


"Sayang bukankah Bali itu negara tropis,kenapa kulit kamu malah terlihat pucat?" Tanya Olivia.


Aaron dan Sora saling berpandangan tak tau harus memberi alasan apa pada mereka.


"Trililit trililit."


Ponsel Aaron berbunyi.


"Fiuh.. untung aja." Batin Sora.


"Maaf kek,ayah,ibu,saya pamit untuk terima telpon dulu." Ucap Aaron.


"Ya udah sana kamu terima telponmu dulu." Ucap Olivia.


"Ma,Sora ke kamar dulu ya,rasanya capek banget,nanti kita lanjut lagi deh kangen kangen nya." Ucap Sora.


"Ya udah sayang sana." Jawab mamanya.


"Kek,pa,Sora pamit ke kamar dulu ya."


Mereka hanya menjawab dengan anggukan.


Aaron berjalan ke arah teras untuk menjawab telepon,dan seseorang berteriak setelah Aaron menyapa.


"Hei bocah,apa kau sudah tak menghormatiku!?"


"Ada apa pak tua?"


"Jangan marah marah,ingat dengan jantungmu."


"Kau ini,dasar anak durhaka."


"Kenapa bukan kau yang menjemputku di bandara?"


"Pak tua,apa gunanya aku punya bawahan jika tak memberi mereka pekerjaan."


"Kau tau aku orang yang sangat sibuk."


"Iya aku tau,kau sibuk di luar kan?""


"saat ini kau juga tak di kantormu."


"Apa yang kau kerjakan di luar sana?"


Ucap pak tua.


"Kenapa kau bertanya?"


"Apa saat ini kau di kantorku?" Tanya Aaron.


"Hihihi menurutmu...,aku akan melakukan sesuatu yang menarik untuk di perlihatkan pada bawahanmu."


Aaron segera mematikan ponselnya dan mencari Fredy di halaman.


Setelah menemukan Fredy,Aaron memerintahnya untuk mengantarkan ke perusahaan.


Di dalam mobil...


"Tuan muda apakah ada hal yang perlu anda kerjakan di kantor?"


"Pak tua itu sekarang berada di kantorku,dia pasti akan berulah di sana."


"Tuan muda,barusan Jacky mengabari jika tuan Justo berada di hotel."


"Apa?" Ucap Aaron yang terkejut.


"Shit."


"Dasar bocah tua nakal,dia mempermainkan aku lagi."


"Awas kau akan ku balas nanti."


Batin Aaron.


"Kembali ke kediaman Rassam." Ucap Aaron pelan.


Fredy mengangguk dengan tersenyum,dia tau jika tuan Justo mempermainkan Aaron lagi.


***


Di kamar...


"Sayang tadi kamu kemana sih,setelah trima telpon,kamu langsung pergi." Tanya Sora yang mengekor di belakang Aaron yang sedang berganti pakaian setelah mandi.


Saat akan berganti pakaian Aaron memberikan piyama pada Sora.


Sora menunggu jawaban dari Aaron namun Sora hanya melihat mulut Aaron yang tertutup dan membentuk kapal yang terbalik dengan mengangkat kedua bahu dan kedua tangannya.


"Oke kamu gak mau jawab." Sora melempar piyama yang tadi di pakai oleh Aaron dan berlalu pergi.


Aaron segera berlari mengejar Sora dan meraih pergelangan tangan Sora.


"Sayang..sayang tunggu."


Aaron memeluk Sora dan menggoyang goyangkan tubuhnya.


"Gak usah marah dong,tadi siang aku akan pergi ke kantor ketemu dengan salah satu pemegang saham."


"Karna dia tak bisa terlalu lama menunggu jadi dia pergi sebelum aku datang."


"Bener?"


Sora memandang dengan ekspresi tak percaya.


"Iyaaa..." Ucap Aaron sambil memegang pipi Sora.


***


Hari ini Aaron mulai bekerja kembali setelah hampir satu minggu menunggui Sora di rumah sakit.


Hari hari yang tenang di kantor menjadi hari yang menegangkan setelah Aaron datang ke kantor.


Beberapa dari mereka terkena dampak kemarahan Aaron,karna pekerjaan yang semakin menumpuk selama dia tak ke kantor.


Fredy masuk ke ruangan Aaron dan menjadi penyelamat beberapa dari mereka yang sedang menghadapi kemarahan dari Aaron.


"Kalian kembali bekerja,jangan pulang jika pekerjaan kalian belum selesai." Ucap Aaron.


"Tuan muda,tuan Justo membatalkan rapat hari ini menjadi makan malam dengan anda."


"Apa anda akan datang menemuinya?"


"Setujui saja apa maunya,saat ini kita masih membutuhkannya."


"Bagaimana dengan penyelidikanmu?"


"Saya menemui para pemegang saham,mereka bercerita jika hanya menemui utusan dari perusahaan itu."


"Utusan itu membeli dengan paksa,dan mereka menjualnya karna ancaman."


"Saya sudah mendatangi alamat mereka,namun perusahaan itu hanya sebuah nama,tak ada pekerja,dan hanya sebuah gudang kosong."


Terang Fredy.


"Apa kau sudah mencari tau siapa mereka?" Tanya Aaron.


Fredy menjawab dengan ragu pertanyaan dari Aaron.


"Maaf tuan muda,saya belum mendapatkan informasi itu."


"Bagaimana dengan keluarga Alves?"


"Infomasi yang saya trima,setelah pesta pernikahan anda nona Calista pergi ke negara M."


"Dan sampai hari ini belum ada kabar dia kembali."


Aaron terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Dret dret dret."


Ponsel Aaron bergetar.


"Baiklah,kau atur makan malamku dengan pak tua itu."


"Beritahu Jacky dan Leon untuk ikut denganku malam nanti."


"Pasti mereka tak akan tinggal diam jika mendengar kabar pak tua itu berada di sini."


"Baik tuan muda."


Setelah berbicara dengan Fredy,Aaron menerima teleponnya.


"Hallo sayang apa kau lembur hari ini?" Tanya Sora dari seberang telpon.


"Iya sayang,kau tidur lebih awal ya,jangan nunggu aku,nanti aku akan pulang larut malam.


"Sayang,aku denger dari tadi telpon kabelmu terus terusan bunyi?"


"Apa ada masalah di kantor?"


"Gak ada masalah kok sayang,hanya beberapa dokumen yang numpuk dan belum di selesaikan."


"Sayang kamu gak usah terlalu banyak berpikir ya,kamu kan sedang hamil."


Aaron mencari alasan agar Sora tak khawatir dan berusaha menutupi pertemuannya dengan tuan Justo nanti malam.


"Mm.. iya,sayang jangan pulang terlalu larut ya."


"Pokoknya aku akan menunggumu jam sembilan di rumah."


"Eh sayang sudah ku bilang kan aku akan pulang la...."


"Klik."


Belum selesai Aaron berbicara Sora sudah mematikan telponnya.


Aaron hanya bisa menahan kegemasannya pada Sora dengan menempelkan ponselnya di dahi,dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum,saat ini Aaron berpikir jika dia akan menjadi pria yang akan tunduk dengan istrinya.


"Hah." Aaron menghembuskan nafasnya agar tak berlarut dalam pikirannya.