
Sean bergegas mengikuti sang istri ke kamar tidur. Namun, baru saja membuka pintu kamar pria itu dikejutkan oleh Zalina yang memberikan handuk padanya. Matanya terlihat memerah, bisa dipastikan saat ini Zalina memintanya mandi segera.
"Kamu memintaku mandi?" tanya Sean setelah menerima handuk pemberian sang istri. Ya, meskipun dia sedikit sebal dianggap sebau itu, padahal harga parfum Sean saja bisa untuk renovasi rumah tetangga.
"Hm, Mas bau soalnya."
"Bau tapi masih dicium juga," ucap Sean mencebikkan bibir dan melewati Zalina begitu saja, sedikit sebal dan mendadak ingin menggigit istrinya hingga pingsan.
Layaknya anak SD yang kesal dipaksa mandi, begitulah Sean saat ini. Normalnya manusia gosok gigi hanya sekali, sementara Sean mengulanginya sampai empat kali. Alasannya sederhana, dia kesal karena Zalina mengatakan jika mulutnya bau.
Tidak hanya gosok gigi, Sean juga melakukan hal yang sama untuk seluruh tubuhnya. Bahkan, shampo yang baru saja kemarin Zalina buka buka kemasannya benar-benar habis untuk sekali pakai. Sungguh, sejak dahulu Sean memang agak sensitif soal bau badan, tepatnya tidak percaya diri.
Hampir tiga puluh menit Sean habiskan di dalam kamar mandi, jika masih dianggap bau juga maka yang aneh adalah Zalina. Beberapa kali Sean memastikan napasnya masih bau atau tidak, tidak lupa menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Perfect," seru pria itu sebelum kemudian berlalu keluar, dia ingin memastikan apa mungkin sang istri sudah menerimanya.
Seperti biasa, Zalina selalu duduk di tepian tempat tidur usai menyiapkan pakaiannya. Sean tersenyum tipis seraya menghampiri Zalina yang tengah menatap sendu ke arahnya. Aroma tubuh Sean menguar menelisik indra penciuman Zalina, wangi sebenarnya.
Namun, kepala Zalina sudah telanjur sakit lantaran mengingat aroma tubuh Sean sebelum ini. Bahkan, ketika Sean mendekat ke arahnya, wanita itu segera menutup hidung rapat-rapat. Jelas saja Sean merasa usahanya sia-sia, seketika dia menghela napas kasar.
Sungguh, pikiran pria itu sudah teramat jauh. Entah kenapa firasatnya menduga jika Zalina yang seperti ini akan bertahan lebih lama. Detik ini juga Sean sudah berpikir untuk menyingkirkan durian itu dari rumah sang mertua.
"Tidak bau lagi, jangan ditutup hidungnya," tutur Sean perlahan menarik tangan Zalina.
"Pusing, Mas jangan dipaksa."
Sean menggigit bibirnya, kenapa istrinya bisa seperti ini. Jika dia tahu Zalina akan benar-benar anti buah durian, jelas dia enggan menerima pemberian Subagio. Minyak angin aromatic yang dia genggam di tangan kirinya menunjukkan jika sang istri tidak baik-baik saja.
"Masuk angin ya, Sayang?"
"Tidak tahu, pakailah bajumu, Mas."
Dia sudah selelah itu, Sean tidak ingin berdebat dan membuat kepala Zalina semakin sakit. Dia khawatir sebenarnya, bisa jadi istrinya benar-benar mabuk durian seperti Ameera sewaktu remaja.
Sean mengenakan pakaiannya dengan begitu tergesa-gesa. Saat ini yang dia pikirkan hanya kesehatan sang istri, tanpa dia sadari jika baju yang dia kenakan terbalik dan tentu hal itu membuat Zalina kesal sendiri.
"Benerin dulu bajunya, kenapa jadi anak kecil begini?"
"Astaghfirullah, salah rupanya."
Zalina hanya menggeleng pelan meski sebenarnya dia bisa mengomel akibat ulah Sean yang persis anak kecil. Hanya saja, dia masih berpikir dua kali mengingat sopannya pada sang suami.
"Kita ke rumah sakit saja ... kamu pucat sekali, Na."
"Aku capek, mas jangan terlalu dekat masih berasa bau duriannya."
Kendati demikian, Sean tetap berlapang dada dan tidak marah sama sekali. Dia masih bersikap lembut dan hanya mengusap pelan puncak kepala Zalina dengan jarak yang tidak begitu dekat.
"Mas di sini?" tanya Sean duduk di sisi Zalina yang kini merebahkan tubuhnya.
"Keluar saja ... aku pusing, Mas sumpah."
Ingin menyalahkan durian tapi tidak tepat juga. Sean yang mulai merasa Zalina sedikit berbeda tidak lagi bertanya dia kenapa atau lainnya. Dia hanya menurut, pria itu beranjak keluar setelah memastikan Zalina terpejam dengan lengan menutup matanya.
"Mas keluar ya, kalau butuh apa-apa telepon mas saja."
"Iya, Mas."
Dia masih menjawab, meski enggan didekati setidaknya Zalina masih menjawab ucapannya. Sean meninggalkan kamar dengan berat hati, dia menutup pintu perlahan dan berharap Zalina akan memanggil namanya.
Sean tidak ingin larut dalam keraguan dalam menerka keadaan Zalina. Pria itu menghubungi seseorang yang dia rasa bisa menjawab pertanyaannya, meski usianya lebih muda tapi sedikit lebih bisa dipercaya.
"Hallo, Shan!! Istriku aneh ... apa mungkin hamil?" tanya Sean langsung pada intinya ketika hendak menuruni anak tangga.
"Hm pastikan saja, Kak, ke dokter bis_"
"Dia tidak mau kudekati, bagaimana bisa merayunya ke dokter."
"Kalau begitu pastikan saja pakai alat tes kehamilan, kakak bisa menemukan jawabannya dari garis yang nanti akan muncul."
"Garis apa? Garis miring?"
"Garis dua!!"
"Aku tahu setan!!" balas Sean tidak mau kalah, dia tidak sebuta itu sementara Zeshan hanya menjelaskan sesuatu yang menjadi kewajibannya.
"Sean? Kamu kenapa teriak-teriak, Nak?"
"Zeshan sialan!! Kenapa juga Abi di bawah sana," batin Sean menatap kiyai Husain yang kini membawa kopi satu gelas besar di tangan kanannya.
"Hah? Ti-tidak abi, ada cicak tadi."
.
.
- To Be Continued -