Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 111 - Malu Semalu-Malunya


Selama Sean menghilang, Yudha terus menatap Irham dengan tatapan tajamnya. Pengaduan sang kekasih di saat Sean masih dirawat di rumah sakit membuat Yudha geram sendiri setiap melihat wajahnya. Berbeda dengan Sean yang agaknya bisa bersikap baik, Yudha tidak sama sekali.


Beruntungnya, tidak berselang lama Sean muncul dengan membawakan uang tunai yang Irham butuhkan. Sungguh, Irham tertampar saat ini. Mengingat betapa jahat dirinya pada Sean yang bahkan merasa tidak puas dengan vonis yang dahulu Sean terima.


"Aku tidak bisa membantu banyak," tutur Sean ketika menyerahkan uang itu untuk Irham.


Malu, tangan Irham seakan kaku untuk menerimanya. Namun, keadaan memaksa untuk bergantung kali ini. Suatu saat, Irham akan membalas kebaikan Sean, meski entah kapan.


"Terlalu banyak, Sean ... aku hanya butuh untuk ongkos pulang saja."


"Aku tidak terbiasa pegang uang tunai, kau pegang saja."


Gengsi untuk mengakui jika benar-benar ingin Irham menerima seluruhnya. Sean tidak terbiasa mengumbar kebaikan demi terlihat baik, untuk itu dia tetap konsisten dengan kalimat yang membuatnya terdengar meninggi.


Kendati demikian, Irham seakan paham maksud pria itu. lagi dan lagi dia menebalkan wajah dan menerima bantuan Sean. Begitulah sejatinya manusia, terkadang kebaikan justru datang dari seseorang yang sama sekali tidak terduga.


"Terima kasih ... aku berhutang padamu."


"Aku bukan renternir," ucap Sean seraya mengusap kasar wajahnya, melihat wajah Irham jujur saja dia kasihan.


"Bukan begitu maksudku."


Yang Irham maksud saat ini ialah hutang budi, tidak dapat dia bantah Sean memang benar-benar sebaik itu. Tidak heran jika kiyai Husain begitu bangga sekalipun Sean sempat menjadi seorang narapidana.


Tidak ingin terlalu lama, Irham pamit undur diri segera. Namun, baru saja hendak beranjak, Mikhail datang menawarkan makan siang. Bukan hanya mengajak, tapi juga memaksa.


Mikhail yang mengira jika Irham benar-benar teman putranya jelas saja tidak mengizinkan pria itu pergi begitu saja. Terlebih lagi memang sudah waktunya makan siang.


"Ayo dimakan, Nak Irham ... anggap saja rumah sendiri. Siang ini kebetulan mama dan adiknya Sean satu lagi tidak di sini, jadi sepi."


Mikhail sebaik itu, andai saja dia tahu jika Irham adalah putra dari pria yang menyebabkan kehidupan Sean kacau, mungkin dia tidak akan menjamunya dengan makan siang, melainkan racun tikus.


"Kak Sean punya teman baru ternyata, kok baru dikenalin sama Papa, Kak?" sarkas Ameera yang membuat Sean mendelik tajam ke arahnya.


"Belum saja, dia baru bisa datang hari ini," balas Sean yang rela berpura-pura demi menjaga kesehatan Mikhail.


Hati Irham semakin serba salah, tidak hanya merasa tidak enak pada Sean, melainkan adiknya juga. Tatapan penuh permusuhan yang Ameera tujukan padanya bahkan membuat Irham susah menelan makanan.


Rasa lapar Irham bahkan hilang, tergantikan takut jika wanita di hadapannya itu melemparkan gelas. Terlebih lagi, dia yang tidak begitu paham jika adik Sean kembar, jadi memang dia mengira jika Ameera adalah wanita yang sempat bertengkar dengannya.


Sekali lagi dia harus berterima kasih, bahkan Irham sampai menunduk di hadapan Sean sebelum benar-benar pergi. Sontak pria itu mundur dan menganggap Irham berlebihan, sejak dahulu dia tidak suka melihat orang-orang yang tunduk padanya, apalagi sekarang.


"Kau terlalu baik, jika niatnya jahat bagaimana?"


Awalnya dia memang berpikir sama, tapi semakin kesini prasangka buruk itu semakin berkurang. Terlebih lagi, kala Irham pamit baik-baik dan sempat meminta maaf atas perbuatannya di masa lalu.


"Semoga, aku pergi ... Zean sudah menunggu, Lengkara juga sama."


Setelah Irham pergi, Yudha juga demikian. Pria itu mengangguk pelan dan menatap punggung Yudha yang kian menjauh. Banyak sekali tugas pria itu, agaknya janji untuk melunasi seluruh cicilan rumahnya akan Sean turuti setelah ini.


Sepi, belum apa-apa Sean sudah merasakan kerinduan. Pria itu merogoh ponselnya demi menghubungi sang istri. Sean berdecak kesal lantaran sang istri tidak segera mengangkat panggilan video darinya.


"Ays kemana dia? Sengaja mengabaikanku?" tanya Sean memaki layar ponsel dengan kaki yang kini sama sekali tidak bisa diam.


Gusarnya terlalu kentara, hingga ketika Zia masuk bersama omanya, Sean cepat-cepat memperbaiki posisi kaki yang tadi dia angkat di atas sandaran sofa.


"Mama? Kata Papa sore pulangnya, kok tiba-tiba sudah di sini?" tanya Sean panik, tatapan tajam Kanaya membuat Sean ciut.


Sejak dahulu memang hanya Kanaya yang berhasil membuat Sean takut. Tidak jarang telinganya menjadi sasaran Kanaya akibat kenakalan Sean di masa remaja.


"Kamu sendiri kenapa tiba-tiba sudah di sini? Katanya kemaren mau pulang ke Bandung? Di usir istri?"


"Bukan begitu, Ma ... ada urusan sedikit," ucap Sean setelah mengecup punggung tangan Kanaya, tidak lupa mengecup pipi omanya.


"Hudzaifah mana, Sean?"


"Oma, Hudzaifah anak Zean, bukan anakku," tutur Sean lembut pada wanita yang kini semakin keriput, akhir-akhir ini Kanaya daya ingat Kanaya mulai menurun seiring usianya yang kian menua.


"Ahaha Oma lupa ... kamu pulang hanya sendiri? Tidak ada Syila?"


Salah lagi, Sean mengatupkan bibir dan melihat Zia yang kini tersenyum tipis. Sudah dijelaskan berkali-kali, tapi memang setelah sempat sakit setelah Sean masuk penjara, ingatan Kanaya benar-benar berbeda.


"Syila juga istri Zean, Oma ... istri Sean itu Zalina," jelas Sean lembut, begitu banyak hal yang berubah setelah musibah menimpanya.


Perhatian Sean terfokus pada omanya kini, tanpa sadar jika Zalina sudah cemberut di seberang sana. Beruntung saja Zia menyadari suara menantunya yang memanggil Sean berkali-kali.


"Zalina gawat!! Suamimu lagi selingkuh sama wanita lain ini," ucap Zia usai meraih ponsel Sean yang sengaja tergeletak di sofa dan kini menunjukkan Sean yang tengah memeluk erat Kanaya.


"Mama!! Sembarangan, kemarikan," pinta Sean meraih ponselnya segera, bisa-bisanya dia lupa tentang Zalina.


.


.


- To Be Continue -