
Aaron meminta Sora untuk duduk di sofa setelah mereka masuk ke kamar,menenangkan Sora dengan ucapan lembutnya.
"Sayang kamu gak apa apa kan?"
"Kamu istirahatlah,aku akan bilang sama nenek jika kamu udah capek."
Sora mengangguk pelan,mengiyakan perkataan Aaron.
Setelah memastikan keadaan Sora,Aaron melangkah keluar untuk kembali ke pesta.
"Sayang." Panggil Sora.
Aaron memutar badannya melangkahkan kembali kakinya mendekati Sora,tepat di depan Sora Aaron berjongkok dan menggenggam lembut kedua tangan Sora.
"Ada apa?"
"Apa ada yang sakit?"
Sora masih menggeleng dengan jawabannya,ingin bertanya pada Aaron namun ada keraguan,hingga akhirnya Sora memberanikan diri dan bertanya pada Aaron.
"Mm..Sayang,kamu gak marah atau bertanya tentang kejadian barusan?"
Aaron menggeleng pelan.
"Aku percaya sama kamu,gak usah mikirin yang gak penting oke." Ucap Aaron sambil mengelus perut Sora yang sedikit membesar.
Sora menatap Aaron dengan perasaan bersalah,dalam hatinya ada rasa bersyukur punya suami yang seperti Aaron.
"Aku cintai kamu Aaron,kamu membuatku makin cinta." Batin Sora.
Setelah itu Aaron keluar kamar dan meninggalkan Sora di kamar sendirian.
Sora kembali mengingat kejadian tadi,mengingat kata kata Elan yang membuat selama ini salah paham padanya.
"Bukankah saat acara itu,Jean yang bersama Elan,Oh God..."
"Mungkinkah yang bersama Elan itu Jean."
Sora meraih ponsel yang ada di sampingnya dan menelpon Jean.
"Hallo Ra." Jawab Jean di seberang telpon.
"Jean,kamu tau gak barusan ada hal gila yang bikin aku terkejut."
"Mm,hal gila?"
"Hal gila apaan Ra?"
"Kamu tau gak,aku ketemu ama Elan,dan dia bilang hal gila ama aku."
"Dia bilang saat malam perpisahan kelulusan dia dan aku menghabiskan malam yang panas dengannya."
"Hah. What?"
"Elan pikir dia bersama kamu malam itu?"
"Gila ya?"
"Saat itu aja dia mabuk berat,bahkan dia gak ingat siapa yang ngantar dia ke hotel?"
"Gara gara dia juga saat itu aku harus kehilangan jaketmu."
"Maksud kamu...?"
Sora mulai menyatukan teka teki yang selama ini membuat Elan salah paham padanya.
"Apa kamu wanita yang menghabiskan malam itu bersamanya,hingga Elan salah paham padaku."
"Aaa..,Glup." Suara salivan Jean yang menelan ludah dengan pelan.
"Enggak,no no! Tak terjadi apapun aku dan Elan!" Teriak Jean meyakinkan Sora dengan tangan membentuk silang.
"Jean...!"
"Apa ada sesuatu yang gak kamu ceritakan ke aku?" Ucap Sora dengan nada menekan.
"Kukira itu bukan hal penting ra."
"Malam itu kau menyerahkan Elan padaku untuk ku antar pulang."
"Aku gak tau dia tinggal di mana,jadi ku bawa dia ke hotel."
"Memang sih saat itu dia ingin menciumku,tapi dia memanggil namamu."
"Mm...,apa karena saat itu aku menelanjanginya,jadi dia berpikir melakukan hal itu?"
Terang Jean panjang lebar.
"What?Gila kamu Jean." Sora menggelengkan kepalanya karena merasa heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Tunggu,kamu mikir apa Ra?"
"Ha ha ha apa kamu berpikir aku akan melakukan hal bodoh itu."
"Iya kamu bodoh." Potong Sora saat Jean berbicara.
"Oke aku bodoh dan kamu pintar?" Cibir Jean.
"Ha ha ha,udah Jean jangan marah,kita sama sama bodoh,sekarang langsung ke intinya aja. Kok kamu nelanjangi Elan?"
Jean mendengus dan mengambil nafas dengan perlahan,dan memulai bercerita.
"Saat Elan ingin menciumku tiba tiba dia mengeluarkan isi perutnya."
"Aku dan dia sama sama terkena muntahannya."
"Hah??"
"Karna itu kau melepaskan bajunya,dan meninggalkan jaketku bersamanya?"
Terka Sora.
"Oh God..."
"Karna itulah Elan berpikir malam itu dia bersamamu?"
Jean menutup mulutnya dengan wajah yang terkejut karna bisa memecahkan teka teki sebuah kasus.
"Lalu sekarang bagaimana kamu menjelaskan pada Elan Ra?"
"Aku udah berusaha menjelaskannnya Jean,namun dia tetep kekeh,dan gak mau tau." Desah Sora sambil menunduk.
"Tadi Aaron melihat Elan memaksaku,lalu..."
"Lalu apa Ra?"
"Apa Aaron memukul Elan?"
"Iya Jean." Jawab Sora pelan dan tak bersemangat.
"Aaron tak bertanya apa apa padaku,dia hanya memintaku untuk beristirahat."
"Tapi aku takut Aaron akan melakukan sesuatu pada Elan."
"Sepertinya aku harus menjelaskan hal ini sama Elan juga Aaron."
"Takutnya mereka akan..." Jean tak berani melanjutkan perkataannya karna Jean tau sifat Aaron jika menyangkut soal Sora.
"Aku tau,kali ini aku meminta bantuanmu Jean."
"Tenang Ra kamu gak usah terlalu khawatir,jangan banyak berpikir nanti akan mempengaruhi kehamilanmu."
"Aku akan meminta cuti dan akan datang ke sana."
"Tak usah Jean,dua hari lagi aku akan kembali."
"Secepat itu?"
"Apa kau tak lelah,harusnya kau di sana lebih lama."
"Apa Aaron tak memikirkan kehamilanmu?"
"Aku yang memintanya,aku tak ingin berlama lama di sini,aku tak mau bertemu lagi dengan Elan."
"Oke,kau harus jaga dirimu dan keponakanku."
"Itu perintah!"
"Baik nyonya besar,aku akan melaksanakan perintahmu."
"Baiklah,Bye..." Ucap Jean.
Mereka tertawa bersama dan menutup telponnya secara bersamaan.
Sora menghela nafas dan memandang ponsel yang ada di tangannya dengan tatapan kosong.
.....
Satu persatu kerabat keluarga Markle meninggalkan rumah besar,seketika itu keheningan mulai menyergap,terlihat sepi dan tenang.
Aaron membuka pintu kamar sepelan mungkin lalu berjalan mendekati ranjang besar,Aaron tersenyum menatap Sora yang tertidur,pantulan bulan yang masuk ke kamar membuat Sora terlihat cantik bagaikan seorang dewi.
Aaron melangkah mendekati Sora dan duduk di pinggir ranjang,jari Aaron menyapu kening Sora dengan lembut dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Sora.
"Istriku yang cantik,aku tak akan berhenti mencintaimu." Batin Aaron yang menatap Sora dengan dalam,setelah itu dia berdiri melangkah menuju kamar mandi.
.....
"Auw!"
"Bisa pelan sedikit!"
"Kau membuatku tambah sakit!" Pekik Elan pada Danish sahabatnya.
"Itu akibatnya jika kau gak mau dengar aku!"
"Apa kau gak mikir? Kemungkinan apa yang akan Aaron lakukan terhadapmu besok." Ucap Danish kesal.
"Dia gak akan melakukan apapun padaku,dia gak akan berani."
"Dia tau posisiku penting di hati nenek,dia sangat menyayangi nenek."
"Jika dia menyakiti aku,sama saja dia menyakiti nenek."
"Huh." Dengus Danish.
"Baiklah terserah kau saja,aku hanya mengingatkanmu sebagai temanmu."
Ucap Danish sambil merapikan obat ke dalam kotak.
"Apa kau akan tetap pergi ke negara A?"
Elan tak menjawab pertanyaan Danish,dia menatap layar ponsel lalu meremasnya.
"Apa yang kau lihat?"
Melihat reaksi sahabatnya Danish mengambil paksa ponsel Elan dan melihatnya.
Terlihat di layar ponsel berita tentang keluarga Markle yang memperkenalkan istri dari Aaron Markle.
"Sobat,kau harus melupakannya!"
"Banyak wanita yang ingin mendapatkanmu,pilihlah salah satu!" Pinta Danish.
"Apa.. ku kenalkan saja beberapa teman wanitaku padamu."
"Kau pikir mereka barang,yang bisa ku ambil sesuka hati dan menaruhnya di sampingku!"
"Benar!" Ucap Danish memperlihatkan tawa nakalnya.
"Pulang sana!"
"Aku tak butuh kamu di sini!"
"Ha ha ha,oke oke aku akan pergi."
"Pikirkan ucapanku tadi."
Lalu Danish pergi meninggalkan Elan.
"****! Dia membuat wajah tampanku tak terlihat lagi." Umpat Elan yang meraba lebam di wajahnya.
"Jika saja aku menyatakan perasaanku dari dulu aku pasti sudah bersama Sora saat ini."
"Aku tak menyangka Sora ternyata seorang nona besar."
"Aaargh..."
Elan merasa marah pada dirinya sendiri.