Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 16 - Edisi Ana - Axel


Usai tanggung jawabnya menemani Satria sekolah, Axel juga harus tetap berada di sana sampai sang putra tidur siang. Ya, sedikit banyak drama, tapi Axel suka. Bahkan jika bisa dia ingin Satria merengek agar malam hari juga turut tidur bersamanya, entahlah dia merasa tidak lagi memiliki kemampuan berjauhan dari mereka.


Meski sadar belum pantas, tapi Axel akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka. Dia punya tenaga, Sean juga menawarkan pekerjaan bahkan jika bisa Axel berdiri sendiri dengan modal yang akan dia beri.


Selain itu, dia juga memiliki bakat seni yang kerap Ricko katakan buang-buang cat dan juga kertas itu. Saat di penjara Sean pernah mengatakan bahwa nilai jual sebuah lukisan biasanya tidak main-main, Axel percaya dan sangat yakin akan hal itu.


Tanpa dia duga, putranya juga memiliki bakat yang sama. Jiwa seniman seolah mengalir dalam diri Satria dan kini tengah memperlihatkan keahlian di hadapannya.


"Bagus ... kau benar-benar berbakat, Satria," puji Axel memandangi goresan tangan Satria di atas buku gambar.


"Ini Daddy, ini Mommy dan ini Satria."


"Tapi kenapa Daddy berbeda-beda bentuknya?"


Berulang kali Axel perhatikan, memang kenyataannya berbeda dan seperti orang lain meski Satria belum jelas melukis wajah manusia. Dari bentuk badan, pakaian dan rambut juga demikian.


"Ini Daddy Yudha."


"What?" Baru mendengar namanya Axel sudah mengerutkan dahi, bukankah pria itu yang kerap bertemu dengannya sebelum bebas? Benar-benar membuat Axel merasa tersaingi.


"Iya, Daddy ... terus ini Daddy Rangga, ini Daddy Mike dan ini Daddy Rigo."


Axel baru ingat ucapan Ana, begitu banyak pria yang datang dan dianggap ayah oleh putra mereka sebelum kehadiran Axel. Miris, hati Axel mendadak sakit dan benar-benar terluka mendengar tutur kata putranya.


"Banyak sekali, tapi sekarang Daddymu hanya satu ... dan ini Daddymu," ucap Axel menarik tangan Satria agar menyentuh dadanya, berharap Satria akan berhenti dan mengubur kenangan tentang pria yang lain.


"Daddy Axel?"


"Benar, kau tahu nama daddy?"


"Iya, mommy yang memberitahuku ... mommy juga cerita banyak hal tentang Daddy," celoteh Satria yang mendadak membuat pria itu tertarik, dia mendongak dan terseyum seraya memandangi wajah tampan putranya.


"Oh iya? Bagaiamana katanya?"


"Kata mommy ... Daddy sangat tampan, maka dari itu aku juga tampan, Daddy pintar dan juga sangat baik jadi aku harus begitu juga agar Daddy bangga," jelas Satria seketika membuat hati Axel berdebar tak karuan, ini gila dan benar-benar membuatnya ingin terbang seketika.


"Woah begitu?"


"Betul, Daddy begitu."


"Apa Mommy pernah merindukan Daddy?" tanya Axel mulai menjalar kemana-kemana, tanpa dia sadari jika Ana sedang mengintainya di dekat pintu dengan perasaan malu dan ingin menggali kuburannya sendiri saat ini.


"Tentu, setiap hari mommy rindu."


Yash!! Axel terbawa ke awang-awang, entah Ana membual atau bagaimana yang jelas dia bahagia. Jiwanya bergelora, bukankah hal semacam ini perlu dia banggakan di hadapan Ricko nanti.


Tidak berselang lama, Axel muncul dan turut duduk di depan gundukan pakaian Ana dan Satria. Niatnya membantu, tapi belum apa-apa tangan Axel mendapatkan benda pribadi milik Ana yang bisa saja menjadi petaka.


"Axel!!" sentak Ana kala melihat Axel yang justru menatapnya dengan tatapan tak terbaca, sontak Ana merampas kacamata miliknya.


"Ma-maaf, aku hanya ingin membantumu."


"Biar aku sendiri," ucap Ana yang kini memerah, luar biasa malunya bahkan ingin menempelkan setrika ke wajah tak berdosa Axel, sungguh.


"Terlalu banyak, An ... kau tidak mencuci berapa lam_"


"Sudah kukatakan biar aku sendiri, Axel!!" Ana benar-benar ingin marah, setelah tadi kacamata, kini segitiga bermuda yang membuat ubun-ubunnya berasap.


Bukan main kesalnya Ana, sejak tadi sudah berusaha menahan malu dan kini semakin malu. Sementara Axel hanya tertawa sumbang mendapati reaksi Ana, seluruh tubuh Ana bahkan sudah dia lihat dan rasakan jika ingin dibahas, tentu saja reaksi Ana membuatnya gemas.


"Hahaha, kau bisa marah ternyata?"


"Menurutmu? Melahirkan saja aku bisa, apa lagi marah," gerutu Ana masih dengan kekesalan yang luar biasa tak terkira, gelagat Axel yang menyebalkan benar-benar membuatnya ingin gila.


Cukup lama Axel pandangi, dia seakan enggan pergi dan berat sekali untuk pamit. Dia ingin merengek, apa tidak bisa serumah saja agar tidak seberat ini? Sayangnya, dia tetap harus pulang apapun alasannya.


"Aku pulang, An ... kalau Satria cari nanti telepon saja, aku pasti ada."


Ana mengangguk pelan, sekesal-kesalnya pada Axel, wanita itu masih mengantarnya ke depan pintu. "Terima kasih untuk hari ini," ucap Ana sebelum Axel berlalu.


"Sama-sama, aku yang berterima kasih padamu, An."


Axel menghidupkan motornya, pria itu mulai bersiap untuk pergi dan baru saja hendak melaju. Namun, Ana tiba-tiba menahan kepergiannya hingga pria itu bahkan rela turun dan membuka helmnya.


"Ada apa, An?"


"Soal yang tadi ... akan aku pikirkan, tapi sebelum itu aku harus meminta pendapat kak Irham," jawab Ana seketika membuat Axel menganga, dia mengerjap pelan dengan mata yang kembali mengembun.


"An? Apa kau bercanda?"


"Tidak, aku serius, Axel ... demi Satria, demi anak kita," jawab Ana tulus hingga pria itu berlutut lantaran kakinya mendadak lemas, sungguh ingin sekali dia berteriak saat ini juga.


"Ana, bisa kau ulangi? Aku ingin mendengarnya sekali lagi ... Calon istriku." sambung Axel yang hanya berani membatin dalam menyebut sosok Ana dalam hidupnya.


.


.


- To Be Continued -