Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 126 - Tidak Suka


Kata orang, banyak anak banyak rezeki. Begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk Sean jika bicara tentang kehidupannya saat ini. Bagaimana tidak, niat hati meminta sertifikat rumah Abrizam dan Sean justru mendapatkan dua karung durian.


Sedikit ngeri-ngeri sedap, dia sebenarnya takut Zalina curiga melihat apa yang dia peroleh setelah pergi selama kurang lebih dua jam. Tiba di kediaman kiyai Husain, keluarga besar sang istri tampak bingung melihat Sean sore ini.


Tadi malam umi Rosita sudah dibuat terkejut kala melihat kulkasnya yang mendadak penuh oleh buah-buahan segar berbagai rupa bahkan sampai nangka juga ada. Kini, dia kembali menganga melihat puluhan durian berurukan besar yang baru saja Sean turunkan dari mobil.


"Banyak sekali ... bukankah sekarang masih mahal, Sean?"


"Gratis, Abi, aku tidak beli."


"Masya Allah, mulia sekali hati orang-orang di luar sana, tahu saja kalau Abi kangen durian."


Syukurlah, kiyai Husain tampak bahagia dengan oleh-oleh dari Sean. Sama sekali dia tidak curiga asalnya dari mana, tapi yang jelas di mata kiyai Husain seorang Sean tidak akan pernah memberi sesuatu yang tidak halal untuk keluarga besarnya.


Tidak jauh berbeda dengan kiyai Husain, kedua kakaknya juga sama. Bahkan Abrizam yang baru saja menjatuhkan talak pada istrinya turut menikmati perolehan Sean kali ini. Namun, sayangnya Zalina justru tampak tak suka dan memilih menjauh dari kerumunan mereka.


"Zalina mana, Umi?"


"Ke belakang, coba kamu lihat," tutur umi Rosita yang tetap menikmati betapa manisnya durian itu.


Seketika dia bahkan lupa dengan hinaan yang diberikan oleh orangtua Ayunda kala mereka mengantarkan wanita itu baik-baik. Sungguh Tuhan tengah menunjukkan kekuasaannya hari ini, yang mana menciptakan obat untuk setiap luka hambanya.


Sean mengikuti saran uminya, sejak tadi memang tidak ada gurat kebahagiaan di wajah Zalina. Kini, Sean tengah mencari keberadaan sang istri ke dapur, aneh sekali tiba-tiba menghilang hanya karena Sean membawa durian.


"Sayang ...."


Sean mengelilingi dapur bersih dan kotor secara bergantian. Dia benar-benar kehilangan dan bingung sendiri sang istri sebenarnya dimana. "Sayang, mas bawa durian ... tumben kamu tidak suka," teriak Sean sedikit meninggi, di saat pemberiannya tidak disukai Zalina, saat itu hati Sean remuk seketika.


"Zalina?" panggil Sean seraya membuka lemari es, apa sekarang Sean sedang berpikir jika istrinya sejenis sayuran segar? Entahlah, pria itu memang sedang aneh saat ini.


"Ck, kemana di_ Sayang!! Astaghfirullah, kamu kenapa?"


Panik, itu adalah satu kata yang muncul kala melihat sang istri tampak pucat pasi dan keringat bercucuran keluar dari kamar mandi. Sean mendekat, dia hendak memeluk sang istri dan Zalina mundur segera. Tidak lupa dengan hidung yang dia tutup dengan jemarinya.


"Kenapa, Sayang?"


"Bau, mas jauhan kepalaku semakin sakit," pinta Zalina seolah benar-benar anti mencium aroma sang suami, apa mungkin dia trauma lantaran Sean lancang buang angin tadi siang?


"Kenapa minta mas jauh-jauh, Na? Ilfeel ya gara-gara tadi?" tanya Sean dengan wajah memelas diiringi takut bagaimana jika benar sang istri jijik padanya.


Zalina menggeleng, dia yang tadi masih berdiri di hadapan Sean kembali berbalik ke kamar mandi dengan lagkah cepatnya. Sean khawatir? Tentu saja, tanpa pikir panjang dan khawatir akan diusiir pria itu mengejar sang istri yang ternyata tengah memuntahkan isi perutnya.


Ingin tersinggung, tapi yang kini ada di hadapannya adalah sang istri. Seingat Sean, Zalina benar-benar menyukai dirinya sekalipun tidak mandi berhari-hari. Anehnya, kali ini dia hanya pergi beberapa jam dan sang istri seolah mabuk berat.


Tidak ada jawaban, Zalina masih tertunduk dengan napas yang kini tampak berat. Bisa dipastikan istrinya sangat lelah, Sean menariknya dalam pelukan secara paksa. Tidak ada lagi penolakan, karena memang kini terlihat seolah tanpa tenaga.


"Ada apa denganmu, Na?"


"Mas jangan ngomong, mulutnya bau," ungkap Zalina pelan dengan tatapan sayu yang benar-benar menunjukkan dia tidak suka.


"Masa iya?"


Hah!!


Sudah Zalina katakan bau, dan Sean justru membuktikan sendiri demi memastikan bau mulutnya. Jelas saja hal itu membuat Zalina menutup mulutnya rapat-rapat.


"Mas makan durian juga ya? Bau, Mas!!"


Dia tidak suka durian? Bahkan baunya juga tidak suka? Aneh sekali, padahal seingat Sean sewaktu masih menjadi pengantin baru Zalina sangat suka makanan berperisa buah itu.


Sean masih dalam tahap menenangkan Zalina, tanpa aba-aba suara Agam yang tampak terkejut membuat keduanya menoleh bersamaan. "Kalian berdua sedang apa di kamar mandi?"


"Uwweeek!! Mas Agam kenapa dibawa ke sini ... ah perutmu mual sekali," gerutu Zalina sebelum kemudian memilih berlalu karena tidak kuat dengan aroma durian yang ada di tangan Agam.


"Istrimu kenapa?" tanya Agam pada sang adik ipar yang masih bingung ada apa dengan istrinya.


"Entahlah, Mas ... dia mual, bau katanya."


"Dasar aneh, biasanya juga dia yang paling rakus," gumam Agam menatap punggung adik bungsunya yang semakin menjauh.


"Sembarangan, kau kira istriku tikus?!!"


"Kau kenapa melihatku begitu, Sean?" tanya Agam seketika membuat Sean mengalihkan pandangan, agaknya kebiasaan mengumpat memang tidak bisa lepas dari dirinya.


"Ti-tidak, Mas ... saya naik dulu."


.


.


- To Be Continued -