Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
89. Mengacaukan


"Calista?"


"Ada urusan apa wanita itu kemari."


"Apakah dia ingin mengacaukan rapat saat ini?" Batin Zain Ernest.


Zain berusaha setenang mungkin dan memperhatikan Calista yang sudah masuk ke dalam ruangan rapat.


Semua yang ada di ruangan rapat tersirat pertanyaan dari wajah mereka.


Fredy yang melihat ekspresi ketidaksukaan Aaron langsung bertindak untuk mengusir Calista.


"Maaf nona,anda tidak berkepentingan untuk masuk ke sini." Ucap Fredy.


"Kenapa tidak boleh?"


"Kapanpun aku ke sini aku berhak,kau hanyalah seorang bawahan."


"Dan kau harus ingat posisi mu." Ucap Calista dengan nada mengancam.


"Apa anda ada keperluan di sini?" Tanya Fredy.


"Ya!" Jawab Calista tersenyum puas.


"Aku adalah salah satu pemegang saham grup M."


"Dan aku berhak mengetahui apapun yang di lakukan oleh perusahaan."


Ucap Calista dengan evil smirknya.


Aaron langsung memutar kursinya ke arah Calista dan berdiri setelah mendengar hal yang di sampaikan oleh Calista.


"Rapat di bubarkan." Ucap Aaron.


Hawa dingin yang mereka rasakan dan suasana yang sedikit mencekam membuat para pegawai bergegas berdiri dan dengan cepat meninggalkan ruangan rapat,bahkan Fredypun tak luput untuk segera meninggalkan ruangan oleh perintah Aaron.


Hanya Sora yang masih tinggal di ruangan rapat.


Sora mengerti keadaan yang terjadi saat ini,dan dia tetap setia menunggu Aaron dengan duduk di kursinya.


Calista memiringkan tubuhnya untuk melihat Sora yang terhalang oleh tubuh Aaron,lalu berbicara...


"Nyonya apa kau tak mendengar bahwa rapat di bubarkan?"


"Jika kau tak ada kepentingan kau bisa keluar sekarang juga."


Sora berdiri dan tersenyum dengan ujung bibirnya terangkat setelah mendengar ucapan Calista.


"Maaf nona sekarang waktunya jam makan siang,justru anda yang sekarang tidak berhak untuk mengganggu kami untuk menghabiskan jam makan siang kami." Balas Sora.


Sora melangkah mendekati Aaron dan menyusupkan jari jarinya ke sela jari Aaron dan menggenggam tangan Aaron,mengangkatnya ke atas agar terlihat oleh Calista.


"Maaf kami permisi." Ucap Sora.


Aaron tersenyum puas dengan perlakuan Sora baru saja.


Mereka berjalan keluar ruangan melewati Calista.


"Aargh... sialan."


"Harusnya aku yang membuatnya marah."


Guman Calista sambil mengepal tangannya sendiri,menahan kecemburuan dan kemarahan dalam hatinya.


...


Di ruangan Aaron...


Aaron dan Sora menikmati makan siang mereka yang di masak oleh bi kana.


"Sayang aku gak nyangka kau bisa membuat Calista tak dapat berbicara lagi." Ucap Aaron.


"Hahaha..." Sora tertawa senang.


"Sayang apa yang akan kau lakukan jika dia tak menyerah untuk mengganggu kita." Tanya Sora.


"Mm.. aku punya rencana untuknya,kau tenang aja." Jawab Aaron.


"Klek."


Suara pintu tertutup.


Aaron dan Sora langsung menoleh ke arah pintu.


"Rey!"


"Di mana etikamu saat masuk ke ruang presdirmu." Teriak Aaron yang tak suka melihat Reyna masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Reyna terlihat acuh dengan teriakan Aaron dan berjalan mendekati mereka berdua.


"Waah kayaknya enak nih."


Reyna langsung duduk dan mengambil beberapa makanan yang ada di meja.


"Hei!"


"Makanan ini bukan untukmu!" Ucap Aaron dengan nada tinggi dan mencegah Reyna untuk mengambil makanan lagi.


"Sayang udah gak papa."


"Kan masih banyak."


Ucap Sora.


"Nah kan,Sora aja bilang gak apa apa."


"Pelit ama sih."


Ucap Reyna dan menyantapnya tanpa memperdulikan Aaron.


Aaron hanya bisa diam dengan kelakuan Reyna,setelah Sora mengijikannya untuk makan.


"Hmm enak banget nih masakannya."


"Kamu yang masak Ra?"


Tanya Reyna.


"Enggak,bibi di rumah yang masak."


Jawab Sora.


"Ayo ayo di makan,kita makan sama sama." Ajak Reyna tanpa malu.


Aaron ingin sekali mengusir Reyna,namun tangan nya di genggam oleh Sora.


"Udah sayang kita makan aja." Bujuk Sora.


Aaron hanya mengangguk pelan.


"Kamu makan yang banyak ya,biar dobel A gak kelaparan." Ucap Aaron.


"Dobel A?" Tanya Sora kebingunan.


"Arsa.. Arsi.." Bisik Aaron.


"Oo.. hihihi." Sora tertawa kecil mendengar penjelasan Aaron.


"Hei-brakk."


"Bisa gak kalian tak bermesraan di depanku!"


Aaron menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Jika kau merasa terganggu dengan kemesraan kami kau bisa keluar dan makan di kantin." Jawab Aaron.


Sora hanya diam dan menyimak mereka berdua saling berargumen.


"Kau..!"


"Baik,silakan jika ingin melanjutkan kembali kemesraan kalian,aku tak akan mempermasalahkan lagi."


"Aku sudah kenyang kalian habiskan saja makanannya."


Reyna diam sesaat dan melanjutkan ucapannya.


"Tujuanku ke sini hanya ingin bertanya tentang gadis yang datang saat rapat tadi."


"Siapa dia?"


Reyna bertanya.


"Calista Alves." Jawab Aaron singkat.


"Calista?"


"Mantan istri kamu?"


Reyna tersadar dan meralat perkataannya.


"Maksudku mantan-calon istri kamu?"


"Untuk apa dia datang ke sini?"


"Bukankah kau tadi mendengarnya,jika dia adalah salah satu pemegang saham grup M." Ucap Aaron.


"Wanita gila,untung saja kau tak menikahinya."


"Ada seseorang yang bermain saham grup M,apakah dia?"


"Mungkin,semua petunjuk mengarah pada keluarga Alves." Terang Aaron.


"Ron kamu ingat saat seseorang menyerang kakek?"


"Mereka mengincar saham kakek."


"Dan mereka memaksa kakek untuk menjualnya pada mereka." Terang Reyna.


Aaron mendengar setiap ucapan Reyna dengan serius.


"Tak salah lagi,mereka anak buah dari Eric Alves,aku yakin mereka ingin sekali menghancurkanmu."


Ucap Reyna.


"Ada kejadian seperti itu?"


"Kenapa Aaron tak cerita denganku ya?"


Batin Sora.


Mendengar perkataan Reyna,Aaron menoleh dan menatap Sora yang sedari tadi hanya diam tanpa berkata kata.


"Sayang kau harus habiskan makanan ini." Ucap Aaron sambil menyuapi Sora.


"Oke aku akan kembali bekerja."


"Terimakasih atas makan siangnya." Ucap Reyna.


Reyna berdiri dan meninggalkan Aaron dan Sora.


****


Zain tenggelam dalam pemikirannya dengan kedatangan Calista di perusahaan.


"Aku punya firasat buruk tentang hal ini,kenapa Aaron tak melakukan sesuatu?"


"Apa dia punya rencana sendiri?" Batin Zain.


Saat Zain menoleh-


"Hah!" Zain tersontak kaget ketika tiba tiba ada sosok yang sudah berdiri di depannya membuat badannya melonjak dan dia berusaha mengatur nafasnya agar menjadi tenang.


"Jean!"


"Apa kau tak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke dalam ruanganku?"


"Pak Zain,aku sudah berulang kali mengetuknya,bahkan aku sudah memanggilmu beberapa kali."


"Kau yang melamun,hingga aku panggil sampai kau tak mendengarku."


"Apa kau tak melihat penampilanmu sekarang?"


"Kau membuatku takut."


"Aku?"


"Kenapa dengan penampilanku?"


Jean menyapu sekeliling ruangan untuk mencari kaca.


"Jika kau mencari kaca tak akan kau temukan."


"Kau kan bisa pakai ponselmu." Ucap Zain.


"Oh."


"Pintar." Puji Jean.


Jean merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya.


"Astaga!"


"Bagaimana aku bisa seperti ini?"


Jean diam dan mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Oiya tadi aku berada di proyek,aku harus mengecek lantai teratas dan di sana angin sangat kencang."


"Ada pekerja yang menjatuhkan bubuk semen berwarna putih."


"Ah sial,jadi selama ini penampilanku seperti ini?"


"Pantas saja orang orang di kantor melihatku dengan aneh."


Batin Jean.


Jean bergegas meninggalkan Zain menuju toilet wanita,dan berlari kecil menutupi wajahnya dengan ponselnya.


"Ah.. malu maluin aja." Batin Jean.


"Tadi kan aku mau tanya tentang rapat hari ini,jadi lupa kan gara gara penampilanku yang kayak gini."


"Aargh.."


Jean memendam rasa malu yang membuatnya ingin berteriak namun hanya sebatas dalam pikirannya.