
Malam hari...
Di apartemen,Zain sedang duduk di ruang kerjanya,masih mencari cara untuk menemukan Smith.
"Aku harus hati hati jika bertemu wanita itu di perusahaan."
"Aku harus menemukan Smith sebelum wanita itu mengetahui identitasku."
"Aku yakin dengan apa yang kulihat bahwa Smit masih hidup."
Batin Zain.
Zain berusaha mencari informasi tentang keberadaan Smith di perusahaan M,saat ini jari jarinya memainkan perannya menekan setiap tombol di keyboard laptop mencari data pegawai di setiap bagian.
"Aku harus mendekati seseorang yang paling dekat dengan Aaron tanpa di curigai."
Zain tersenyum licik setelah muncul satu ide untuk mendekati Aaron.
"Smith aku pasti menemukanmu."
"Apapun caranya akan aku lakukan."
****
Aaron tak henti hentinya berbicara di depan perut Sora menggunakan alat untuk mendengarkan detak jantung janin.
"Sayang si kembar kan masih kecil."
"Nanti kalau sudah empat bulan,mereka udah merespon." Terang Sora yang sudah mulai pegal dari tadi menyandar di kepala ranjang.
"Sst..."
Aaron meminta Sora untuk diam.
Sudah setengah jam Aaron tak berhenti untuk berinteraksi dengan anaknya yang masih di dalam perut.
"Sayang udahan ya...,aku udah capek."
Ucap Sora.
Mendengar ucapan Sora,Aaron menghentikannya lalu berbaring dan menarik Sora pelan agar tidur di bahunya.
"Tidurlah,kamu capek kan?"
"Mm." Jawab Sora singkat.
"Jika kau capek besok tak perlu berangkat ke kantor."
"Mm." Masih dengan jawaban singkat Sora.
Aaron tersenyum berusaha meraih ponselnya di meja dan melanjutkan bicaranya untuk merekam jawaban Sora.
"Baiklah mulai besok kau di rumah saja,kau tak perlu bekerja."
"Mm."
"Kamu setuju?" Tanya Aaron sekali lagi sambil menahan tertawanya.
"Mm."
"Oke kau di rumah saja."
Sora tersadar dan membuka matanya dengan cepat.
"Kau barusan bilang apa sayang?"
"Kau sengaja ya."
Sora gemas lalu memukul dada Aaron.
"Pukk."
"Auw."
"Sayang bukankah tadi kau setuju."
"Kenapa sekarang marah."
Sora menyingkirkan tangan Aaron dan memutar tubuhnya berbaring membelakangi Aaron.
Aaron mendekati Sora dan memeluknya dari belakang.
"Sayang jangan marah tadi aku hanya bercanda."
Aaron berusaha merayu Sora dengan menyibakkan rambut Sora ke samping lalu menciumi belakang leher Sora.
"Kok diem aja?" Batin Aaron.
Aaron menghentikan ciumannya dan mengangkat tubuhnya untuk mengintip Sora.
"Yah udah tidur,pantas aja gak ada reaksi." Batin Aaron sedikit kecewa.
Aaron kembali berbaring di belakang tubuh Sora dan memeluknya.
...
Paginya...
Sora bangun dan bersiap lebih awal,duduk di pinggiran tempat tidur dan menatap Aaron.
Dengan pelan Sora melukis alis Aaron dengan telunjuknya,Sora tersenyum ketika Aaron bereaksi menggerakkan alisnya dalam keadaan tertidur.
Makin lama membuat Aaron tersadar lalu meraih jari Sora secepat kilat dan menggenggamnya,perlahan Aaron membuka matanya.
"Sampai kapan kamu akan mempermainkan aku?" Ucap Aaron setelah membuka matanya.
Sora tersenyum dan menarik pelan jarinya yang berada dalam genggaman Aaron,mengambil kopi di meja yang sudah dia buat.
"Minumlah,setelah itu mandi."
"Aku sudah menyiapkan bajumu."
"Aku keluar duluan dan menunggu kamu di meja makan,ok sayang."
Aaron mengangguk dan mendudukan tubuhnya,menyesap dengan pelan menikmati kopi buatan Sora.
...
Aaron melangkah menuju meja makan,setelah itu dia menggeser kursi di sebelah Sora dan duduk dengan tenang.
Olivia yang melihat wajah lebam Aaron dan bibir Aaron yang terluka terlihat khawatir dan bertanya.
"Aaron apa yang terjadi denganmu?"
Sora mendengar pertanyaan mamanya pada Aaron seketika itu langsung menatap wajah Aaron dan menyentuhnya. Sora tak memperhatikan kedatangan Aaron,tidak tau jika wajah Aaron lebam.
"Sayang tadi kau baik baik saja,kenapa jadi seperti ini?" Tanya Sora yang sangat khawatir.
"Tak apa apa,tadi hanya ada kejadian konyol di kamar mandi,aku terpeleset dan botol shampo yang di tanganku terlempar mengenai bibirku." Ucap Aaron dengan memaksakan tertawa pada bibirnya yang terluka.
"Astaga..."
"Lain kali kau harus hati hati Ron."
"Aku akan meminta Maya untuk membersihkan kamar mandi kalian lebih bersih lagi,agar tak mencelakai kalian ke depannya."
Ucap Olivia.
"Iya ma." Jawab Sora.
Sora masih saja memegang pipi Aaron,hingga mengabaikan kakek yang baru saja datang dan berdehem-
"Ehem."
Mendengarnya Sora segera menjauhkan tangannya dari pipi Aaron dan mulai menyantap sarapan.
Setelah selesai sarapan Kakek memandang satu persatu keluarganya dan terhenti di Aaron dan Sora.
"Apa ada yang ingin kalian sampaikan pada kakek?"
"Mm..." Sora berpikir dan ragu untuk berterus terang,namun jika berbohong dia harus menghadapi konsekuensinya.
"Maaf kek,Sora tak beritahu kakek."
"Kemarin Sora mulai bekerja di kantor Aaron." Terang Sora.
"Ron apa kau tak melarang istrimu bekerja,dia sedang hamil." Tanya kakek dengan wajah yang tak ramah.
Aaron melihat situasi itu berusaha menjelaskan pada kakek,namun Sora mendahuluinya untuk menjawab pertanyaan kakek.
"Kek...,Aaron udah larang Sora kok."
"Sora sendiri yang ingin kerja."
"Sora kamu sedang hamil,lebih baik kamu lebih fokus dengan kehamilanmu." Ucap kakek
"Tak usah khawatir tentang kehamilan Sora,kek."
"Aaron akan menjaga Sora."
Terang Sora tersenyum sambil menggenggam tangan Aaron yang berada di pinggiran meja dan menatap Aaron,lalu pandangannya berganti pada mamanya.
"Mama saat hamil Sora kan juga bekerja."
"Ya kan ma?"
Mama sedikit terkejut,karna alasan Sora bekerja setelah mendengar cerita darinya.
"Iya sayang,tapi saat itu perusahaan sedang bermasalah jadi mama membantu kakek dan papa mu."
"Sedangkan kamu beda sayang,untuk sekarang perusahaan tak ada masalah kamu harus menjaga kehamilanmu." Bujuk Olivia.
"Sayang kamu dengerin kami ya." Bujuk Steve papa Sora.
Sebelum Sora menjawab,Aaron menjawabnya lebih dulu.
"Kek,ayah,ibu,kalian tenang saja,Aaron akan menjaga Sora."
"Aaron tak akan biarkan sesuatu terjadi pada Sora." Ucap Aaron meyakinkan keluarga Sora.
Terlihat kakek berpikir,dia ingat saat memaksa Sora melakukan keinginannya membuat Sora kabur dari rumah.
"Baiklah kami percaya padamu." Ucap kakek.
Sora tersenyum lega mendengarnya,dan melihat Aaron yang mampu meyakinkan keluarganya membuatnya semakin mencintainya.
***
Flash back
Aaron keluar dari pintu setelah merapikan dirinya. Tak di sangka pak Thomas kepala pelayan keluarga Rassam menunggunya di depan kamar di samping pintu.
"Tuan muda,tuan besar meminta anda untuk menemuinya sekarang di ruang kerja."
Tanpa banyak bertanya Aaron mengikuti pak Thomas menuju ruang kerja.
Di ruang kerja terlihat kakek berdiri melayangkan pandangannya di luar jendela.
"Kek." Panggil Aaron.
Mendengar panggilan Aaron kakek memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Aaron dan tiba tiba kakek menampar Aaron.
"Plakk."
Tamparan kakek terlalu keras sehingga membuat Aaron terjatuh. Satu tangan Aaron menahan tubuhnya dan satunya memegang pipinya yang terkena tamparan.
"Kau tau kesalahanmu?" Tanya kakek.
"Maaf kek Aaron tidak mengerti."
Kakek dengan marah melempar beberapa foto dan kertas ke tubuh Aaron.
Aaron mengerti setelah melihat beberapa foto kejadian saat Sora akan di culik setelah pesta pernikahan mereka dan bukti pembayaran perawatan di rumah sakit.
"Apa keluarga Rassam hanya lelucon bagimu?"
"Lebih baik waktu itu ku pukul kau sampai mati."
"Maaf kakek,aku tak ingin kalian khawatir."
"Aku akan menjaga Sora lebih ketat lagi." Ucap Aaron.
"Aku mempercayaimu karna kau adalah cucu dari Roy Markle."
"Mulai sekarang jangan pernah sembunyikan apapun dariku." Perintah kakek.
"Iya kek maafkan Aaron."
"Pergilah!"
"Rapikan dirimu sebelum bergabung untuk sarapan." Perintah kakek.
"Iya." Jawab Aaron pelan.
Aaron berdiri dan melangkahkan kakinya keluar meninggalkan kakek.
Sebelum Aaron membuka pintu Aaron berbalik dan berkata pada kakek-
"Kek Sora hari ini mulai bekerja bersamaku di kantor."
"Apa kau tak menolaknya?" Tanya kakek.
"Dia terlalu keras kepala kek."
"Kakek tak perlu khawatir aku akan menjaganya."
"Baik."
"Jaga dia." Pinta kakek.
Sebelum Aaron membuka pintu dia membungkuk hormat dan meninggalkan kakek sendirian di dalam.
Setelah menutup pintu,wajah Aaron terlihat masam.
"Sial,kakek terlalu hebat."
"Aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya." Batin Aaron.