Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 147 - Sama-Sama


"Tidak ada."


Hanya itu jawaban yang Sean berikan, tidak peduli sekalipun Zean sudah berbicara panjang lebar bahkan mungkin saja mulutnya berbusa. Yang jelas, sebagai seorang suami, Sean juga ingin menyelamatkan diri.


Lagi pula jawaban Sean tidak berbohong, semua kenangan tentang Leona sudah musnah sewaktu kuliah. Tepatnya berakhir menjadi abu di tangan salah-satu mantan kekasih Sean yang terlalu posesif kala itu, padahal kekasih Sean bukan hanya dia.


"Kau pasti berbohong, Sean ... mana mungkin tidak ada yang tersisa?"


"Aku tidak memintamu untuk percaya, tapi faktanya memang tidak ada dan aku sendiri bahkan lupa pernah memiliki foto itu ... bukti kalau ucapan Lengkara memang benar, Leona memang cinta pertamamu," balas Sean tidak ingin terjebak sendiri.


"Tuhkan bener, kamu mau bohong ya?!!"


Samar-samar Sean mendengar suara Nasyila di sana, besar kemungkinan jika posisi Zean sama dengannya. Ya, sama-sama diawasi wanita lemah-lembut, tapi gila kalau marah. Terlebih lagi, Syila sudah terkena racun mulut berbisa Lengkara, bisa dipastikan Zean sangat tersiksa saat ini.


"Sean jaga bicaramu, Syila mengawasiku!! Kau ingin aku tidur di luar atau bagaimana, Hah?!" Zean tampaknya frustrasi, tapi terserah Sean tidak peduli.


Biarlah sama-sama terancam, mana mau dia tidur di luar sendirian. Zean yang memulainya, andai mulut pria itu bisa dijaga sedikit saja, mungkin Sean tidak akan dendam kesumat begini.


"Kau kira kau saja yang diawasi? Aku juga, bedebah!! Dan juga, permintaanmu kurang ajar sekali ... parahnya lagi kau minta aku melakukan itu di hadapannya?" tanya Sean menunjukkan sang istri yang kini memasang wajah datar mendengar permintaan adik iparnya.


"Aih ada kakak ipar ternyata ... maaf, aku bingung soalnya karena istriku salah paham Kakak ipar, boleh ya aku minta penjelasan Sean sedikit saja."


Sean mengumpat dalam hatinya, tidak cukup sejuta kata mutiara untuk mengutarakan betapa menyebalkannya seorang Zean. Sean pikir, dengan menunjukkan Zalina maka adiknya akan diam dan berhenti membahas hal itu.


Namun, yang terjadi justru berbeda dan Zean secara terang-terangan meminta izin pada Zalina. Jangan ditanya seberapa besar marahnya Sean, tentu saja dia ingin menghantam Zean dengan bogem mentah tepat di ubun-ubunnya.


Sejak dahulu dia katakan, bahwa salah-satu hal yang paling menyebalkan tapi tidak dapat Sean sesali di dunia ini adalah terlahir sebagai saudara kembar Zean. Ya, walau memang sebenarnya adil, mereka sama-sama merepotkan tetap saja untuk yang kali ini Zean pantas dikuliti.


"Heh!! Kau benar-benar menguji imanku sepertinya, kau sengaja ingin pahalaku berkurang hari ini, Zean?!!" teriaknya hingga Zalina terpejam sesaat.


Terbiasa dengan lemah-lembutnya Sean, jujur saja Zalina masih kerap terkejut ketika Sean dipertemukan dengan saudara-saudara kandungnya. Jangankan lemah lembut, bicara tanpa urat saja mungkin hanya sekali dua kali.


"Sean, percayalah pahalamu akan bertambah lima kali lipat jika kau menyelamatkanku kali ini," pintanya benar-benar memohon.


Sebenarnya masalah ini sederhana sekali, sama seperti wanita pada umumnya Nasyila wajar saja cemburu. Apalagi dengan tambahan benih pertengkaran yang Lengkara tabur, jelas saja masalah itu kian memanas.


Sean sadar betul jika pengakuannya begitu diharapkan saat ini. Namun, ucapan Zean tadi membuat pria itu mendadak malas untuk sekadar memberikan pengakuan. Jika saja Zean tidak terlalu jauh, sejak awal sudah Sean katakan kebenarannya.


"Kau mungkin selamat, lalu aku bagaimana? Hm?" bisik Sean dengan gigi yang bergemelutuk dan tangan terkepal karena memang benar-benar marah untuk kali ini.


Sean menghela napas kasar, dia memijat pangkal hidungnya. Hingga, dia kembali dibuat sakit kepala kala Zalina justru mengambil alih ponsel Sean.


"Zalina, kamu mau apa, Sayang?"


"Aku saja yang bicara, Mas ... Syila pasti akan mengerti," tuturnya seketika membuat Sean merasa iri, dia terancam seorang diri sementara Zean jelas menari-nari.


Sean memejamkan matanya, sekalipun setelah panggilan video itu berakhir rambutnya akan kembali menjadi sasaran tangan Zalina, sama sekali tidak masalah. Yang jelas, Sean telah menyiapkan jawaban andai nanti Zalina bertanya.


Untuk saat ini, Sean masih fokus mendengarkan Zalina yang berbicara lemah lembut pada Nasyila soal Leona. Enak sekali hidup Zean, jika sudah begini jelas dia akan damai-damai saja. Sementara dirinya? Bisa dipastikan seumur hidup perasaan bersalah itu akan bersemayam dalam hatinya.


Padahal, ucapan Lengkara tidak salah. Leona adalah cinta pertama Zean juga, tapi tidak berbalas, itu saja. Sepanjang Zalina bicara, Sean masih terus terpejam seolah tidak peduli sama sekali.


"Sudah, Mas ... Zean tidak akan tidur di luar setelah ini," ucapnya dengan senyum tipis yang membuat Sean bingung apa maksudnya.


"Lalu aku bagaimana, Na?"


"Bagaimana apanya, Mas?" tanya Zalina mengerutkan dahi, apa mungkin sang suami khawatir diusir juga, pikirnya.


"Kamu tidak akan mengusirku juga, 'kan?"


"Yang ada aku diusir abi kalau berani usir kamu, Mas," jawab Zalina tergelak, prasangka sang suami terlalu buruk padanya. Semarah-marahnya Zalina, mana mungkin berani memintanya tidur di luar.


"Maaf, Na ... tapi semua itu benar-benar sudah tidak ada, mas bahkan lupa kami pernah kemana saja jadi_"


"Aku mau naik bianglala juga nanti, Mas," seru Zalina tiba-tiba, Sean yang tadinya takut dia marah kini justru takut batin Zalina sakit.


"Zalina ...."


.


.


- To Be Continued -