Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 122 - Usaha


Semuak-muaknya Zalina pada Ayunda, air mata wanita itu tetap menetes kala melihat Abrizam didampingi kedua orang tuanya mengantar kepergian Ayunda. Tidak dapat Zalina pungkiri, selama menjadi istri kakaknya, Ayunda juga pernah bersikap baik.


"Harus diantar ya, Na?"


"Iya ... memang mas pikir bagaimana?"


"Ya usir saja, kenapa harus diantar kan bukan istri lagi?"


Zalina menghela napas panjang, mungkin bagi seorang pria pendendam seperti Sean dia akan berpikir demikian. Ditambah lagi, ketika dia mengingat bagaimana kelakuan Ayunda, jelas saja di hati Sean tidak lagi memiliki belas kasih.


"Mau bagaimanapun, dulu mas Abrizam meminangnya baik-baik bersama abi dan juga umi. Jadi harus dikembalikan baik-baik juga," tutur Zalina yang membuat Sean mengangguk pelan, entah memang mengerti atau hanya pura-pura.


"Mantan istri Zean dulu tidak begitu soalnya, mas agak bingung melihatnya."


Mungkin sebenarnya Abrizam juga akan melakukan hal yang sama. Namun, kiyai Husain masih berusaha memerlakukan Ayunda dengan baik sebagai wanita yang sempat menjadi pendamping putranya.


Setiap kali, selalu ada hal yang membuat mata Sean terbuka. Pagi ini dia kembali mendapati bukti betapa baiknya keluarga sang istri, tidak hanya baik hubungan pada Tuhannya, tapi juga pada seorang hamba.


"Kamu kenapa menangis? Kan mereka yang cerai, keputusan Abrizam sudah sangat tepat, Na."


Ketika Sean sudah membenci seseorang, maka benar-benar tidak dapat ditawar. Sang istri hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Sean, jangankan menangis melihat kehancuran rumah tangga Ayunda, iba saja dia tidak.


Melihat reaksi Sean yang begini, dia mendadak ragu untuk mengutarakan pesan uminya tadi pagi. Bisa dia pastikan tidak akan semudah itu, hingga Zalina menunda lebih dulu untuk benar-benar mengatakan yang sesungguhnya.


Sean termasuk pria yang rela-rela saja tentang uang, sama sekali dia tidak akan keberatan. Namun, terkait hutang yang justru menjadi tanggung jawab Abrizam lidahnya mendadak kaku.


Hari itu semua berlangsung baik-baik saja. Sean bermain bersama kedua buah hatinya di ruang tamu, tentu saja ditemani mbok Ratri karena Sean biasanya kerap bodoh dan kerap melakukan hal yang tidak seharusnya.


Beberapa hari lalu saja, Zalina hampir menangis mencari keberadaan Habil yang ternyata Sean sembunyikan ke dalam laci. Menurutnya, dilatih melindungi diri sejak dini dan itu berhasil membuat Zalina menjambak rambut Sean di hadapan mbok Ratri.


Zalina memandanginya dari kejauhan, sesekali sudut bibirnya tertarik melihat Sean yang justru mendapat omelan dari pengasuh buah hatinya. Tidak salah dibayar mahal, karena yang diasuh bukan hanya buah hatinya, melainkan Sean juga.


"Jangan digigit, Den!!"


"Tidak gigit, Mbok ... cuma kucium sedikit," jelas Sean padahal jerit tangis Habil sudah menegaskan jika Sean berbohong.


"Cium sedikit? Lalu ini apa kalau bukan bekas gigitan? Saya aduin tuan besar mau?"


"Ya janganlah, kenapa jadi ngancem saya, Mbok?"


"Mbok tidak mengancam, detik ini juga mbok telepon tuan bes_"


"Ja-jangan, Mbok ... calmdown, jangan ngadu sama papa please!!"


Jika biasanya istri yang akan marah besar karena menyakiti buah hatinya, Sean justru berbeda. Bukan sekali dua kali dia menjadi sasaran kemarahan mbok Ratri, wanita itu memang lebih kejam dari Zia selama mengasuh Habil.


Lebih menyebalkan lagi, putranya justru seakan lebih betah berada dalam asuhan mbok Ratri dibandingkan Sean sendiri. Alasannya jelas karena otak papanya agak sedikit bermasalah.


Sean memijat pelipisnya, jangankan hendak semena-mena ataupun mengancam potong gaji seperti Zean, yang ada kebalikannya. Bahkan, untuk bicara sembarangan di hadapan mbok Ratri dia juga tidak biasa.


"Kamu sejak kapan di sana?"


Sean baru sadar jika tengah diperhatikan Zalina, pria itu menekuk wajahnya karena besar kemungkinan senyum sang istri justru tengah mengejeknya.


"Barusan," jawab Zalina berbohong, padahal sejak tadi juga dia sudah berada di sana.


"Mendekatlah."


Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa, Zalina mengulas senyum sebelum kemudian duduk di sisi sang suami. Selagi umi Rosita dan abinya belum kembali, mereka seolah tengah berada di rumah sendiri.


"Mas, aku mau bicara."


"Soal apa? Adik Iqlima?" tanya Sean tersenyum simpul, sengaja menggoda atau memang tengah cari perkara.


"Serius, Mas ... aku tidak yakin Mas akan bersedia atau tidak, tapi saat ini hanya Mas yang bisa aku mintai pertolongan."


"Tolong apa?"


Zalina menarik napas dalam-dalam sebelum dia bicara. Yang ada di hadapannya adalah sang suami, tapi entah kenapa dia seolah tengah bicara pada tuan tanah. Dia bahkan sampai terbata-bata dan Sean masih mendengarkan dengan seksama. Hingga, mata Sean membola kala mendengar kalimat terakhir Zalina.


"2,8 M?"


Zalina mengangguk pelan, untuk pertama kali Sean memberikan ekspresi keberatan dalam masalah uang. Tubuhnya seakan melemah dan kini hanya bisa menghela napas perlahan sembari menatap bingung istrinya.


"Kenapa bisa sebesar itu, Na?"


"Karena bunganya besar, Mas ... mbak Ayunda pinjam uang di lintah darat jadi begitu akibatnya."


"Dasar bodoh!! Bisa-bisanya ... dia menggadaikan sertifikat rumah Abrizam tanpa izin?" Dada Sean mendadak panas, untuk yang kali ini dia benar-benar tidak habis pikir.


"Iya, Mas ... karena itulah abi dan umi takut. Dari dulu pak Subagio memang terkenal licik, tapi anehnya kenapa mbak Ayunda berani nekat berurusan dengannya."


Sean terdiam, dia tampak mengingat dan menimbang sesuatu. Dia tidak segera menyanggupi permintaan Zalina, tapi otak Sean justru berpikir berbeda.


"Mas, bagaimana? Rumah itu akan disita dalam waktu dekat .... nanti aku yang bantuin mas Abrizam bayarnya."


.


.


- To Be Continued -