
"Tuan muda mereka masih menutup mulut."
"Kami sudah mencari tahu,dan mereka bukan orang dari Eric Alves."
"Info dari Jacky,mereka dari negara M."
"Dan...terdapat tatto harimau di punggung mereka,tatto itu sama persis dengan giok peninggalan dari kakek tuan muda."
Aaron menghentikan penanya saat menulis,dan merapatkan kedua telapak tangannya di atas meja.
"Lepaskan dan ikuti mereka."
"Berpura puralah kalian lengah agar mereka tak curiga."
"Dengan begitu kita bisa menggiring mereka dan mengetahui pemimpin mereka."
"Baik tuan muda." Jawab Fredy.
Bersamaan dengan jawaban Fredy,Sora masuk ke dalam ruangan Aaron,menatap Aaron dan Fredy penuh dengan kecurigaan.
Fredy mengagukkan kepalanya kepada Sora dan melangkahkan kakinya keluar melewati Sora.
Sora duduk dengan perlahan menatap Aaron yang sibuk memeriksa tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya.
"Apa ada sesuatu ya?"
"Kayaknya ada sesuatu yang di sembunyiin deh." Batin Sora.
Sora menghela nafasnya dan berharap mimpi buruknya tadi malam tidak akan menjadi kenyataan.
"Sayang apa kau capek?" Tanya Aaron saat mendengar Sora menghela nafasnya.
Sora hanya diam dan menggeleng.
"Jika kamu capek,istirahat aja,ok!"
"Aku gak apa apa,aku hanya teringat mimpiku semalam." Ucap Sora.
Aaron berdiri dan mendekati Sora,meminta Sora berdiri dan memeluknya dengan erat.
"Kamu lihat kan aku gak apa apa."
"Sayang tak usah terlalu khawatirkan aku,hal itu akan mempengaruhi si kembar,oke."
Sora menengadahkan kepalanya menatap Aaron,masih terlihat kekhawatiran di wajah Sora.
"Gak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan?" Tanya Sora.
Aaron diam menatap Sora dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah,jika kamu khawatir kita akan pulang bersama sama hari ini." Ucap Aaron.
Mendengar ucapan Aaron,Sora tersenyum kecil,walaupun tak sepenuhnya dia merasa lega.
****
Negara M
Kota Maldive...
Emily Markle berjalan ke arah podium di kawal oleh Aiko dan menaiki beberapa anak tangga dengan anggun.
Kedatangan Emily di acara penggalangan dana yang di adakan oleh museum barang antik adalah sebagai sponsor utama.
Ucapan terimakasih Emily di atas podium membuat para tamu undangan bertepuk tangan.
Seorang pria dengan penampilan bangsawan dan rupawan bertepuk tangan di ikuti senyuman tipis di bibirnya.
Terlihat misterius dan berwibawa.
Emily berjalan membaur di antara para tamu lalu menyalaminya,dan pria bangsawan itu berjalan mendekat ke arah Emily.
"Hallo nenek."
"Apa kau merindukan aku?"
Pertanyaan itu mengagetkan Emily,ketika bersamaan menyentuh bahunya.
Emily memutar tubuhnya dan seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih bahagia.
"Elan?"
Emily memeluk dan menciumnya.
"Sejak kapan kamu kembali ke negara ini?" Tanya Emily.
"Aku baru datang tadi siang nek."
"Aku merindukan nenek."
"Karna itu aku datang kemari."
Nenek tersenyum mendengarnya.
"Ayo kita duduk di sana." Ucap nenek sambil menggandeng Elan,dan Elan membalas dengan agukan.
Setelah duduk mereka berbincang bincang melepaskan kerinduan mereka.
"Elan apa kau akan tinggal di sini kembali?" Tanya nenek sedih.
Elan hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Elan,nenek dan Aaron sudah melupakan masa lalu."
"Nenek tau kau adalah anak yang baik."
"Nenek tau kau tak akan melawan orang tuamu."
Elan tersenyum dan menggenggam kedua tangan Emily.
"Nek,nenek tak perlu mengkhawatirkan Elan."
"Elan bisa menangani papah." Ucap Elan di iringi senyum tipisnya.
"Nek ada hal yang Elan ingin bicarakan dengan nenek,tapi Elan tak bisa bicarakan di sini."
"Baik."
"Nenek menyambutmu dengan senang."
"Baiklah nek,terima kasih."
"Elan akan pamit sekarang." Ucap Elan sambil memeluk nenek.
Nenek hanya mengangguk dan tersenyum dengan jawabannya.
****
"Bagaimana dok perkembangannya?" Tanya Vian.
"Dia akan tenang,selama tak ada orang yang mengingatkannya akan kejadian yang pernah di alaminya." Terang dokter.
"Kalian harus membuat dia sibuk dengan hal yang di sukainya."
"Jangan biarkan dia sendirian." Imbuh dokter.
"Terima kasih dok." Ucap Vian.
Sarah yg duduk di balkon terlihat bahagia sambil menyusun beberapa tangkai mawar di dalam vas bunga,di temani oleh beberapa pelayan pribadinya.
"Apa kau sudah menemukan pelakunya?" Tanya ayah Vian.
Vian menunduk dan hanya menggeleng pelan.
"Tak ku sangka penjahat itu menghilang seperti di telan bumi,akan ku bunuh jika mereka ku temukan." Ucap ayah Vian.
"Aku sudah mengetahui pah siapa yang membuat Sarah menjadi seperti ini,maafkan aku harus merahasiakannya."
"Aku tak ingin keluarga kita hancur." Batin Vian dan mengepalkan tangannya sendiri.
...
"Apa kau tau jika Elan sudah kembali?"
"Sudah ayah." Ucap Vian
"Ambil kesempatan itu." Pinta ayah Vian.
"Perusahaanmu hanyalah sebuah perusahaan kecil di bandingkan dengan grup M dan grup Norflox."
Ayah Vian menghela nafasnya.
"Vian,kau mengerti kan,apa yang papah bicarakan kan?"
"Iya pah,Vian mengerti."
"Vian selama ini kita telah menyembunyikan kondisi Sarah pada nenek."
"Beberapa hari lagi ada pertemuan keluarga,tempatkan seseorang untuk selalu berada di samping Sarah." Perintah ayah Vian.
"Baik." Jawab Vian singkat.
Ayah Vian melangkah keluar meninggalkan Vian.
Terlihat wajah Vian yang sedih saat menatap Sarah dari dalam rumah,lalu dia melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati Sarah dan memasang senyuman pada bibirnya.
"Kak,bagus gak?"
Tanya Sarah sambil memperlihatkan bunga mawar yang sudah di rangkai dalam vas bunga.
Vian tersenyum.
"Kau menyukainya?"
"Iya kak,Sarah suka,dan juga baunya harum." Ucap Sarah sambil menghirup kelopak bunga mawar.
"Ini buat kakak." Sarah memberikan setangkai bunga pada Vian.
"Enggak gak,yang ini aja."
"Untuk kakak aku beri yang banyak." Ucap Sarah sambil menyodorkan bunga yang sudah dia rangkai dalam vas bunga.
"Kakak aku beri tau ya,aku juga membuatnya untuk kak Aaron." Bisik Sarah.
"Saat kak Aaron pulang ke rumah besar,aku akan membuat kejutan untuknya."
"Bunga ini yang akan ku berikan untuknya,kau tau kak arti bunga mawar merah ini,artinya adalah "aku sangat mencintaimu" ,aku akan memberikannya pada kak Aaron." Ucap Sarah dengan bahagia.
Vian yang mendengarnya tanpa sadar meremas bunga yang ada di tangannya hingga patah,bahkan tangannya berdarah terkena duri yg masih tertinggal di batang mawar itu.
Tersadar akan nyeri yang di rasakan,Vian buru buru menyembunyikan tangannya agar tak terlihat oleh Sarah.
"Baiklah kau lanjutkan,kakak harus pergi bekerja."
"Ingat ya,apapun yang kamu inginkan katakan pada kakak,oke." Pinta Vian.
"Oke kak,kakak tak perlu khawatir." Ucap Sarah dengan semangat.
"Da... hati hati ya kak."
Vian memaksakan diri untuk tersenyum di hadapan Sarah.
Dia mengetahui jika inilah konsekuensi yang harus dia terima jika berurusan dengan Aaron,apalagi mengusik kehidupan Aaron.
Vian tidak ada niat untuk membalas dendam pada Aaron,dia sadar siapa dia,saat ini dia hanya ingin menjaga ayah dan adiknya menjalani hidup yang tenang.
Sebelum meninggalkan Sarah di rumah,Vian memerintahkan beberapa pelayan untuk selalu berada di samping Sarah,sebisa mungkin membuat Sarah sibuk.
Bahkan Vian membayar beberapa guru musik,guru seni,dan beberapa lainnya.
Di saat Vian menyalakan mobilnya,terdengar suara ponselnya berbunyi.
"Aku ingin bertemu denganmu."
"Temui aku di tempat dulu terakhir kita bertemu."
"Baik." Jawab Vian singkat.
Vian melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah dengan kecepatan sedang.