
"Benarkah? Apa Daddy tidak akan meninggalkan Satria seperti Daddy yang lain?"
"Jawab, Daddy," desak Satria dengan isak tangis yang mengiris hati Axel sebagai seorang ayah.
Sedalam itu traumanya, dia memang terbiasa ditinggal saat sayang-sayangnya oleh pria yang dianggap ayah. Kali ini, mungkin pesona Axel melekat dalam benak Satria hingga khawatir ditinggalkan.
"Iya, Sayang tidak akan."
"Selamanya?" tanya Satria mencebik, seketika dia menyeka air matanya kasar segera.
"Tentu saja, selamanya kita akan bersama dan Daddy akan berada di sisimu."
Antara sadar dan tidak, ucapan Axel sudah membuat Ana memandanginya selekat itu. Kenapa pembicaraan mereka seolah seserius itu, sungguh Ana terbawa suasana begitu saja.
Sejak Axel mengucapkan janji, Satria sebahagia itu. Bahkan ketika tiba di sebuah rumah modern minimalis itu, Axel dipaksa untuk masuk ke kamarnya sebagai syarat karena Ana memintanya tidur siang.
Niat hati hanya menemani putranya bersenang-senang pria itu berakhir berdiam diri di kediaman Ana. Rumah yang Sean berikan dua bulan lalu sebabai ucapan terima kasih atas semua jasanya.
Hingga menjelang sore, Axel keluar dari kamar Satria. Pria itu tampak berkeliling mencari sang pemilik rumah, beruntungnya baru saja hendak memanggil Ana muncul dari kamar dengan penampilan yang kini lebih segar.
"Ehm, a-aku pamit pulang ... tolong katakan pada Satria nanti," tutur Axel gugup dan kembali menundukkan pandangannya, tidak dapat dia pungkiri seorang Ana masih berhasil membuat darahnya mendidih.
"Iya, nanti aku sampaikan padanya."
Axel berlalu meninggalkan Ana yang hanya terpaku menatapnya. Hingga, pria itu menghentikan langkah kala Ana memanggil namanya.
"Ada apa?"
"Terima kasih untuk hari ini," tuturnya tulus dan seketika membuat Axel mendadak lemas seketika.
Sialan, bagaimana bisa dia melangkah dengan tenang nanti jika sudah begini. Agaknya ucapan Ricko yang meremehkan adrenalinnya benar-benar terbukti. Ya, dia mendadak cupu kala melihat Ana mengucapkan terima kasih disertai senyum manisnnya.
"Titip salam untuk Zalina dan Sean."
"Ah ... i-iya, nanti aku sampaikan," jawab Axel gelagapan, dia berpikir Ana akan mengucapkan hal lain dan sepertinya hatinya sedikit berlebihan dalam berharap.
Tidak ada ucapan hati-hati di jalan, atau see you seperti Zalina dan Sean. Axel berharap apa sebenarnya, perlahan dia melangkah keluar dan benar-benar meninggalkan Ana.
Namun, baru saja keluar beberapa langkah, pria itu menangkap sosok pria tampan dengan membawakan mainan anak laki-laki yang dia tebak untuk putranya. Dada Axel panas seketika, entah perasaan semacam apa ini, tapi dia seakan tidak rela melihat pria ini.
Terlebih lagi kala mendengar sapaannya untuk Satria. Sungguh membuat Axel tidak rela, padahal dia tidak tahu siapa pria yang ada di hadapannya.
"Iya, kau siapa?" tanya Axel berusaha menunjukkan kharismanya pada pria dengan baju koko yang mirip baju Sean kemarin, hanya beda warna saja.
"Irham, kakaknya Ana ... kalian sudah bertemu hari ini?"
Kakak? Seketika Axel ciut. Memang tidak seharusnya sombong dalam segala keadaan, alhasil begini. Sengaja menjawab dengan suara yang dibuat-buat seolah berkuasa, ternyata yang berada di hadapannya adalah Irham, seseorang yang kala itu sempat Sean ceritakan.
"Ah salam kenal, aku pernah mendengarmu dari Sean."
Mendadak manis, dia tengah mencari celah atau bagaimana? Andai saja pria itu bukan kakak Ana, mungkin Axel akan mempertahankan wajah dinginnya itu.
"Ah calon kakak ipar_ astaga, apa yang kau pikirkan, Axel!!!"
Terlalu jauh pikiran Axel, pria itu lancang dan sikap anehnya itu berlangsung lama. Bahkan, ketika memasuki halaman rumah Sean dia sudah disambut Ricko dengan segudang pertanyaan tentu saja.
"Bagaimana? Kencannya berjalan lancar?"
"Kencan kepalamu!! Awas, jika kau hanya bertanya soal itu aku malas."
"Eih, jangan berbohong ... Ana mengunggah foto kau bersama putramu di akun sosial medianya!! Begitu masih tidak ngaku kencan?" desak Ricko menunjukkan postingan Ana, beberapa jam lalu, saat mereka sedang berada di pusat perbelanjaan sepertinya.
"Curang kau, Axel ... katamu hanya peduli anaknya, kenapa ibunya diembat juga?"
"Curang apanya?" Kening Axel berkerut dan mendadak ingin mengakhiri nyawa Ricko.
"Kau sudah janji semalam, hanya anaknya, tidak sekaligus ibunya."
"Hm, sepertinya aku berubah pikiran," jawab Axel berlalu masuk dan meninggalkan Ricko yang berteriak kesal seketika.
"Astaga, Ricko!! Jangan teriak, putriku terkejut!!" tegur Sean yang muncul dari lantai atas.
"Mereka kencan, Bang!! Dan Axel bilang dia berubah pikiran, bukankah semalam aku yang menang taruhannya? Harusnya ak_"
"Hentikan, Ricko ... lagi pula mana mungkin menerima laki-laki yang cuma menginginkannya, dasar aneh."
.
.
❣️