
"Umi, tangan Keyla bergerak." Rafka memanggil sang ibu untuk melihat pergerakan jari Keyla.
Aria yang melihat itu pun cukup terkejut dan langsung meraih telepon yang ada di ruangan. Dengan sigap Aria menghubungi dokter yang menangani Keyla agar cepat memeriksa keadaan menantunya itu.
"Sayang, Keyla." Air mata Rafka mengalir melihat jari-jari Keyla masih bergerak.
"Sayang, bangun." Rafka berharap ini adalah sebuah pertanda istrinya akan bangun.
Ya Allah, semoga istri hamba sadar. Hamba memohon pada-Mu Ya Allah.
Selang beberapa menit, dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Keyla. Rafka sedikit menjauh agar dokter bisa leluasa memeriksa Keyla.
Dengan masih menggendong buah hatinya yang tampak merajuk karena dijauhkan dari ibu mereka, Rafka memandang lekat istrinya yang masih menutup mata.
Dokter terus memeriksa, tampak wajahnya tegang. Hal itu tak luput dari perhatian Rafka.
"Ada apa, Dok? Apa istri saya akan bangun?" tanya Rafka khawatir.
Tiiitttttt.
Suara detak jantung Keyla membuat tubuh Rafka berguncang hebat.
"Dokter," lirih Aria menatap tak percaya. Garis lurus yang ada di layar monitor membuat seisi ruangan panik.
"Siapkan alat kejut jantung!" titah dokter itu.
Dengan cepat perawat menyiapkan apa yang di minta sang dokter, dengan sigap pula dokter itu langsung menggunakan alat kejut jantung pada Keyla.
Beberapa kali dokter itu berusaha namun hasilnya tetap sama, garis lurus tanpa ada gelombang.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha." Dokter itu menundukkan kepalanya.
"Apa yang kalian katakan?" lirih Rafka dengan tatapan kosong.
"Kami sudah berusaha, tuan. Namun, Tuhan berkehendak lain," jawab dokter itu.
Rafka hanya diam, laki-laki itu tampak berjalan mendekati sang istri.
Ia meletakkan Azzam dan Azzura si samping Keyla, lalu memeluk istrinya.
"Jangan tinggalkan aku," tangis Rafka pecah memeluk Keyla. semua yang ada di ruangan hanya bisa menunduk iba.
"Bagaimana aku bisa hidup kalau begini? Kau tega, Keyla. Mengapa kau tinggalkan aku?" Rafka memukul-mukul dadanya karena sesak.
"Rafka." Aria mendekati mengelus punggung putranya. Azzam dan Azzura pun ikut menangis merasakan sakit yang dirasakan oleh sang ayah.
"Anak-anak kita, bagaimana dengan mereka? Apa kau tak ingin melihat mereka?" tangis Rafka tak berhenti, malah semakin keras. Enam bulan ia menderita sendiri, kini penderitaan nya semakin menjadi-jadi.
"Ya Allah." Rafka memeluk erat tubuh Keyla yang sudah kaku. Ia berteriak keras memanggil-manggil nama Keyla.
"Rafka," panggil Gabriel yang baru datang setelah Aria menghubungi nya.
Matanya langsung berair melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ia kira semua sudah berakhir, penderitaan anaknya akan berakhir. Namun, ia salah. Yang berakhir itu adalah salah satu yang membuat putranya bahagia.
Ini bukan mimpi seperti yang ia pernah alami, ini adalah kenyataan. Putranya merasakan lebih dari yang ia rasakan.
"Sayang, sayang. Bangunlah, kau berjanji untuk hidup menua bersama ku. Bangunlah," lirih Rafka menepuk-nepuk pipi Keyla.
"Kau tak boleh meninggalkan aku, kau tak boleh! Bawa aku bersama mu juga, bawa aku, Keyla!" teriak Rafka menepuk-nepuk pipi Keyla berharap istrinya akan segera sadar.
Azzam dan Azzura sama seperti Rafka, mereka menangis sekencang-kencangnya. Bahkan ini belum pernah terjadi sebelumnya, mereka memukul-mukul pelan perut Keyla.
"Keyla!" teriak Rafka mengguncang tubuh Keyla dengan keras.
"Bangunlah, sayang. Aku mencintaimu, aku belum mengatakan itu."
"Eugh." Mata Rafka membulat ketika mendengar suara Keyla. Bukan hanya itu, bunyi detak jantung di layar monitor pun langsung berubah.
"Dokter, dokter. Istriku," teriak Rafka agar dokter cepat memeriksa istrinya.
"Ya Allah, hamba mohon." Rafka berharap bahwa itu benar. Istrinya masih hidup, ia menyeka air matanya.
"Jantungnya kembali berdetak, tapi sangat lemah." Dokter pun kembali menggunakan alat kejut jantung.
Setelah beberapa kali menggunakan alat kejut jantung, tampak di layar monitor semuanya kembali membaik. Rafka langsung bersujud syukur atas kasih sayang Allah SWT.
"Keyla," lirih Rafka memeluk istrinya. Perlahan ia melihat kelopak mata Keyla bergerak.
"Keyla," tangis Rafka menatap wajah istrinya berharap mata itu cepat terbuka.
Perlahan terlihat mata Keyla terbuka, hal itu membuat air mata Rafka semakin mengalir deras. Rasa syukur yang begitu besar atas kesempatan ini.
"Sa-sayang," lirih Keyla pelan.
Tampak Keyla tersenyum lemah, Rafka pun membiarkan dokter memeriksa keadaan Keyla terlebih dahulu.
"Alhamdulillah," ucap Gabriel dan Aria memanjatkan rasa syukur mereka.
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja, tuan. Bahkan lebih baik dari sebelumnya, nona sudah berhasil melewati semuanya. Semoga anda selalu di beri kesehatan, nona," ucap Dokter tersenyum haru.
"Aamiin ya rabball'alamin."
"Sayang," lirih Rafka senang. Semua bagaikan mimpi, semua terjadi begitu cepat. Semenit yang lalu jiwa nya serasa hilang dari raga. Namun, sekarang semua menjadi lebih baik lagi.
"Eum, eum," gumam Zura yang masih duduk di atas ranjang.
Mendengar itu, Keyla sedikit melirik sekilas ke arah dua anak kecil itu.
"Mereka?"
"Anak kita," jawab Rafka tau maksud Keyla.
"A-anak kita?" lirih Keyla dengan mata yang sudah berembun.
"Iya, sayang. Anak kita, mereka sudah besar kan? Mereka sudah bisa duduk," jawab Rafka antusias.
Tampak Keyla menangis sesegukan sembari melihat ke arah kedua anaknya.
"Aku tidur begitu lama sehingga anak ku sudah sebesar ini. Aku tak bisa merawat mereka waktu bayi, aku gagal menjadi seorang ibu."
"Apa yang kau katakan, sayang? Kau adalah ibu terbaik bagi mereka. Kalau pun kau tak bisa menjaga mereka ketika masih bayi, masih ada waktu sekarang untuk merawat mereka." Rafka mengelus kepala Keyla. Matanya masih sembab karena menangis tadi.
"Sini nak," lirih Keyla ingin memeluk anaknya. Tubuhnya masih sedikit kaku.
Aria membantu mendekatkan Azzura dan Azzam pada Keyla. Yang satu di sisi kanan dan satunya lagi sisi kiri.
Air mata Keyla terus mengalir melihat kedua anaknya yang menatapnya sembari bergumam tak jelas.
"Anak ku," lirih Keyla memeluk kedua anaknya. Seakan peka, Azzam dan Azzura menyandarkan kepala mereka di dada Keyla.
"Anak ku," lirih Keyla menatap haru ke arah Rafka.
"Iya, sayang. Mereka anak mu, anak-anak kita."
"Terimakasih, Ya Allah. Terimakasih karena Engkau memberikanku umur dan kesempatan untuk merawat anak ku. Terimakasih, Ya Allah"
_
_
_
_
_
_
_
Hampir aja sad ending 🤧
Ini karena author nulis sembari dengarkan lagu sedih🤧
Untung author masih sadar😂
sayembara update 😁
300 like.
50 komen.
Author up satu bab lagi
kalau belum sampai target, maka author up besok aja yah😁
Kalau author telat up, bukan karena author gak nulis yah. cuma review di NT itu lama setelah author update apk nya. jadi nyesel author update 😔
Jangan lupa like komen dan juga vote nya. Agar author makin semangat untuk update nya🥰
Typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.