Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 02


Hanya duduk dan tidak akan mengganggu katanya, Yudha yang sudah tahu watak satu keluarga itu hanya iya-iya saja. Padahal, walau Lengkara wanita, otaknya tidak berbeda jauh dari Sean, ya sama-sama membual.


"Lengkara!!"


Baru juga lima menit dia diam, Yudha juga baru selesai membalas email dari tuan Dirman dan beberapa email lainnya. Namun, agaknya Lengkara memang tidak bisa diam, entah mencari perhatian Yudha atau memang tangannya yang sedang gatal saja.


"Mas ada uban makanya aku cari lagi," celetuk Lengkara seakan tak peduli dengan penolakan Yudha, dia tidak berbohong dan memang menemukan rambut yang berbeda di sana.


"Sudah ... biarkan saja, sakit."


Yudha berucap dengan suara lelahnya, sungguh dia memang benar-benar lelah hari ini. Sebelum Lengkara masuk, dia sudah mengatur rencana akan tidur usai memeriksa email yang masuk.


Sayangnya, jika sudah begini dia jelas harus berpikir dua kali. Mata Lengkara yang masih begitu segar membuat Yudha khawatir wanita itu akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya, sontak Yudha menyilangkan tangan di dada kala Lengkara berpindah posisi duduk di depannya.


"Mas kenapa begitu?" selidik Lengkara tak suka, padahal memandangi dada bidang Yudha adalah bagian favoritnya.


"Kamu jahil, Kara," jawab Yudha jujur, pria itu tahu Lengkara adalah wanita yang tidak sembarangan disentuh dan menyentuh. Meski wanita itu terkenal banyak pacarnya, tapi bisa dipastikan Lengkara begitu terjaga.


Anehnya, ketika bersama Yudha dia berbeda. Tidak jarang putting Yudha menjadi sasaran emosinya jika terlalu lama mengabaikan atau waktu bertemu hanya semenit dua menit. Padahal, secara logika tindakan semacam itu bisa saja memancing gairrah seorang pria.


Tidak ada jawaban, wanita itu hanya tertawa sumbang mendengar ketakutan kekasihnya. Satu hal yang membuat lengkara begitu menggilai Yudha, pria itu benar-benar dewasa. Mencintai untuk menjaga, dan tidak semua laki-laki mampu bersikap seperti itu.


"Ketawa bukannya mikir," celetuk Yudha menarik rambutnya, hanya sedikit tidak bermaksud menyakiti sama sekali.


"Kamu lucu, Mas."


Tanpa aba-aba, Lengkara kembali merebahkan tubuhnya. Kali ini tidak hanya membuat Yudha khawatir, melainkan sangat khawatir. Pasalnya, Lengkara menyandarkan kepala di pangkuan Yudha, sontak pria itu menoleh dan memastikan pintu tidak terbuka.


"Pintu kukunci, tenang saja."


"Lengkara, jangan begini ... keluarlah, sudah malam."


"Masih kangen, kita kapan sih sekamarnya? Aku cuma ketemu kamu beberapa jam, itu juga diganggu sama mereka."


Wanita itu mengerucutkan bibirnya, terlihat lucu dan jujur saja Yudha ingin sekali melahapnya detik ini juga. Lengkara yang begini benar-benar menguji iman Yudha, beruntung saja pakaian yang dia gunakan saat ini tidak terlalu terbuka.


"Nanti ya, sebentar lagi."


"Apa kita akan benar-benar berjodoh, Mas?" tanya Lengkara dengan mata yang mendadak sendu, Yudha menangkap kesedihan itu.


"Entahlah, beberapa waktu lalu aku mimpi buruk." Bersama helaan napas panjang, jawaban lirih itu lolos di bibir Lengkara.


"Mimpi? Mimpi apa?"


"Kita jalan berdua dan tiba-tiba terpisah anak sungai ... aku melihatmu dan kamu juga melihatku, tapi anehnya aku bahkan tidak bisa menggapai tangan kamu, Mas."


Mimpi, hanya mimpi tapi berhasil membuat Yudha seolah porak-poranda. Dia takut juga, sangat takut sebenarnya. Namun, sebisa mungkin dia menjadi penenang dalam hal ini.


"Kamu percaya mimpi?"


"Tidak, tapi untuk mimpi yang itu aku kepikiran."


"Aku terlalu sibuk mungkin, kamu terlalu merindukanku ... iya, 'kan?" tanya Yudha tersenyum tipis, berusaha mengembalikan senyum cerita Lengkara yang tiba-tiba berganti semuram itu.


"Sudah pasti kalau itu, rindunya tiap detik, menit, jam, hari aaaaaaah pokoknya rindu serindu rindunya ... heum kalau bisa pengen kumakan kamu, Mas."


Baru saja beberapa menit lalu dia murung, anehnya kini justru berubah persis kucing kawin. Lengkara yang tadinya berbaring kembali duduk mengalungkan tangan di leher Yudha. Tindakan yang sangat berani, tapi ini bukan yang pertama.


"I love you ... jangan pernah pergi setelah ini, aku bisa gila nanti," ucapnya tiba-tiba, tulus sekali hingga mata Yudha memanas mendengarnya.


"I love you too, Lengkara. Wanitaku satu-satunya ... teruslah tersenyum seperti ini, jika kamu baik-baik saja maka aku akan begitu."


Lengkara mengulas senyum hangatnya, yang dia katakan pada Yudha sama sekali tidak membual. Hanya demi Yudha dia benar-benar menutup diri untuk pria lain, dan demi Yudha juga dia menolak tawaran pekerjaan yang memintanya harus berpasangan dengan lawan jenis.


"Aku antar ke kamar ya, tenanglah jangan memikirkan hal itu."


Lengkara menggeleng, dia tidak mau dan benar-benar menolak untuk meninggalkan Yudha malam ini. "Ketahuan papa dan kakakmu aku bisa mati, Kara," tutur Yudha begitu lembut seraya membelai wajahnya pelan, Lengkaranya sedang manja kali ini.


"Kita mati sama-sama saja gimana? Kuburnya jadi satu dan nan_"


"Lengkara ...."


.


.


- Extra Part Edisi Lengkara - Yudha -