Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 10 - Edisi Ana - Axel


"Mommy ... ayo kita tidur, Daddy akan jaga dari sana."


Berawal dari permintaan sederhana itu, Axel mendadak keringat dingin. Bagaimana tidak, saat ini mereka terpisah cukup jauh. Mata Axel sejak tadi fokus memandangi mereka berdua, ingin dia sebut harta paling berharga, tapi agaknya belum pantas.


Tiga puluh menit pertama Axel masih baik-baik saja. Namun, setelahnya dia mulai gusar dan berkali-kali merubah posisinya. Telentang, duduk, tengkurap bahkan berdiri dengan tatapan yang hanya terfokus ke ponselnya. Andai saja Ricko ada di sini, mungkin pria itu akan diejek hingga akarnya.


Menjaga dari kejauhan, dan fakta benar-benar dia jaga bahkan ponsel itu tidak lagi lepas dari genggaman. Axel nyaman, pemandangan semacam ini membuatnya benar-benar berdebar. Bagaimana tidak, di hadapannya kini tergambar jelas bagaimana separuh hidupnya tumbuh dalam raga yang lain.


Hingga, pria itu mengerjap beberapa kali begitu menyadari pergerakan Ana. Wanita itu tampak terbangun dengan wajah sembab yang terlihat menggemaskan, bukti jika memang dia tidur sungguhan.


Sontak Axel khawatir, pikiran buruk mulai menyerangnya. Bagaimana andai tiba-tiba Ana matikan atau semacamnya, hal-hal semacam itu muncul begitu saja. "An," panggil Axel pada akhirnya, sebelum semua terlambat dan dia takut menyesal nanti.


"Heum?"


Sial, darah Axel berdesir mendengar jawaban Ana. Sepertinya dia lupa jika masih dipantau, raut bingung ketika melihat ke arah Axel tidak dapat dibohongi. Bahkan dia segera menutup mulutnya usai menguap sebegitu besar.


"Jangan dimatikan, aku mohon."


Tulus, Axel benar-benar memohon agar Ana tidak mengakhiri panggilannya. Beberapa saat berlalu, Axel menghela napas kala Ana mengangguk pelan. Antara ngantuk, tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman hingga terjaga malam-malam begini, begitulah pikiran Axel.


"Mau kemana?"


Pertanyaan itu seketika lolos dari bibir Axel, natural dan seakan tanpa rencana. Dia mendadak panik saja kala Ana tiba-tiba beranjak dari tempat tidur meninggalkan Satria.


"Ke depan, sepertinya pintu belum kukunci."


"Apa? Kenapa bisa? Astaga ... kalian hanya berdua, bisa-bisanya_"


"Lupa, aku hanya ingin memastikan," ucap Ana kemudian, Axel sudah terlalu banyak bicara dan itu adalah bentuk kekhawatirannya, itu saja.


"Oh iya? Mana? Aku ingin lihat juga," ucap Axel mendadak kehilangan urat malu.


Apa yang dia pernah lakukan dahulu membuat pria itu takut, telebih lagi saat ini Ana hanya sendirian bersama putranya. Tidak ada maksud ingin curi kesempatan atau bagaimana, hanya saja Axel ingin memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.


Betapa terkejutnya Axel kala mengetahui jika Ana tidak hanya lupa mengunci pintu, tapi juga lupa menutupnya. Ingin sekali dia marah, bahkan jika bisa sebesar-besarnya. Melihat bagaimana sepi halaman depan rumah Ana, pria itu seolah dibayang-bayangi ketakutan.


"Kau sering ceroboh begini?"


"Tidak, biasanya aku selalu ingat ... mungkin tadi aku tidak sadar sewaktu kak Irham pulang."


"Kau tahu bahayanya, Ana, kejahatan dimana-dimana, kenapa justru diberikan kesempatan?"


"Aku lupa, bukan sengaja ... jika kau hanya ingin marah aku matikan sekarang juga," ancam Ana pada akhirnya, sebal juga karena Axel justru memojokkan posisinya.


"Ja-jangan, maaf ... aku berlebihan, jangan dimatikan, aku masih ingin melihat kalian," pinta Axel benar-benar memohon agar hati Ana terketuk untuk saat ini, menyesal sekali dia memberikan respon semacam ini.


Sama seperti Satria, dia tidak memberontak dan menyetujui permintaan Axel pada akhirnya. Setelah sempat menemani ke pintu depan, Ana juga berlalu ke ruang makan, haus dan Axel dapat mendengar dengan jelas apa yang dilakukan wanita itu.


Seperti sedang menjalin hubungan saja, Axel tersenyum simpul membayangkan betapa beruntungnya dia malam ini. Ya, meski Ana belum selembut itu padanya, menatap saja masih ragu dan Axel tidak mendesak Ana harus menerima dirinya seperti Satria.


"Kau belum mengantuk?"


Axel mengerjap pelan, Ana bertanya padanya dan entah kenapa pria itu seakan bisu seketika. Dia bertanya, Axel berharap tidak salah dengar kali ini.


"Axel ... kau dengar aku? Apa sudah tidur?"


"Hm? Kau tanya apa, An?" Bukannya menjawab, Axel justru balik bertanya dan hal itu membuat Ana menghela napas kasar.


"Istirahatlah, jawabanmu menunjukkan bahwa kau mengantuk," ucap Ana kini kembali dengan posisinya, tidur di sisi Satria.


"Aku akan menjaga kalian, sudah janji sama Satria."


"Tapi bukan berarti harus kau pandangi sepanjang malam," balas Ana yang membuat Axel berdebar, apa ini termasuk sebuah perhatian? Entahlah, dia juga tidak mengerti.


"Jika aku tidur apa kau akan mengakhiri panggilan ini, An?"


"Ehm, tidak akan ... Satria yang meminta, jadi tunggu saja sampai mati sendiri."


"Ya Tuhan apa aku sedang bermimpi malam ini?"


.


.


❣️


Sesuai janji, aku buat mereka intens dan semoga masih suka ya. Sementara up, boleh mampir ke novel yang ada di bawah ini ya🤗