Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
73. Remang,hati Aaron saat ini


"Tuan Aaron siang tadi saya mengikuti nona Sarah."


"Dia bertemu dengan Calista Alves di restoran."


Ucap Leon dari seberang telpon.


"Tapi saya tidak tau apa yang mereka bicarakan."


"Di mana dia sekarang?"


"Dia bersama dengan nenek anda di rumah."


"Kau kemarilah ada yang harus kau urus."


"Baik tuan."


Aaron menutup telponnya.


"Fredy aku akan bertemu dengan tuan victor,kau lanjutkan pekerjaanku."


"Untuk besok kau jadwalkan pekerjaan yang penting,karna aku akan libur untuk beberapa hari."


"Baik tuan muda." Ucap Fredy.


Beberapa menit kemudian Leon datang.


Aaron meminta Leon untuk mengantarkannya ke suatu tempat.


Aaron berjalan di ikuti Leon di belakangnya.


Tanpa sengaja di lantai atas,Zain yang sedang berbicara dengan pak Davin melihat Aaron berjalan dan memperhatikan orang yang berada di belakangnya.


Setelah menyadari jika pria itu mirip dengan Smith dia berlari turun melewati eskalor untuk mengejarnya,dia berpikir jika orang itu sangat mirip dengan Smith.


Zain berusaha mencari tau namun tak terkejar olehnya.


"Orang itu benar benar mirip Smith."


"Tapi.. kulihat tubuh orang itu bersih dari tatto."


"Dan juga kenapa dia bersama dengan Aaron??"


Zain bertanya tanya dalam hatinya.


Dia berjalan tanpa memperhatikan ke depan,hingga menabrak seseorang."


"BRUKK."


Jean terpental karna dia berjalan terburu buru sambil membawa banyak dokumen.


"Pak Zain!"


"Kamu mikirin apa sih,kalau jalan jangan ngalamun dong."


"Aduh pantatku sakit banget."


Zain meminta maaf dan menolong Jean mengumpulkan dokumennya yang berserakan lalu memapahnya menuju ruangan Jean.


"Maaf ya Jean,aku bener bener gak sengaja."


"Iya iya sana bapak keluar aja." Usir Jean sambil mengibaskan tangannya.


Zain keluar dengan perasaan bersalah karna membuat Jean kesakitan.


Jean meringis menahan sakitnya.


***


Pukul 6 Aaron pulang ke kediaman Rassam.


Setelah masuk ke kamar dan menyusuri setiap tempat,Aaron tak menemukan Sora,hingga akhirnya dia keluar kamar dan bertanya pada bi kana.


"Bi,apa bibi tau kemana Sora?"


"Maaf tuan muda saya tidak tau non Sora pergi kemana."


"Tapi kalau pergi dengan siapa bibi tau."


"Dengan siapa bi?"


"Dengan tuan muda Thian."


"Apa! dia pergi dengan Thian." Batin Aaron yang sedikit marah mendengar penjelasan dari bi kana.


"Kapan dia pergi bi?"


"Dari siang tadi tuan."


"Dari tadi siang..." Guman Aaron.


"O ya udah bi makasih."


Aaron berjalan pelan,merasa tidak karuan dan berfikir yang tidak tidak karna saat pulang Sora tidak berada di rumah,memilih pergi dengan Thian.


Di kamar Aaron tak menyalakan lampunya,dia merebahkan tubuhnya dan meluruskan kakinya,dia bahkan belum mengganti bajunya,dengan sepatu yang masih terpasang di kakinya.


Cahaya penerangan di taman menerobos masuk ke kamar Sora,remang sesuai dengan suasana hati Aaron saat ini.


Aaron memejamkan matanya berusaha untuk menenangkan diri.


Hingga akhirnya membuat dia terlelap dalam tidur.


Beberapa menit kemudian Sora pulang.


Sora membuka pintu kamar dengan perlahan penasaran karna lampu di kamar tidak menyala.


Dia berjalan pelan dan menyalakan lampu kamar.


Melihat Aaron tertidur di sofa yang masih memakai kemeja serta sepatu,Sora berpikir untuk mengambil inisiatif melepaskan sepatunya Aaron, dengan perlahan satu persatu sepatu yang ada di kaki Aaron terlepas kemudian bergantian melepas dasi yang masih terpasang di leher Aaron.


Saat Sora berusaha melepas dasi di leher Aaron,tiba tiba Aaron membuka matanya dan mencengkeram pergelangan tangan Sora dengan kuat.


"Auch." Sora berteriak karna sakit.


Sora berusaha menarik pergelangan tangan Aaron agar melepaskannya.


"Sayang sakit."


Aaron tersadar dan segera melepaskan cengkeramannya,lalu duduk dan meraih tangan Sora.


Melihat efek cengkeramannya,Aaron panik dan segera berdiri mencari obat untuk meredakan memar Sora.


"Sayang maafin aku,tadi aku tidak sengaja." Ucap Aaron menyesali sambil mengoles obat pada pergelangan tangan Sora.


"Aku juga salah,harusnya aku biarkan kamu terbangun sendiri."


Sora menenangkan Aaron dengan menyalahkan dirinya.


Setelah berkata Sora menatap Aaron dan menyentuh kedua pipi Aaron dengan lembut.


"Apa kamu mencariku tadi?"


Aaron tak menjawab,hanya menatap Sora dengan ekspresi datar.


Melihat Aaron yang diam dan tak bereaksi,Sora memberanikan diri mencium bibir Aaron.


Aaron tak membalas ciuman Sora,untuk beberapa detik masih tak percaya Sora memulainya terlebih dahulu.


Begitu tersadar Aaron membalas ciuman Sora.


Saat ciuman itu membuat mereka tak bisa bernafas,mereka menghentikan ciumannya.


"Kau tak marah lagi kan?" Tanya Sora.


Aaron menggeleng pelan kepalanya.


"Kau juga tak marah lagi kan?" Tanya Aaron.


"Iya."


Sora menganggukkan kepalanya.


Mereka melanjutkan ciumannya lebih dalam lagi,hingga Sora merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tubuh Aaron di atas menindih tubuh Sora.


"Tunggu tunggu." Ucap Sora sambil menahan kedua tangannya di dada Aaron.


Aaron menaikkan kedua alisnya,tersirat pertanyaan pada ekspresi wajahnya.


"Kau kan belum mandi." Ucap Sora.


"Trus..."


"Mandi dulu dong sayang,aku gak mau,kamu bau."


Terang Sora mendorong tubuh Aaron dan mendudukkan tubuhnya.


"Iya iya,aku mandi."


"Kau kan juga belum mandi kan."


Aaron menarik paksa Sora agar mandi bersamanya.


Beberapa langkah sebelum memasuki kamar mandi,Aaron menghentikan langkahnya,membalikkan badannya lalu menggendong Sora.


Sora tertawa bahagia.


Sudah beberapa kali Aaron memperlakukannya seperti itu.


...


Setelah selesai mandi bersama,Sora tenggelam di dada Aaron yang bidang,mereka berpelukan di atas tempat tidur.


"Sayang,tadi siang kau bersama kak Thian pergi kemana?"


"Aku ke kantor papa."


"Tadi papa meminta kak Thian untuk mengantarkanku ke sana."


"Kau tau kan ponselku rusak,aku belum sempat beli.


"Oh.."


"Sebentar."


"Kau mau kemana?"


Sora bertanya karna tiba tiba Aaron turun dari ranjang.


Aaron mengambil bag paper kecil dan memberikannya pada Sora.


"Apa ini." Tanya Sora.


"Kau lihat dulu."


Sora merogoh bag paper itu dan mengeluarkan isinya.


"Ponsel seri terbaru."


"Inikan seperti punyamu kan sayang?"


"Iya."


"Seharian ini aku kangen banget ma kamu."


"Aku marah karna gak bisa dengerin suara kamu." Ucap Aaron sambil memeluk Sora dengan erat.


"Sekarang udah gak kan." Ucap Sora.


"Aku akan selalu merindukan mu sayang." Batin Aaron sambil memeluk Sora lebih erat lagi.


***


Malam hari...


Zain yang masih di perusahaan mengambil kesempatan memasuki ruang HRD,dengan memanipulasi kamera cctv terlebih dahulu agar aksinya tak ketahuan.


Duduk dengan serius di depan komputer mencari seseorang yang di lihat tadi siang.


Sudah dua puluh menit dia mencari namun tak menemukannya,Zain berpikir..


"Aku harus mempersempit pencarian."


"Departemen yang sering berhubungan dengan Aaron adalah..."


Saat itu Fredy melewati ruang HRD,langkahnya terhenti ketika dia menyadari bahwa ada sedikit cahaya dari dalam.


Dia mendekati ruang HRD secara perlahan dan membuka pintu sepelan mungkin tanpa menimbulkan suara.


Fredy menyusuri kegelapan di ruang HRD namun tak menemukan siapapun,lalu dia melangkah keluar dan menutup kembali ruangan itu.


Sebelum Fredy memasuki ruang HRD Zain melihat bayangan di bawah pintu seseorang yang akan mendekat masuk,secepat kilat dia mematikan komputer dan bersembunyi di belakang pintu.


Di rasa aman dia keluar mengendap endap.