Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
42. Kemarahan kakek


"Kalian masuklah." Perintah steve pada mereka berdua.


Aaron dan Sora saling berpandangan.


Kakek terlihat sangat marah sekali.


Saat Aaron akan duduk Sora menarik lengannya,memandang dengan menggelengkan kepalanya,agar Aaron tidak duduk.


"Tuan Aaron,anda bisa duduk sekarang." Ucap Steve Rassam.


Setelah Aaron dan Sora mendengar perkataan steve mereka duduk bersamaan.


"Sora!"


"Kau berdiri!" Perintah kakek.


Mendengar kakek yang berkata dengan kemarahan,Sora langsung berdiri.


"Kau jelaskan apa ini."


Kakek menaruh kertas di meja sambil memukul meja,membuat kaget orang yang berada di ruangan itu.


Sora sedikit gemetar saat mengambil kertas itu.


"Ini..." sora bergumam.


Seketika Sora langsung berlutut.


"Kakek ini gak seperti yang kakek kira."


Ucap Sora.


"Kau adalah putri keluarga Rassam,bagaimana orang lain akan memandang keluarga kita."


"Karna hal inikah kau menolak pernikahan dengan keluarga Torres?"


Mendengar perkataan kakek Aaron berdiri dan mendekati Sora untuk melihat kertas yang di masih di pegang Sora.


Setelah membacanya Aaronpun ikut berlutut.


"Maaf tuan Ramush,ini semua bukan salah Sora."


"Apa hubunganmu dengan Sora?" Tanya kakek


"Saya adalah ayah dari anak yang ada di perut Sora."


"Jadi kau pria yang sudah membuat Sora menjadi bodoh." Ucap kakek yang berdiri dan mengambil tongkat golf yang berada di samping meja.


"Hah bodoh,apaan sih kakek ini." Batin Sora.


"Kek kenapa bilang Sora bodoh." Ucap Sora.


"Jika tidak bodoh bagaimana pria ini bisa menghamili kamu." Ucap kakek dengan kemarahan dan tiba tiba memukul Aaron.


Sora terkejut melihat kakek mengayunkan tongkat golf itu untuk memukul Aaron.


Aaron reflek menangkis pukulan kakek dengan tangannya,tetapi head stick golf itu mendarat di kening Aaron,membuatnya terluka dan mengeluarkan darah.


"Kakek hentikan." Teriak Sora.


"Ayah jangan seperti ini." Lerai steve.


"Sayang kau berdarah,ayo kita pergi ke rumah sakit. " kata Sora pada Aaron.


"Aku gak papa,kamu tenanglah."


"Gak bisa sayang,kamu terluka,aku harus ngobatin Lukamu dulu."


Kakek yang melihatnya semakin bertambah emosi,belum puas dan ingin memukulnya sekali lagi.


"Ayah sudah jangan marah,duduklah ayah." Ucap steve.


"Sora kau tetap di sini,biarkan Aaron pulang." Ucap steve.


"Tapi pa Aaron terluka,biar aku obati dulu."


"Dengarkan kata papa jika gak mau masalah ini bertambah rumit."


Sora hanya bisa pasrah dengan perkataan papanya.


"Sayang baiknya kau pulang dulu,aku akan bicara dengan kakek."


"Kalau kakek lagi marah,susah untuk di ajak ngomong."


"Oke,kamu gak usah khawatirkan aku." Ucap Aaron.


Tentu saja Sora mengkhawatirkan kondisi Aaron.


Kedua mata sora bahkan berkaca kaca hampir meneteskan air matanya.


"Beneran aku gak apa apa kok." Ucap Aaron menenangkan sora.


"Tapi kamu gak apa apakan kalau aku tinggal,takutnya kakekmu..."


"Kakek gak akan ngapa ngapain aku."


"Nanti setelah ini kau harus telpon aku." Pinta Aaron.


Sora mengagukkan kepalanya,mengiyakan perkataan Aaron.


Aaron dan Sora lalu berdiri.


"Maaf tuan Ramush dengan kondisi yang seperti ini saya mohon pamit,jika situasi sudah tenang saya akan menemui anda lagi."


Ucap Aaron sambil membungkukkan tubuhnya dan berlalu pergi dari ruangan itu.


Aaron keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju luar rumah.


Fredy yang menunggu sedari tadi dalam kekhawatiran semakin bertambah khawatir melihat kepala Aaron yang berdarah.


"Tuan muda kepala anda.."


Aaron tak menjawab pertanyaan fredy,melewatinya dan masuk ke dalam mobil.


Melihat hal itu fredy bergegas masuk ke mobil dan mengemudikan mobil keluar dari kediaman keluarga Rassam.


"Pulang ke rumah." Perintah Aaron.


"Baik tuan muda."


Selama perjalanan Aaron diam,dan membiarkan darah yang mengalir melewati pinggir matanya turun ke pipi dan ke leher,membuat kemeja putihnya menjadi berwarna merah.


Fredy yang melihat keadaan Aaron tak kuasa untuk berdiam diri lalu dia mengubah arah mobilnya dan menuju ke rumah sakit.


Fredy membalikkan badannya dan memberikan tisu pada Aaron untuk menekan darah yang keluar dari keningnya.


"Kau tak dengar perintahku." Ucap Aaron.


Fredy pasrah dengan perintah Aaron,akhirnya dia kembali lagi ke arah jalan menuju rumah Aaron.


Sampai di rumah,fredy segera menelepon dokter untuk segera datang ke rumah Aaron.


Aaron berada di kamar mandinya melepaskan jas dan kemejanya yang terkena darah,menatap dirinya di depan kaca.


"S**l darahny gak bisa berhenti."


Lalu Aaron melangkah keluar dari kamar mandi dan saat membuka pintu dia kaget ada dua orang yang berdiri di depan kamar mandinya.


"Tuan muda dokter sudah datang untuk memeriksa anda." Ucap fredy


Dokter menarik paksa Aaron untuk duduk,lalu memeriksa luka di keningnya.


"Apaan ini,kenapa kau bisa terluka?"


"Apa kau berkelahi memperebutkan seorang wanita?"


"Apaan sih kak Agam."


"Buat apa rebutan wanita."


"Auw bisa gak sih pelan dikit."


"Kau tau jika terjadi apa apa denganmu aku harus laporan dengan nenekmu."


Aaron langsung meraih pergelangan tangan dokter Agam.


"Baiknya kakak gak usah kasih tau ke nenek."


Agam mengernyit,ada rasa penasaran dengan sikap Aaron barusan.


"Apa kamu nyembunyiin sesuatu?" Tanya dokter Agam.


"Jika kakak ingin lihat aku menikah jangan beritahu hal ini sama nenek." Pinta Aaron.


Agam tersenyum dengan perkataan Aaron.


"Baik,kau berhutang padaku."


"Siapa wanita itu?"


"Makasih kak."


"Akan ku kenalkan jika semua ini udah berlalu."


"Akan aku tunggu hari itu."


"Minum obatnya dengan teratur."


"Iya kak."


Selesai mengobati luka Aaron,dokter Agam keluar dan meninggalkan rumah Aaron.


"Trililit trililit."


"Ada apa jack?"


"kak ron ada informasi jika seseorang akan berusaha menjatuhkan saham keluarga Markle."


"Semua mengarah pada keluarga Alves."


"Bisa jadi mereka dendam karna kau memutuskan pernikahan putri mereka."


"Baik,aku mengerti."


"Jack apa kau sudah ada titik terang siapa yang ingin mencelakai istriku?"


"Maaf kak ron,aku belum ada petunjuk."


"Saat ini kami masih mengejar tentara bayaran itu."


"Kakak tenang aja aku pasti bisa mencari pelakunya."


"Oke aku serahkan semua sama kamu."


Aaron mematikan telponnya,lalu menekan nomor fredy.


"Fredy kemarilah." Perintah Aaron.


Setelah mengantar dokter Agam fredy berjalan menuju kamar Aaron.


"Tuan muda,apa anda memerlukan sesuatu?"


"Besok kau ke kantor atasi saham yang akan di pecah, buat perusahaan fiktif untuk mengelabui perusahaan lain yang mengincar perusahaan kita."


"Baik tuan muda."


"Fredy apa kau sudah menemukan informasi hubungan keluarga Markle dan keluarga Rassam?"


"Tuan muda maaf jika saya harus mengingatkan anda tentang orang tua tuan muda."


"Saya masih ingat saat itu tuan muda masih berumur delapan tahun,dan saya berumur lima belas tahun."


"Tuan dan nyonya membawa kita ke sebuah perjamuan pesta di rumah keluarga Rassam."


"Ya aku ingat saat itulah pertama kali aku bertemu dengan Sora." Ucap Aaron.


"Tapi setelah penculikan itu ada sebagian ingatanku yang hilang."


"Maafkan saya tuan muda,saya mengingatkan peristiwa yang ingin di lupakan oleh anda."


"Kau tau fredy,aku gak pernah menyangka jika Sora akan menjadi istriku."


"Dia yang membuatku benci dengan wanita,dia juga yang buat aku tergila gila dengan seorang wanita."


"Tuan muda dan nona Sora memang sudah berjodoh."


"Jika kau tau apa yang dia lakukan kepadaku,kau pasti akan menertawakanku."


Fredy sedikit terkejut dengan ucapan Aaron.


"Apa itu tuan muda?"


"Sudahlah itu sudah berlalu."


"Sekarang kau boleh pulang,jika aku membutuhkanmu aku akan meneleponmu." Perintah Aaron.