Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 108 - Sama-Sama Panik


Budaya lempar batu sembunyi tangan sepertinya sudah tradisi yang tidak bisa lepas dari manusia. Setelah melarikan diri usai memancing emosi Mikhayla, kini Sean tampak duduk santai menunggu Yudha. Tidak berselang lama, pria itu datang dengan rambut acak-acakan, bisa dipastikan dia adalah korban kekerasan Mikhayla juga.


"Hahah kau kenapa?" Gelak tawa tidak lagi kuasa Sean tahan, penderitaan Yudha tidak boleh dia sia-siakan.


"Sopankah kau bertanya begitu, Kak? Huft, karena ulahmu aku kena getahnya?" kesal Yudha tanpa segan menepuk pundak Sean, mungkin di mata Sean lucu, sama sekali dia tidak sadari penderitaan Yudha saat ini.


"Salahmu tidak menghindar, tarantula itu memang bahaya, Yudha ... ayo pulang, aku ingin bertemu papa sebentar."


"Hm, hanya itu?"


"Iya, hanya itu ... nanti malam aku harus segera kembali, aku percayakan hasilnya padamu, Yud," ungkap Sean menepuk pelan pundak Yudha, pria ini memang benar-benar dia andalkan.


"Iya ... kau tidak perlu khawatir, soal teman-temanmu juga percayakan padaku," balas Yudha sama sekali tidak merasa keberatan. Jelas saja tidak, Sean tidak meminta bantuannya dengan gratis, tapi mahal.


"Apa kau yakin bisa?"


"Hm, kak Evan yang ambil alih jadi santai saja," ucap Yudha memperkecil masalah, menurutnya selagi Keyvan yang ikut andil semua memang akan baik-baik saja.


Sean tidak lagi menjawab, khawatir jika Mikhayla justru mengejarnya pria itu lebih baik cari aman. Cukup rambut Yudha saja yang menjadi sasaran, dia jangan. "Bangunkan aku kalau sudah sampai, mataku perih sebenarnya," tutur Sean kembali mencari posisi nyaman.


Pemandangan semacam ini sangat biasa bagi Yudha, dia memaklumi dan hal itu. Mungkin Sean memang lelah, ditambah lagi saat ini status Sean dapat dikatakan pengantin baru. Jadi wajar saja, mungkin mereka tengah menebus waktu-waktu yang kala itu terbuang selama Sean di penjara.


Namun, belum juga lima menit Yudha melaju, ponselnya berdering hingga Sean yang tadinya baru saja hendak terlelap segera membuka matanya. Bukan karena dia peduli siapa yang menghubungi Yudha, tapi dia merasa terganggu dengan nada deringnya.


"Tidak sekalian pakai toa?"


"Nadanya begini supaya aku tidak melewatkan panggilan dari calon istriku, Kak." Yudha mencebik, agaknya Sean sedikit tidak suka melihat orang bahagia, pikirnya.


"Cih ... angkat sana, nanti bocah itu menangis lagi seperti hendak ditalak tiga."


"Selamat siang, Yudha di sini ... apa ada yang bisa dibantu?"


Sedikit aneh, Yudha tidak menyapa penelpon itu dengan panggilan maut yang kerap membuat Sean geli. Caranya bicara juga tampak formal seolah seseorang di seberang telepon itu penting sekali.


Sean yang tadinya tidak tertarik, kini mendekat demi bisa menguping pembicaraan Yudha. Padahal, besar kemungkinan jika yang menghubunginya saat ini adalah rekan bisnis Zean.


"Kau sedang bersama Sean?"


Sean? Mereka itu tidak salah dengar, ini adalah kali pertama penelpon asing yang menanyakan keberadaan Sean pada Yudha. Sungguh membuat Sean menjadi besar kepala, dia seolah tengah menjadi direktur juga saat ini.


"Maaf, dengan siapa?"


"Aku ... Irham."


Sean menolak awalnya, tapi Yudha menggeleng dan meminta Sean untuk segera bicara. Lagi dan lagi semesta seolah menciptakan jalan untuk mereka tetap saling mengenal, dengan sedikit malas Sean menjawab salam dari Irham.


"Langsung saja, untuk apa kau menghubungiku? Bukankah kau yang menolak bantuanku tadi?" tanya Sean kembali dengan nada angkuhnya.


Seperti biasa, Sean begitu konsisten dengan sikap yang dia tujukan pada seseorang. Terlebih lagi pada pria yang pernah menginginkan istrinya.


"Bukan soal itu ... aku hanya ingin bertanya, dimana Ana?"


Sean mengerutkan dahi, Irham menyebut nama Ana. Besar kemungkinan Irham telah mengetahui jika Ana berada dalam pengawasannya, tapi dari siapa? Seingat Sean, dia sudah berusaha menyembunyikan Ana seperti yang wanita itu minta.


Lagi pula, ketika di pesawat Irham sama sekali tidak membahas soal Ana. Kini, dengan tegas dia bertanya tentang keberadaan adik angkatnya itu. Sean yang khawatir jika Irham akan membuat Ana celaka mencoba menutupi kebenarannya.


"Aku tidak tahu ... aku juga tidak mengenal_"


"Jangan berbohong, Sean, cepat katakan dimana Ana? Mau kau apakan adikku? Dia sama sekali tidak salah, yang salah papaku dan jangan pernah melibatkan Ana lagi ... bukankah tujuanmu memenjarakan papaku sudah tercapai, Sean?"


Sean menghela napas perlahan, tampaknya sedikit banyak Irham sudah mengetahui jika Ana berada dalam kekuasaannya. Hal itu terbukti jelas dengan Irham yang menarik kesimpulan sendiri seolah-olah memanfaatkan Ana untuk meringkus Bramanto.


"Kau salah menduga, Irham."


"Aku hanya butuh penjelasan! Untuk itu tolong katakan dimana Ana sekarang?"


"Ana dalam perlindunganku, kau tidak perlu khawatir ... dia yang meminta, dan aku tidak melakukan apapun pada adikmu, santai saja," jelas Sean dengan nada yang kini sedikit lebih santai.


"Apa kau bisa dipercaya, Sean?"


"Sangat bisa, kau dimana? Apa kita perlu bertemu sekarang?"


"Rumahmu."


"Hah? Apa?!! Kau benar-benar ... untuk apa kau datang ke rumahku, gila?!!" tanya Sean meninggi, sayangnya suara Irham tidak lagi terdengar kini.


Sean mendadak gusar, khawatir jika keberadaan Irham justru diketahui lebih dahulu oleh Mikhail. Lagi pula siapa yang memberitahukan alamat rumah mereka, pikiran Sean sontak tertuju pada kakak iparnya.


"Yud, kita harus cepat ... kenapa juga cecunguk itu justru datang ke rumah!! Ays, sok akrab." Tidak hanya Sean yang panik, Yudha juga demikian. Bukan karena apa-apa, selain khawatir Irham bertemu Mikhail, Yudha justru khawatir sang kekasih yang bertemu Irham.


.


.


- To Be Continue -