Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
65. Kekhawatiran Aaron


Semua keluarga Rassam sudah berkumpul di ruang tamu termasuk Thian dan papanya,sedangkan Sora baru datang untuk bergabung.


"Nek,maaf Sora baru turun." Sambil menyalami nenek,Sora mencium pipi kanan dan kiri nenek.


"Kak Sora kita sudah pernah bertemu di kota Portland,maafkan aku jika dulu aku pernah kasar padamu." Ucap Sarah lalu berdiri dan menyalami.


"Gak papa."


"Kedepannya kita bisa akrab ya."


Mereka saling memeluk.


"Itu yang ku harapkan." Batin Sarah dengan Smirknya yang jahat saat memeluk Sora,dan tersenyum kembali saat mereka melepaskan pelukannya.


"Hahaha pasti kak." Jawab Sarah.


"Kalian masih muda,sekarang kalian sudah jadi keluarga,nenek senang melihatnya kalian secepat ini bisa akrab." Timpal nenek Aaron.


"Ram maaf jika aku datang sekarang."


"Padahal aku bilang kepadamu akan datang nanti malam."


"Tak masalah,tidak ada bedanya kau datang sekarang atau malam nanti,keluarga Rassam akan selalu terbuka untuk menyambutmu." Jawab kakek.


Olivia hanya tersenyum mendengarnya.


"Besok undangan akan di bagikan,aku harap saat pesta berlangsung semua berjalan dengan lancar." Terang Ramush.


"Ayah dan bibi tak perlu khawatir,aku dan Steve sudah menyiapkan pesta ini dengan hati hati,Aaron juga ikut membantu,pasti tidak akan ada masalah." Ucap Olivia.


"Baiklah itu membuatku sedikit tenang." Jawab Emily.


"Kak Sora pastinya cantik banget deh,aku gak sabar liat kak Sora memakai gaun pengantin." Puji Sarah.


Sora hanya tersenyum mendengarnya.


Mereka berbincang bincang hampir dua jam lamanya,bahkan saat makan bersama di meja makan pun mereka masih asik berbicara.


Sarah berusaha mengakrabkan dirinya secepat mungkin dengan Sora,agar apa yang dia rencanakan berjalan lancar.


Di luar rumah utama,Fredy dan Aiko duduk berbincang bincang di taman yang tak jauh dari mobil.


Di meja ada beberapa makanan kecil dan minuman yang di antar oleh bi Kana.


"Dret dret dret."


Fredy segera mengeluarkan ponselnya dari kantong jas,terlihat di layar nama tuan muda.


"Iya tuan muda."


"Fredy,kamu kemana aja sih,udah dua jam lebih kamu gak balik ke kantor."


"Maaf tuan muda,setelah tiba di Oregon nyonya meminta untuk langsung menuju ke kediaman Rassam."


"Hah,apa?"


"Kok kamu gak ngasih tau aku?"


"Maaf tuan muda,nyonya besar bilang tidak perlu memberitahu anda."


"Apaan sih kamu ini,kamu itu bawahanku apa bawahan nenek sih." Ucap Aaron dengan marah.


"Kapan nenek akan keluar dari rumah Sora?"


"Maaf tuan muda saya tidak tau."


Aaron mematikan ponselnya dengan emosi,dia bergegas merapikan dokumennya dan menyimpannya di brankas,karna dia tidak percaya dengan orang lain selain Fredy.


Buru buru dia memakai jas nya,dan keluar dari ruangannya,menaiki lift,menuju basement untuk menaiki mobil,dan melajukan mobilnya dengan cepat.


Di kediaman Rassam...


Di teras samping rumah utama.


Ramush, Emily,Olivia dan juga Vano papanya Thian sedang membahas pernikahan Aaron dan Sora.


Sedangkan Sora,Thian dan Sarah di ruang keluarga,terdengar mereka saling melempar canda dan tertawa bersamaan,hanya Sora dan Sarah yang menikmati candaan mereka.


"Jadi kak Thian tinggal di Negara M,di kota Mvile?"


Thian hanya mengangguk dengan jawabannya,karna dia tak tertarik dengan pertanyaan Sarah.


"Sora,kakak ke kamar dulu ya,kalian lanjutin aja."


Sora mengerti jika kak Thian merasa tak nyaman,maka dia mengiyakan keinginan kak Thian,biasanya Sora akan memaksa kakaknya untuk menemaninya.


"Kakak keren lho bisa naklukin kak Aaron."


"Gak nyangka juga kalau kakak adalah putri dari keluarga Rassam." Sarah melanjutkan pembicaraan mereka yang tadi sempat terhenti karna Thian yang pamit di saat mereka sedang asik mengobrol.


"Ah enggak juga deh,bukan aku yang naklukin Aaron,tapi Aaron yang naklukin aku." Canda Sora.


"Kak Sora tau gak,dulu kak Aaron hampir nikah ama Calista Alves lho,untung aja gak jadi."


"Aku gak suka sama dia kak,cantik sih tapi enggak hatinya,busuk banget."


Pembicaraan mereka terhenti lagi dan mereka terkejut ketika ada orang yang berdiri di sebelah mereka,mengeluarkan suara deheman.


"Ehem."


Sora dan Sarah menengok ke samping mencari asal suara tersebut.


"Sayang kamu udah pulang?" Sora bertanya untuk menutupi keterkejutannya.


"Kak Aaron." Panggil Sarah yang juga terkejut dengan kedatangan Aaron.


Sora berdiri dan menghampiri Aaron lalu memeluknya,saat Sora akan kembali duduk bergegas Aaron menarik tangan Sora dan menggenggam tangannya,menahannya agar tetap di sampingnya.


Sarah yang melihatnya sebisa mungkin menahan kecemburuannya terhadap Sora,memperlihatkan senyuman palsunya.


"Nenek mana?" Tanya Aaron.


"Nenek di teras samping kak,sedang berbincang dengan kakek dan bibi."


Sarah secepatnya menjawab pertanyaan Aaron untuk menarik perhatiannya.


"Aaron kau sudah pulang?" Tanya Olivia yang masuk ke ruang keluarga bersama dengan Ramush dan Emily.


Mendengar ada yang bertanya Aaron membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang dan bertanya.


"Nenek." Panggil Aaron lalu menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu,setelah itu baru menjawab pertanyaan Olivia.


"Belum sih ma,masih setengah jam lagi,Aaron nyelesein pekerjaan dulu setelah itu kemari karna nenek datang." Jawab Aaron.


"kau terlambat,nenek sudah akan pulang sekarang." Ucap Emily.


Aaron hanya tersenyum mendengarnya,meraih tangan kanan nenek dan menggenggamnya erat.


"Maaf ya nek,Aaron gak nemenin nenek di rumah,Aaron di sini nemenin Sora."


"Nenek ngerti,kamu memang harus nemenin istri kamu,sekarang kan dia sedang hamil." Ucap nenek sambil menepuk punggung tangan Aaron yang menggenggamnya.


"Makasih nek." Ucap Aaron.


"Apa?"


"Dia lagi hamil?"


"Gak enggak,gak boleh,kalau gini kan kak Aaron gak bisa lepas ama tuh orang."


Batin Sarah yang mengepalkan tangannya,karna tak senang mendengar kehamilan Sora.


"Iish.. gara gara dia juga,kak Aaron gak mau pulang ke rumah."


Aaron kamu belum bertemu dengan paman Sora kan?"


"kenalin ini paman Vano." Ucap Olivia.


"Paman." Ucap Aaron sambil menjabat tangan paman Vano.


Setelah Aaron berkenalan dengan paman Vano mereka bersama sama berjalan ke pintu,mengantar nenek dan Sarah menuju mobil di luar rumah utama.


Setelah nenek,Sarah masuk ke dalam mobil dan sudah tak terlihat dalam pandangan mata,Aaron pamit pada kakek,paman Vano dan mamanya Sora untuk ke kamar mereka.


Di dalam kamar Sora membantu melepaskan jas dan sepatu yang di pakai Aaron.


"Ku lihat tadi kau akrab sekali ama Sarah."


Ucap Aaron mengawali percakapan mereka.


"Enggak juga,dia sendiri yang mengakrabkan diri ama aku."


Aaron melangkahkan kakinya dan berhenti di depan Sora,meraih dan menggenggam kedua tangan Sora lalu menariknya ke depan dadanya.


"Sayang,apapun yang di katakan Sarah jangan pernah percaya,oke."


"Kau masih tak menyukainya ya,diakan sepupumu."


"Dan dia keliatannya polos banget deh."


"Jangan terkecoh dengan muka polosnya."


"Nurut ya sayang."


Aaron menatap Sora penuh kecemasan.


"Iya iya,gak usah secemas itu dong,sayang."


"Aku akan hati hati dengannya."


Aaron memeluknya dengan erat ke dalam dadanya untuk mengurangi kecemasannya.


Aaron tau benar sifat Sarah,dia takkan semudah itu mau menerima Sora,mungkin itu juga salahnya karna dia membiarkan Sarah melakukan apapun keinginannya, tanpa menyalahkannya jika dia berbuat salah.


Tapi ketika tau jika Sarah suka dengannya,dan melakukan cara yang menjijikkan,Aaron berusaha menjaga jarak dengan Sarah.


"Aku harus jagain istriku dari Sarah dan juga Calista."


"Aku merasa jika mereka akan melakukan sesuatu pada Sora." Batin Aaron.


Bersamaan dengan yang dipikirkan,Aaron menghela nafasnya.


"Ketampananku ini ternyata bisa mencelakai anak dan istriku."


"Huh."


Aaron tenggelam dalam pikirannya.


"Sayang kau mikir apaan sih,kamu lagi cemas ya?" Sora menarik kepalanya dan menatap Aaron dengan penuh selidik.


"Enggak,aku cuma deg degan aja kalau inget pesta pernikahan kita udah mau deket harinya." Terang Aaron membohongi Sora.


"Aku tau kok,kamu lagi cemas hal yang lain."


"Udah gak usah khawatir,cemas,deg degan atau apapun itu,oke."


"Aku akan baik baik aja."


Aaron mendekap Sora sekali lagi,untuk memastikan hati jiwa dan pikirannya,jika tidak akan terjadi sesuatu dengan Sora.