Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 18 - Edisi Ana - Axel


Setelah mendengar niat baik Axel, Sean tidak tinggal diam. Pria itu segera mendatangi mertuanya dan secara tegas meminta agar Kiyai Husain bersedia meminang Ana untuk Axel secara baik-baik. Tidak disangka-sangka, kedua kakak ipar Sean justru larut dalam kebahagiaan dan bersedia turut berperan dalam melancarkan niat baik Axel.


Ya, meski saat ini status Ana adalah yatim piatu, bukan berarti mereka bisa menikah begitu saja. Kiyai Husain sangat memuliakan wanita yang akan menjadi pendamping hidup semua keturunannya, bahkan ketika Ayunda ditalak, mereka tetap mengembalikan wanita itu secara baik-baik pada keluarganya.


Tidak ingin berlama-lama, Axel juga khawatir Ricko justru nekat melarikan calon istrinya. Walau mungkin benar hanya candaan, tapi tidak bisa dipungkiri dia memang khawatir kewarasan Ricko lenyap jika soal wanita.


Terlebih lagi setelah makan malam Ana menyampaikan keputusan akhir. Irham menyetujui pernikahan mereka seperti dugaan Sean, hal itu jelas sudah cukup sebagai langkah awal untuk menentukan keputusan.


Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap mendatangi kediaman Irham, sebuah rumah minimalis yang baru dia tempati setelah terpuruk dengan keadaan. Tidak hanya sendiri, ada ibunya yang menggantikan sosok ibu kandung Ana.


Tanpa dendam, mereka tidak sekaya dahulu, tapi lebih tenang. Ibunda Irham yang dahulu sempat bersikap angkuh di hadapan Kiyai Husain dan Zalina jelas saja malu sebenarnya, tapi keluarga itu memang tidak ditakdirkan menjadi seorang pendendam seperti Bramanto.


Pertemuan itu berlangsung secara hangat, kiyai Husain dengan tegas menyebutkan Axel sebagai anak kami yang benar-benar membuat Ricko melas sendiri. Dia bahagia dengan pernikahan Axel sebenarnya, tapi keputusan Axel yang secepat itu hingga membuat dia merana setelah bebas adalah alasan Ricko sedih seolah ditinggal cinta pertamanya.


"Kau dulu begini juga, Sean?" tanya Ricko pelan lantaran masih terkagum-kagum dengan pertemuan semacam ini, maklum saja mereka tidak terbiasa dan mana pernah melakukan musyawarah atau semacamnya.


"Hahahah tidak," bisik Sean kemudian menggeleng dan menutup mulut demi menahan tawanya, jika diingat lucu saja bagaimana cara Sean mendapatkan sosok Zalina dalam hidupnya.


"Lalu bagaimana? Kau tidak pernah cerita soal itu." Ricko penasaran? Sangat, baru dia ingat Sean tidak pernah menceritakan bagaimana awal pertemuan mereka.


"Cerita? Soal apa?" tanya Sean kembali dengan jurus pura-pura bodoh demi membuat Ricko geram senditi.


"Ck, soal Zalina lah apalagi, bagaimana awal pernikahan kalian? Apa keluargamu dari Jakarta datang ramai-ramai lalu diizinkan kiyai Husain atau bagaimana?"


"Oh Zalina ... nemu di jalan," jawab Sean singkat dan seketika membuat raut wajah Ricko berubah, apa tidak ada jawaban yang lebih manis sedikit saja selain kata nemu semacam itu? Entahlah, yang jelas dia bingung saja.


"Bercanda terus, kapan hidupmu serius?" Mata Ricko mendelik tajam dan memutar bola matanya malas, seorang istri dia samakan dengan dengan sejenis roti, bisa-bisanya nemu, pikir Ricko.


"Sudah lupakan lebih baik kau diam dan lihat bagaimana mereka agar nanti punya gambaran."


"Punya gambaran bagaimana, keluargaku tidak ada ... nanti aku minta kau saja ya," ucap Ricko mengedipkan mata, seolah ada saja seseorang yang menerima dirinya.


"Aman, memang sudah punya calonnya?"


"Ada," jawab Ricko kemudian, jika saja sejak kemarin dengan jelas dia mengatakan bahwa sudah memiliki wanita pujaan, mana mungkin Axel naik pitam.


"Siapa memangnya?"


"Ameera ... adikmu cantik sekali, dia masih sendiri, 'kan?"


"Kau lamar sendiri, taklukan hati papaku jika mampu."


"Minta uang, Se ... aku mau jadi pengusaha," rengek Ricko yang membuat Sean berdecak kesal.


"Kau kira aku ayahmu?!"


"Bukan, tapi calon kakak iparku," jawabnya santai, sontak Sean menggeleng pelan.


Sementara di sisi lain, Ana tengah terpaku mendengar ungkapan Axel di hadapan Irham. Dia menangis, sejak tadi air mata itu benar-benar tidak tertahankan. Sama sekali Ana tidak berpikir jika akan sampai di titik ini, titik dimana dia dilamar pria yang sempat membuatnya hancur, sehancur-hancurnya.


"Mom."


Kembali lagi, Satria menyeka air matanya. Sejak tadi putranya mengintip di balik tirai, dia sebahagia itu mengetahui kedatangan Axel bersama bersama Sean dan juga keluarganya. Dia belum terlalu mengerti masalah orang dewasa, bahkan sama sekali Satria tidak tahu jika orang tuanya belum menikah.


"Kenapa mommy menangis? Bukankah Daddy datang untuk menjemput kita? Kata Daddy tadi kita akan hidup bersama dan Daddy akan menjaga Satria sampai nanti, benar, 'kan?"


Setajam itu pendengaran Satria, dia paham putranya bahagia dengan kehadiran Axel. Seperti yang Zalina katakan, Satria memang membutuhkan sosok ayah biologisnya, kini nyata terlihat manik Satria berbinar.


"Hm, benar ... Satria tidak akan sedih lagi setelah ini," ungkap Ana mengusap pelan wajah putranya, sejak dahulu dia berpikir kapan berakhir penantian Satria tentang sosok ayah yang bisa membuatnya menangis di tengah malam tanpa sepengetahuan Ana.


Selang beberapa lama, Ana tiba-tiba menutup mulut Satria yang terus menenangkannya. Wanita itu menajamkan pendengarannya, detik menuju keputusan kapan akad akan dilaksanakan sudah tiba, dan jantung Ana berdetak dua kali lebih cepat kala mendengar ucapan kiyai Husain.


"Ba'da magrib saja ... Nak Irham tidak apa-apa didahului, 'kan?"


"Tidak masalah, Abi," jawab Irham tampak santai, seolah sama sekali bukan masalah.


Jelas tidak masalah, sementara bagi Ana kalimat itu membuatnya beku, ba'da magrib artinya tidak sampai 12 jam lagi. Belum apa-apa dia sudah dingin, bahkan ketika Axel ingin melihat wajahnya Ana malu luar biasa.


"Kenapan secepat itu? Aku belum siap!!"


.


.


- To Be Continued -