
Di ruang pegawai...
"Gila."
"Gila, beneran deh."
"Apaan sih Vi?"
"Segitu seneng nya kamu bisa ke ruangan pak Aaron?"
"Kalian tau gak siapa yang aku liat di ruangan pak Aaron?"
Semua saling memandang satu sama lain.
"Pak Aaron?"
"Bukan." Jawab Vivi
"Pak Freddy?"
"Bukan juga."
"Trus siapa dong."
"Ruangan itu kan biasanya hanya ada pak Aaron sama pak Fredy."
"Trus siapa lagi selain mereka."
"Bu Rara." Jawab Vivi
"Hah bu Rara?
"Bu Rara ke sini?"
"He'em."
"Kalian pasti kaget kalau ketemu bu Rara."
"Dia cantik banget."
"Kalau jadi pasangan pak Aaron serasi banget tau gak sih."
"Vi beneran yang kamu omongin."
"Iya beneran aku gak bohong." Jawab Vivi.
"Kenapa bu Rara gak nemuin kita ya." Tanya yang lain
"Eh Vi,kamu minta tolong ama kak Jean dong, buat bujukin bu Rara."
"Kita ajak bu Rara makan malam di luar."
"Iya Vi,kita udah kangen ama bu Rara nih."
"Oke oke,ntar aku bilang ke kak Jean."
***
Sora membalik balikkan majalah yang ada di ruangan Aaron.
Rasa bosan sudah hinggap pada dirinya.
Sudah beberapa kali dia menguap.
"Sayang inikan udah waktunya pulang,kamu belum selesai?" Tanya Sora.
"Mm."
"Apaan sih kok jawabnya gitu doang." Batin Sora.
Sora menghela nafasnya,dia mengerti jika pekerjaan sebagai Ceo sangat berat,melihat wajah Aaron yang sangat serius melihat dokumen yang berserakan di mejanya ada rasa tak tega pada Aaron.
"Dret dret."
Ada pesan masuk pada ponsel Sora.
"Sora kamu belum pulang kan?"
"Anak anak kangen ama kamu,mereka ngajak keluar sehabis kerja."
"Kamu mau datang gak?"
"Cepetan bales,Anak anak udah nungguin."
"*Ok,mau keluar ke mana?"
"Kalian duluan aja ntar ku susul."
"Di tempat terakhir kita makan malam, ku tunggu ya." Balasan Jean*.
"Sayang para pegawai mengajak untuk keluar,boleh aku ke sana?"
Aaron menghentikan penanya,dan memandang sora dengan ekspresi datar.
"Tunggu sebentar aku akan mengantarmu."
"Iya,cepetan ya sayang."
Aaron melanjutkan pekerjaannya lagi.
Lima belas menit sudah terlewati,namun Aaron belum juga selesai.
"Suamiku bisa kau cepetan,kasian kan mereka udah nungguin."
"Iya."
"Hisszz bilang iya tapi gak selesai dari tadi."
"Ihik ihik cepetan dong." Batin Sora.
Aaron merapikan kertas kertas yang ada di atas mejanya.
Aaron dan Sora keluar ruangan.
***
Di restoran...
"Maaf kalian udah nunggu lama ya?"
Kedatangan Sora membuat semua pembicaraan menjadi terhenti."
"Enggak kok bu, kita belum mulai." Jawab Vivi.
"Vi ini bu Rara?
"Iya,aku gak bohong kan soal ini."
"Iya Vi,bu Rara cantik banget."
Bisik mereka.
"Kalian pesen apa aja yang kalian suka,aku yang akan traktir kalian karna udah kerja keras hari ini." Ucap Sora.
"Makasih bu Rara." Ucap semua pegawai serentak.
"Pak Aaron mana?" Tanya Jean pelan.
"Masih di luar,sedang menerima panggilan telpon."
"Aku kirain pak Aaron gak ikut."
"Gak mungkin lah dia biarin aku pergi sendiri."
"Dia mirip kakek,kemanapun harus bilang."
"Apa yang dulu kupikirkan tentang pernikahan terjadi sekarang."
"Huft."
"Tapi kamu menikmati kan perhatian pak Aaron?" Tanya Jean.
"Udah ganteng kaya perhatian,kurang apa coba?
"Hehehe iya sih."
Aaron datang dan mendekat ke samping Sora,membuat semua yang ada di situ kaget.
Melihat kedekatan Aaron dan Sora membuat mereka bertanya tanya.
Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf bu Rara,boleh saya bertanya?"
"Oh boleh,mau tanya apa?"
"Mmm." Ada rasa takut akan pertanyaan yang ingin di sampaikan.
"Kau gak usah takut,tanya aja gak apa apa." Ucap Sora.
"Mm baik bu."
"Bu Rara saat perpisahan kemaren kan bilang ke kita kalau udah nikah, apa suami bu Rara gak di ajak ke sini,skalian kenalin ke kita."
Aaron yang mendengar hanya tersenyum dingin,terlihat acuh tak acuh dengan pertanyaan salah satu pegawainya.
Sora memandang Aaron hanya tersenyum.
"Aku pikir karna kalian sudah tau tentang suamiku maka aku gak ngenalin sama kalian,untuk ini aku minta maaf ya."
"Oke...semua kenalin ini suamiku." Ucap Sora sambil menunjukkan kedua tangannya ke arah Aaron.
"Haaah..."
Semua heboh dengan pengakuan Sora.
Jean yang melihat mereka tertawa kecil.
"Kalian gak nyangka kan,kalo bu Rara kalian nikah ama pak Aaron." Ucap Jean.
Ada yang masih shock dengan kenyataan yang terjadi.
Salah satu dari mereka yang memang menyukai Aaron hanya bisa menangis dalam hatinya,memalingkan wajahnya sambil meminum seteguk air putih di gelas,untuk mengurangi kesedihannya.
"Pantesan bu Rara sekarang cantik banget." Bisik mereka.
Mereka tak berani berkata kata lagi.
Diam seribu bahasa.
Menikmati makan malam tanpa banyak bicara,ada rasa canggung pada diri mereka. Apalagi Aaron yang memperlihatkan ekspresi dingin.
Selesai acara mereka berpamitan untuk pulang,hanya ada Aaron Sora dan Jean yang masih di sana.
Aaron sedang berada di kasir membayar semua tagihan.
"Jean kayaknya aku bikin patah hati mereka deh."
"Liat muka mereka tadi keliatan banget pengen nangis." Ucap Sora.
"Udah deh gak usah di pikir."
"Eh Sora,Pak Aaron gak berubah ya,walau udah nikahpun tetep dingin,cuek banget."
"Dingin apaan,nyebelin iya."
"Kamu tau gak,dia kalau di rumah beda banget."
"Beneran?" Ucap Jean yang penasaran dengan cerita Sora.
"Kadang tuh dia lembut banget kalo ngomong berdua ama aku."
"Tapi kadang juga nyebelin,gak peka ama keinginan aku."
"Rasanya pengen aku jitak deh kepalanya."
"Hi hi hi, emang kamu berani?"
"Hi hi hi,enggak lah mana berani aku."
"Bisa bisa aku gak boleh kemana mana." Jawab Sora.
"Ehem ehem."
"Kayaknya kalian asik banget ya ngobrolnya."
"Eh enggak kok pak Aaron,kan kita udah lama gak ketemu."
"Jadinya seru kalo udah ngobrol." Jawab Jean.
"Jean kau bareng kita aja,aku anter kamu." Ucap Sora.
"Enggak deh aku naik taksi aja."
"Aku gak mau jadi obat nyamuk." Bisik Jean pada Sora.
Mereka berpisah kembali ke rumah masing masing.
***
Di kediaman Rassam
Di dalam kamar Aaron dan Sora.
Setelah masuk Aaron melepaskan jas nya dan rompinya.
"Uh aku capek banget." Ucap Sora sambil merenggangkan tangan dan kepalanya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sedang Aaron masuk ke ruang pakaian mengendorkan dasinya dan melepaskan jam tangan dan menaruhnya di meja tempat khusus penyimpanan jam tangan.
Dia keluar dan melihat Sora sudah terlentang di atas tempat tidur.
Aaron menghampiri dan duduk di sampingnya,sambil mengelus elus pipi Sora.
"Sayang mandi dulu dong." Pinta Aaron.
"Mm."
"Aku mandiin lho kalau kamu gak bangun."
Sora seketika itu langsung membuka matanya.
"Iya aku udah bangun,aku akan mandi."
Sora turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Setelah Sora selesai bergantian Aaron yang masuk ke kamar mandi.
Sudah pukul sebelas malam.
Aaron masih bersandar di kepala tempat tidur sambil mengetik dokumen dan menatap laptop nya yang dia pangku di pahanya.
"Kau gak tidur?" Tanya Aaron.
"Karna capek aku gak bisa tidur."
"Mau aku pijit?"
Sora menggelengkan kepalanya.
"Aku mau di peluk."
Aaron tersenyum lalu melipat laptopnya,merebahkan tubuhnya dan memeluk Sora.
"Sayang bukannya tadi siang kamu mau ceritain lagi ke aku tentang keluarga Alves."
"Iya."
"Kamu jangan pernah untuk mengenal keluarga itu,sekalipun gak sengaja ketemu di acara apapun."
"Heh,segitunya banget sih, apa mereka lebih menakutkan dari kamu." Ucap Sora.
"Kamu bilang apa barusan?"
"Aku menakutkan?"
Aaron menjepit pipi Sora dengan jarinya hingga bibirnya membentuk huruf O.
Sora hanya mengangguk ganggukkan kepalanya.
Karna gemas Aaron mencium mulut Sora,dan memeluknya semakin erat.