
Pemeriksaan sudah selesai dan hasilnya sudah keluar. Semua persyaratan sudah dipenuhi Keyla, hanya tinggal menunggu operasi saja.
"Nona, ini belum terlambat. Saya akan mencari pendonor baru, anda tidak perlu melakukan ini." Suruhan Gabriel mencoba membuat Keyla merubah pikiran nya.
"Keputusan ku sudah bulat, aku akan tetap mendonorkan ginjal ku untuk suamiku. Semua persyaratan sudah terpenuhi, tidak ada lagi alasan lain yang membuat aku berubah pikiran," jelas Keyla yang masih berbaring di ranjang rumah sakit seusai pemeriksaan.
"Tuan besar akan segera datang, jika mereka tau mereka akan marah," ucap suruhan Gabriel.
"Siapa nama mu?" tanya Keyla.
"Nama saya Vano, nona."
"Jika kau tak ingin bapak mertua marah, maka jangan beritahu tentang aku yang mendonorkan ginjal ku," jelas Keyla.
"Tapi bagaimana bisa saya tak memberitahu mereka? Anda akan melakukan transplantasi ginjal dan butuh 4-6 Minggu untuk bisa kembali normal. Lalu ketika itu, bagaimana jika mereka mencari anda? Apa yang harus saya jawab?" tanya Vano dengan wajah khawatir.
"Jawablah semampu mu," jawab Keyla membuat Vano menghela nafas kasar.
"Semua sudah selesai tuan dan nyonya. Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya perawat pada Keyla dan Vano.
"Bisa," jawab Keyla mantap.
Brankar pun di dorong menuju ruang operasi. Melihat itu Vano hanya bisa berdoa semoga rumah tangga tuan muda nya baik-baik saja. Semoga Tuan dan nona nya sehat selalu.
"Semoga anda baik-baik saja, nona. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlimpah."
*****
5 Jam kemudian.
Dokter yang menangani Rafka serta Keyla sudah keluar dari ruang operasi. Vano langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana dokter?" tanya Vano tak sabaran.
"Semua berjalan dengan baik, operasi berjalan dengan lancar dan transplantasi ginjal sudah dilakukan. Hanya menunggu kedua pasien sadar saja lalu perawatan pemulihan," jawab dokter.
"Kami akan memindahkan mereka, tuan." Vano mengangguk mengerti dan membiarkan para perawat membawa Rafka dan Keyla ke ruangan perawatan yang berbeda.
Vano sengaja membedakan ruangan Rafka dan Keyla karena masih memikirkan apa alasannya nanti jika Gabriel menanyakan siapa pendonor itu dan dimana Keyla.
Ia pun masuk ke dalam ruangan dan melihat kondisi tuan nya.
"Semoga anda lekas sembuh, tuan. Nona muda pasti akan membutuhkan anda," ucap Vano.
Beberapa jam kemudian.
Gabriel dan juga Aria serta Razka sudah tiba. Buru-buru mereka ke rumah sakit tempat Rafka di rawat. Mendengar sang anak yang menderita gagal ginjal membuat keluarga kecil itu terpukul. Bagaimana bisa mereka tidak tau apa yang di derita anak mereka.
Sesampainya di ruang perawatan Rafka. Aria tak sanggup melihat putranya yang masih terbaring di atas kasur. Ia mendekat da memeluk sang putra.
"Maafkan Umi karena tidak tau, mengapa kau menyembunyikan sakit mu." Aria menangis sejadi-jadinya karena merasa bersalah, begitu juga dengan Gabriel yang tak tega melihat keadaan Rafka.
"Kata dokter semua akan baik-baik saja, nyonya. Operasi berjalan lancar, hanya tinggal menunggu tuan muda sadar saja," jelas Vano.
"Siapa orang yang sudah berbaik hati memberikan ginjalnya?" tanya Razka pada Vano membuat wajah laki-laki itu tegang.
"Itu, itu tidak dapat saya beritahu, tuan. Dia mengatakan untuk merahasiakan identitas nya," jawab Vano.
"Kalau begitu, kau tau kan siapa orangnya? Tolong berikan kompensasi padanya," sahut Gabriel.
"Akan saya lakukan, tuan."
"Lalu dimana istri bang Rafka?" tanya Razka tak melihat batang hidung Keyla.
"Anu, nona muda.. Nona kembali ke apartemen untuk mengambil pakaian ganti tuan Rafka. Baru saja nona muda pergi tadi," jawab Vano kembali berbohong.
"Kau tidak bohong, bukan? Mengapa wajahmu tegang? Apa dia kabur?" tanya Razka menatap tajam Vano.
"Tidak, tuan. Saya tidak berbohong," jawab Vano berusaha tenang.
"Kalau pun dia kabur itu bagus, setidaknya dia tak akan menjadi parasit dalam hidup Abang ku," gumam Razka terdengar di telinga Vano.
"Seandainya anda tau siapa yang sudah mendonorkan ginjal itu, pasti anda akan menarik kata-kata anda, tuan. Tabah kan lah hati anda, nona. Semua akan menjadi manis setelah perjuangan anda."
*****
Beberapa jam kemudian.
Hari sudah menjelang sore dan hampir Maghrib, Aria masih setia menemani Rafka yang masih belum sadarkan diri. Sedangkan Gabriel dan Razka pergi mencari makan.
"Eugh." Aria terkejut ketika mendengar suara Rafka. Perlahan namun pasti Aria melihat mata Rafka yang terbuka.
"Ini Umi, nak."
"Air," lirih Rafka. Dengan cepat Aria membawa air dan juga sedotan agar mempermudah Rafka untuk minum.
Selang beberapa menit, dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Rafka. Semua baik-baik saja, operas berjalan lancar dan tubuh Rafka menerima transplantasi ginjal itu.
"Untuk menjaga keamanan, ada baiknya beberapa Minggu kedepan anda jangan melakukan aktivitas berat. Anda harus menjaga ginjal ini, karena dia istimewa," jelas dokter membuat Aria dan Rafka bingung.
"Istimewa?" tanya Rafka pelan.
Tampak dokter mengangguk lalu pamit keluar meninggalkan Rafka berserta Aria.
"Dimana Abi dan Razka, Umi?" tanya Rafka.
"Mereka sedang membeli makanan," jawab Aria mengelus kepala putranya.
"Dimana Keyla?" tanya Rafka lirih.
"Hm, kata Vano istrimu ada di apartemen untuk membawakan baju ganti. Tapi, sampai sekarang dia tak kunjung datang," jawab Aria membuat Rafka tersenyum kecut.
"Apa dia kabur?" batin Rafka berkecamuk.
"Rafka," panggil Gabriel yang baru saja datang dengan dua kantong plastik makanan. Gabriel meletakkan makanan itu di atas meja lalu mendekati putranya.
"Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit? Biar Abi lihat," lirih Gabriel memeluk Rafka.
Bagi Gabriel, ia tak akan malu menangis di depan putranya kalau putranya sampai kenapa-kenapa. Karena ingatan ketika betapa menderitanya ia saat mendapatkan kedua putranya selalu terbayang apabila anak-anaknya terluka.
"Rafka tidak apa-apa, Abi. Sebentar lagi Rafka akan sembuh," ucap Rafka menenangkan sang Ayah.
"Kenapa kau merahasiakan ini?" tanya Gabriel menuntut jawaban.
"Awalnya Rafka juga tidak tau, Abi. Dulu Rafka kan tidak menjaga pola makan, Rafka suka makan makanan yang mengandung banyak garam, jarang minum air putih. Setelah tau Rafka sakit, Rafka pun berusaha merubah pola hidup Rafka, Rafka pikir Rafka akan sembuh. Ternyata malah lebih parah," jelas Rafka.
"Tapi sekarang Rafka sudah baik-baik saja, Abi. Untungnya ada orang yang berhati malaikat yang mau menolong Rafka," sambung Rafka.
"Dimana Vano?" tanya Rafka. Ia ingin bertanya tentang istrinya tapi laki-laki itu tak menampakkan wajahnya sedari tadi.
"Entahlah, sedari tadi kami tak melihatnya," jawab Razka merasa aneh. Mendengar itu Rafka hanya mengangguk, mungkin Vano sibuk mengurus istrinya yang kabur.
Di sisi lain tepatnya di sebelah ruangan Rafka. Tampak Vano sedang membantu Keyla untuk minum. Keyla baru saja sadarkan diri dan Vano selalu berada di sampingnya.
Bukannya ia tak mau berada di ruangan Rafka, tapi pemikiran nya berkata bahwa Rafka sudah di jaga oleh keluarganya sedangkan Keyla, tak ada satu orang pun yang melihatnya.
"Bagaimana keadaan suamiku?" tanya Keyla pelan.
"Tuan Rafka baik-baik saja, nona. Dia sudah siuman," jawab Vano.
"Apa mereka menanyakan ku?" tanya Keyla lagi.
"Iya, nona. Tapi saya sudah mengatakan kalau anda kembali ke apartemen untuk mengambil pakaian," jawab Vano berusaha tenang. Ia tahu pastinya keluarga Gabriel menaruh curiga dan menyangka Keyla kabur. Tapi ia tak mau menyampaikan itu pada Keyla agar wanita itu bisa tenang.
"Baguslah kalau dia baik-baik saja," lirih Keyla tersenyum senang. Tak terasa bulir air mata mengalir membasahi kelopak matanya.
"Kenapa anda menangis, nona? Apa ada yang sakit?" tanya Vano.
"Aku bahagia, aku bahagia karena aku menjadi seseorang yang berguna. Aku harap dia bisa hidup dengan baik, aku harap dia selalu bahagia. Suamiku orang yang baik, dia pantas untuk hidup dengan baik." Mendengar itu, Vano hanya bisa menunduk. Ia menjadi bingung dengan kondisi sekarang. Apa yang harus ia lakukan.
"Anda juga orang baik, nona. Anda pantas untuk hidup dengan baik juga."
_
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.