Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 139 - Sempurna


Dikaruniai istri secantik Zalina dan dua buah hati yang lucu adalah anugerah terbesar yang pernah Sean terima. Terlebih saat ini sang istri tengah mengandung anak ketiganya. Perbedaan antara mereka memang cukup kontras, Zalina yang lurus-lurus saja dipertemukan dengan Sean, pria dengan jalan pikiran yang sama sekali tidak bisa ditebak.


Masalah yang kemarin cukup dijadikan pelajaran, Zalina tidak marah andai Sean mengutarakan dengan benar apa maunya. Jika saja Sean tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, mungkin Zalina tidak akan menyelesaikan masalah dengan masalah juga.


Seperti yang Zalina katakan kemarin, dia akan belajar menjadi wanita sempurna untuk Sean. Walau sesekali mual itu muncul ketika berada di dekat sang suami, Zalina mencoba membiasakan diri. Toh ketika hamil pertama dia tidak merasakan mual berlebihan, anggap saja nikmat yang harus dia terima.


"Apa perlu jaga jarak lagi? Kamu mual terus dari tadi," tutur Sean menatapnya tidak tega.


Kemarin-kemarin Sean yang kesal luar biasa karena harus berjarak lebih dari satu meter bersama Zalina. Namun, melihatnya begini tiba-tiba merasa bersalah. Seketika Sean merasa dirinya terlampau egois, bahkan mungkin sangat egois.


"Mendingan kok, Mas, sepertinya bukan karena mas saja ... tadi pas di dapur aku mual juga," jawab Zalina seadanya, memang benar demikian. Terlebih lagi kala abinya membuka durian terakhir di hadapan Zalina.


"Yakin? Kalau masih mual pakai saja maskernya tidak masalah, mas tidak akan tersinggung."


"Yakin ... aku tidak tahu kapan selesainya, jadi lebih baik biasakan diri saja."


Benar juga, beberapa hari lalu Sean sempat menghubungi Mikhayla. Jawaban wanita itu cukup membuat Sean sedikit menyesal bertanya, dengan tegas Mikhayla mengatakan jika kemungkinan besar istrinya akan normal setelah melahirkan.


Andai Zalina berbulan-bulan seperti kemarin Sean mana mungkin sanggup. Agaknya jalan yang mereka ambil saat ini sudah cukup tepat, Sean menggunakan semua milik istrinya. Sabun, shampo, parfum bahkan body lotion juga demikan. Meski belum pasti, tapi mungkin dengan cara itu mual sang istri sedikit berkurang.


Malam sudah sangat larut, Zalina belum menunjukkan tanda-tanda ingin terlelap. Sejak tadi pandangannya hanya fokus ke layar ponsel, memeriksa galeri foto yang hanya berisikan kenangan mereka.


"Zalina," panggil Sean sembari memainkan rambut sang istri yang tergerai indah di atas dadanya.


"Iya, kenapa, Mas?" tanya Zalina menatap sang sami yang sejak tadi dia jadikan tempat bersandar.


"Hm besok puasa ... berarti puasa pertama kita sama-sama, 'kan?"


Zalina mengangguk, tahun ini adalah tahun pertama mereka menjalankan ibadah di atap yang sama. Dahulu, mereka belum sempat merasakannya, sekalipun hari pertama.


"Berarti mas harus siap obat masuk angin dong," ucap Sean mengerutkan dahi, bukankah di penjara lebih rentan masuk angin, pikir wanita itu.


"Kenapa begitu? Bukannya mas kuat puasa?"


"Karena nanti pasti akan ada masanya kita mandi sebelum sahur, kan dingin, Na ... pagi saja dingin."


Seketika Zalina menghela napas kasar, dia pikir apa. Sempat berpikir jika Sean akan menceritakan bagaimana perasaannya ketika puasa tanpa Zalina. Jujur, air mata Zalina sudah bersiap untuk keluar dari persembunyiannya. Namun, begitu mendengar ucapan sang suami mungkin air matanya mendadak putar balik.


"Gampang, nanti aku minta minyak angin Abi ... panasnya sampai ubun-ubun jadi mas tidak akan kedinginan walau mandi tengah malam."


"Benarkah?"


"Iya."


Lima menit berlalu, Zalina masih terus memandangi kenangan bersama Sean di ponsel sang suami. Padahal, selama sang suami di penjara memang hanya itu yang Zalina lakukan, dan kegiatan itu menjadi kebiasaan.


Sementara Sean yang sejak tadi hanya memandanginya, lama-lama gerah juga. Terlebih lagi saat ini Zalina sedikit jinak padanya. Perlahan tapi pasti tangan Sean yang sejak tadi mengusap rambut, kini turun menyusuri wajah dan leher sang istri.


"Aman," batin Sean sebelum kemudian menurunkan tangannya, selain bertindak dia juga memahami situasi.


Mendapati Zalina tidak menepis tangannya, Sean kembali menurunkan tangannya dan pria itu menggigit bibir sebelum sampai di tujuannya. Hingga, dia menghela napas lega ketika berhasil mendarat di sumber air kedua buah hatinya.


Jika sudah tiba mana mungkin diam saja, tangannya sangat singkron dengan otak hingga Zalina menghadap ke arahnya dengan bola mata yang kini membola. Jelas saja dia butuh penjelasan, mana mungkin tidak.


"Khilaf," ucap Sean segera menarik tangannya, khawatir jika mata Zalina tengah menunjukkan kemarahannya.


Namun, kekhawatiran Sean tampaknya salah. Wanita itu merubah posisi hingga keduanya saling menatap. "Tidak sengaja, Na ... sumpah."


"Mas mau itu?" tanya Zalina seketika membuat Sean terperanjat kaget.


"Itu apa?"


"Aku sudah lama tidak memberikan hakmu, Mas."


Dia menawarkan diri? Jelas tidak akan berpikir dua kali. Seketika senyumnya terbit, tanpa pikir panjang pria itu beranjak dan berlari ke meja hias Zalina. Sudah tentu yang dia ambil parfum sang istri, akan tidak lucu jika di tengah permainan istrinya muntah.


Sean begitu tergesa-gesa, dia merangkak naik ke atas ranjang dengan tatapan penuh damba yang tidak lagi bisa dia tunda. Sejak kemarin tersiksa, dan kini Zalina memberikan izinnya.


"Ayo, Sa_"


"Bentar, Mas ... hpnya bunyi," ucap Zalina menahan kening Sean yang hendak mengikir jarak dengannya.


"Ck, siapa lagi? Telpon malam-malam begini, dasar pengganggu!! Matikan saj_"


"Papa, Mas ... aku tidak berani," ucap Zalina memberikan ponsel sang suami, jika yang menghubungi adalah layanan kredit mungkin Zalina berani tolak, tapi kali ini tidak lagi.


"Ya Tuhan, Papa ... benar-benar tidak bisa melihat anaknya senang."


.


.


- To Be Continued -